Banyuwangi Festival

Klik untuk memperbesar
Powered by Blogger.

Tradisi Tumpeng Sewu, Merawat Kearifan Lokal Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 26 September 2014 | 12:35 AM

Tradisi Tumpeng Sewu desa Kemiren, Banyuwangi.Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (25/9) menggelar tradisi Tumpeng Sewu. Tumpeng Sewu adalah ritual adat selamatan massal yang digelar di Desa Kemiren, salah satu basis Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Tujuannya, bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahanan yang mereka terima.

Tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala (menghindarkan dari segala bencana dan sumber penyakit). “Kalau ritual itu ditinggalkan, maka akan berdampak buruk kepada masyarakat Desa Kemiren, sehingga warga Osing menjaga tradisi itu hingga turun temurun,” kata sesepuh adat Desa Kemiren, Juhadi Timbul.

Ritual tumpeng sewu ini ditandai dengan kegiatan di mana setiap rumah membuat nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Osing, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur kelapa). Makanan itu lantas ditaruh di depan rumah.

Bentuk mengerucut ini memiliki makna khusus, yakni petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni "ngucel-ucel barang sithik". Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), Tumpeng Sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum makan bersama, warga Desa Kemiren mengawalinya salat maghrib berjamaah dan doa bersama. Usai makan bersama, warga membaca Lontar Yusuf (Surat Yusuf) hingga tengah malam di rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Lontar Yusuf yang merupakan rangkaian dari ritual ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf.

Melengkapi tradisi Tumpeng Sewu, pada siang hari, warga desa melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara masal. Uniknya, semua kasur yang dijemur berwarna hitam dan merah. Warga Suku Osing beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing-masing agar terhindar dari segala jenis penyakit. Penjemuran kasur ini bisa ditemui di sepanjang jalan Desa Kemiren, mulai pagi hingga sore. "Juga akan digelar selamatan desa di makam Buyut Cili, leluhur desa," kata dia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, tradisi Tumpeng Sewu ini bagian dari upaya merawat tradisi. "Kearifan lokal yang harus terus dirawat. Kearifan lokal sejatinya menyangga dan mendukung jalannya kehidupan ini," kata Azwar Anas.
Gatra.com
12:35 AM | 0 comments | Read More

Entaskan Buta Aksara, Banyuwangi Peroleh Anugerah Aksara Madya

Banyuwangi raih penghargaan Anugerah Aksara Madya 2014
Komitmen Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat melalui pemberantasan buta aksara, mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Kabupaten The Sunrise of Java ini menerima penghargaan Anugerah Aksara Madya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghargaan diserahkan langsung Menteri M. Nuh kepada Pemkab Banyuwangi yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Sulihtiyono pada upacara puncak peringatan Hari Aksara Internasional ke-49 tingkat Nasional Tahun 2014, Sabtu (20/9) di Grand Clarion Hotel Kendari, Sulawesi Tenggara.

Penghargaan Anugerah Aksara Madya ini diberikan kepada Gubernur, Bupati, Walikota dan tokoh masyarakat yang telah memberikan komitmen dalam pengentasan buta aksara di daerahnya dengan capaian penuntasan penduduk buta aksara 95%. Bersama-sama dengan Banyuwangi ada dua kabupaten lain yang juga mendapatkan penghargaan yang sama yaitu Bupati Pangkajene dan Kepulauan dari Provinsi Sulawesi Selatan serta Bupati Sijunjung dari Sumatera Barat.

“Tidak hanya pembangunan infrastruktur dan kemajuan ekonomi yang menjadi prioritas pemerintah dalam membangun Banyuwangi, namun juga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi perhatian utama yang terus kami upayakan. Alhamdulillah ikhtiar kami untuk mengurangi jumlah penduduk buta aksara telah mampu mengurangi jumlah buta aksara dengan signifikan,” kata Bupati Anas. 

Pada tahun 2011, penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi mencapai 59.985 jiwa hingga masuk ke dalam zona merah buta aksara di Provinsi Jawa Timur. Melalui pendataan ulang Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2013 jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 47.335 jiwa. Jumlah penurunan ini dianggap masih jauh dari harapan. Untuk mengejar ketertinggalan ini maka pada awal tahun 2014 daerah paling ujung timur Pulau Jawa ini pun mencanangkan Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (Gempita Perpus). Program ini dituangkan dalam Peraturan Bupati Nomor 4 tahun 2014. 

“Pencanangan ini kami lakukan sebagai program percepatan pemberantasan buta aksara. Selain buta aksara, program ini juga ingin mengentaskan masyarakat dari buta tulis dan buta berhitung (tributa),” terang Bupati.

Peraturan Bupati ini kemudian ditindak lanjuti secara cepat dengan program massal warga belajar yang diselenggarakan di sekolah-sekolah, di kantor-kantor desa hingga di rumah-rumah warga. Semua pihak berperan menjadi pengajar bagi penduduk di sekitarnya yang masih buta aksara. “Dalam waktu 5 bulan melalui program Gempita, telah berhasil menurunkan angka buta aksara sebanyak 35.598 orang,” tutur Bupati Anas.

Dilanjutkan Bupati banyaknya jumlah warga buta aksara yang terlepas dari buta aksara   berkat keterlibatan berbagai elemen yang ikut terjun sebagai pengajar di wilayah masing-masing. Seperti Camat, forum pimpinan kecamatan, babinsa/babinkamtibmas, lurah/kepala desa, kepala dusun, ketua rt/rw, penilik, pengawas dan guru se-Kabupaten Banyuwangi. “Kami berterima kasih atas peran serta berbagai pihak yang ikut terjun langsung mengentaskan penduduk buta aksara dengan menjadi pengajar di wilayahnya masing-masing,” cetus Bupati.

Saat ini jumlah penduduk buta aksara masih tersisa  11.737 jiwa atau 0,7% dari total penduduk Banyuwangi. Pemkab pun terus berkomitmen untuk menuntaskan jumlah tersebut hingga tidak ada lagi penduduk Banyuwangi buta aksara. “Dengan kerjasama semua pihak kami menargetkan akhir tahun ini penduduk buta aksara di Banyuwangi sudah terentaskan,” pungkas Bupati Anas.
Gatra.com
12:20 AM | 0 comments | Read More

Produktivitas Kedelai Banyuwangi Tertinggi di indonesia

Banyuwangi Bagus on 24 September 2014 | 12:18 AM

Produksi kedelai Banyuwangi paling tinggi di Indonesia
Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Banyuwangi, sektor pertanian tak lantas diabaikan. Selain dikenal sebagai lumbung padi, kabupaten terluas di Jawa Timur ini juga dikenal sebagai salah satu basis penghasil kedelai.

"Produktivitas kedelai di Banyuwangi ini termasuk yang tertinggi di Indonesia. Ini berkat para petani kedelai punya jasa besar karena kedelai lokal ini bisa menjadi substitusi impor, sehingga impor kedelai nasional tidak semakin bertambah besar," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berdialog dengan petani kedelai di Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Selasa (23/9/2014).

Luas lahan kedelai di Banyuwangi mencapai 34.021 hektar. Pada 2013, produksi kedelainya mencapai 67.441 ton, tumbuh sekitar 15 persen dibanding 2012 sebesar 58.648 ton. Banyuwangi menyumbang lebih dari 24 persen terhadap total produksi kedelai di Jatim.

"Alhamdulillah produktivitas kedelai di Banyuwangi selalu naik. Dulu 2010 hanya 17,57 kuintal per hektar, tahun 2013 sudah 19,82, sekarang hingga Juli tahun ini sudah mencapai 20,16 kuintal per hektar," jelas Anas.

Anas menambahkan, Pemkab Banyuwangi melakukan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian. Pendampingan ini berlaku untuk semua jenis tanaman, baik tanaman pangan seperti padi dan kedelai maupun tanaman hortikultura seperti sayur dan buah.

"Paradigma penyuluh pertanian perlahan diganti, tidak lagi hanya mencangkokkan teori hasil kuliahnya ke petani atau bersifat top down, tapi lebih ke menyerap problem petani atau bottom up. Karena kan problem petani beda, beda orang beda lahan beda problemnya tentu saja," ujarnya.

Penggunaan varietas unggul juga dilakukan untuk meningkatkan kinerja produktivitas lahan. Varietas kedelai unggul ini penting karena bisa mengompensasi ancaman penurunan luasan lahan.

Terkait harga yang fluktuatif, Anas berharap ada jalan tengah. Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat mengendalikan tata niaga dengan baik, terutama pengendalian kedelai impor.

"Yang menjadi PR kita sekarang ialah tata niaga harga dan sirkulasi kedelai di pasar lokal. Bagaimanapun kita juga harus melindungi pasar lokal tanpa harus mengabaikan industri hulu dan hilir yang memanfaatkan bahan baku kedelai," tandasnya.

Produktivitas lahan kedelai di Banyuwangi mencapai 19,82 kuintal per hektar pada 2013. Angka produktivitas kedelai di Banyuwangi itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas kedelai secara nasional sebesar 14,16 kuintal per hektar atau di Jatim 15,64 ton per hektar.

Detik.com
12:18 AM | 0 comments | Read More

Segmentasi Pasar Sektor Pariwisata Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 16 September 2014 | 12:04 AM

Pantai Pulau Merah, Banyuwangi.
Kabupaten Banyuwangi mendesain segmentasi wisatawan yang akan dibidik untuk berkunjung ke daerah di ujung timur Pulau Jawa itu. Segmen wisatawan yang diincar adalah kaum perempuan, anak muda, dan pengguna internet (netizen).

"Segmentasi pasar dilakukan agar pengembangan sektor wisata lebih fokus," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Segmentasi wisatawan di Banyuwangi didesain berdasarkan karakter demografi dan psikografi. "Kami membidik pasar yang potensial. Segmentasi berdasarkan demografi merujuk pada usia dan jenis kelamin wisawatan. Sedangkan psikografi lebih kepada gaya hidup, nilai-nilai yang dipercayai, dan kepribadian pasar," kata Anas.

Dari segmentasi itu, lanjut Anas, ada tiga segmen konsumen yang dibidik, yaitu kaum perempuan, anak muda, dan pengguna internet (netizen). Tiga klasifikasi konsumen itu punya pasar yang sangat besar. Jumlah perempuan di Indonesia hampir 120 juta jiwa.

Jumlah anak muda (16-30 tahun) mencapai 62 juta jiwa. Adapun pengguna internet 82 juta. "Ketiga segmen pasar tersebut saling beririsan. Namun, ketiganya tetap memerlukan pendekatan pemasaran yang spesifik," jelas Anas.

Untuk segmen perempuan, Banyuwangi mempunyai event wisata Festival Batik. "Kaum perempuan ini penting, karena sangat memegang pengaruh keputusan keluarga dalam berwisata. Kalau sudah bisa menggaet kaum ibu ini, satu keluarga bisa ikut semua. Kami tinggal menyiapkan event pendamping, ada wisata pantai atau ke pegunungan. Dan itu yang kami harapkan karena family tourism dampaknya besar. Belanja family tourism lima kali lebih besar daripada wisatawan individu," ujar Anas.

Untuk segmen anak muda, sambung Anas, Banyuwangi melaksanakan beberapa event wisata, seperti selancar, selancar layar, selancar angin, maupun balap sepeda. Banyuwangi juga punya wisata berkonsep adventure yang cocok untuk jiwa muda, yaitu ke Teluk Hijau, Pulau Tabuhan, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo.

"Yang berkonsep non-alam, kami punya festival jazz pantai hingga Banyuwangi Art Week untuk anak muda," tambah Anas. Adapun kaum pengguna internet alias netizen, dijadikan medium untuk mempromosikan wisata. Banyuwangi memasarkan wisata lewat aplikasi Android yang dinamai Banyuwangi Tourism di telepon pintar. Selain itu, sarana media sosial seperti Twitter,

Youtube, Path, Insyagram kami optimalkan. "Sekarang ini rekomendasi dan foto-foto selfie yang di-upload di dunia maya sangat memengaruhi keputusan orang dalam berwisata," papar Anas.

Untuk pasar para netizen, secara berkala Banyuwangi juga menyelenggarakan lomba foto dan tulisan bagi blogger, sehingga menarik mereka untuk berkunjunga. "Kami telah memasang sekitar 1.300 titik wifi di seluruh Banyuwangi, di tempat-tempat wisata, taman, dan fasilitas publik lain," tuturnya.

Anas mengatakan, berkat promosi dan segmentasi yang digarap berkelanjutan, kunjungan wisatawan terus naik. Pada 2013, jumlah wisatawan domestik yang mengunjungi tempat-tempat wisata di Banyuwangi mencapai 1,057 juta, meningkat 22 persen dibanding 2012 sebesar 860.831 orang.

Untuk wisatawan asing, kunjungannya pada 2013 sebesar 10.462 orang, naik 90,14 persen dibanding 2012 sebesar 5.502 orang. Berdasarkan survei independen, belanja wisatawan asing di Banyuwangi sebesar Rp 2 juta per hari per orang, sehingga dari wisatawan asing ada devisa yang masuk sekitar Rp 52 miliar.

"Belanja itu belum termasuk yang dikeluarkan wisatawan domestik yang karakteristik belanjanya lebih besar dibanding wisatawan asing, karena wisatawan domestik beli oleh-olehnya pasti lebih besar," pungkas Anas
12:04 AM | 1 comments | Read More

Setelah 9 tahun, Kabupaten Banyuwangi Raih Penghargaan Wahana Tata Nugraha

Banyuwangi Bagus on 11 September 2014 | 9:42 PM

Kabupaten Banyuwangi meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha 2014 bidang lalu lintas untuk kategori Kota Sedang.
Kabupaten Banyuwangi, meraih penghargaan WahanaTata Nugraha (WTN) bidang lalu lintas dari Kementrian Perhubungan untuk kategori Kota Sedang. Penghargaan diserahkan langsung Menteri Perhubungan EE Mangindaan kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Rabu (10/9).

Menhub EE Mangindaan mengatakan, penghargaan WTN diberikan pemerintah pusat kepada kabupaten/kota yang mampu menata transportasi publik dengan baik. Penghargaan ini menilai sejauh mana perhatian sekaligus kinerja pemerintah daerah dalam mewujudkan transportasi yang berkelanjutan, berbasis kepentingan publik, dan ramah lingkungan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penghargaan yang diterima oleh Banyuwangi ini berkat peran serta masyarakat daerah berjulu The Sunrise of Java itu dan konsistensi pemerintah daerah dalam menata daerah secara menyeluruh.

”Kita ingin memiliki daerah yang indah, hijau, rapi, sekaligus aman dan nyaman bagi seluruh warga dan pengendara lalu lintas,” kata Bupati Anas. Dia mengatakan, penghargaan WTN ini merupakan prestasi yang membanggakan karena sudah 9 tahun Banyuwangi tak punya prestasi di bidang penataan lalu-lintas.

Sejumlah inovasi dan kemajuan bidang transportasi di Banyuwangi antara lain penggunaan lampu lalu-lintas tenaga surya, kelengkapan sarana-prasarana, penyediaan jalur pesepeda, dan konsep terminal pariwisata terpadu yang kini tengah dirintis pembangunannya di Banyuwangi.

”Penghargaan Wahana Tata Nugraha ini merupakan prestasi yang membanggakan karena sudah 9 tahun Banyuwangi tak punya prestasi di bidang transportasi,” ujar Anas.

Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi Suprayogi menambahkan, ketertiban pengguna jalan seperti menyalakan lampu kendaraan di siang hari, pemakaian helm dan ketertiban parkir juga menjadi salah satu penilaian.

Ada pula dukungan pemerintah daerah dari alokasi anggaran serta berbagai kebijakan perencanaan lalu-lintas yang berimplikasi jangka panjang. Rencana Pemkab Banyuwangi membangun terminal pariwisata terpadu menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam penilaian WTN.

”Terminal ini nantinya akan menyediakan kendaraan bagi wisatawan yang hendak mengunjungi berbagai destinasi wisata di Banyuwangi. Di tempat ini wisatawan juga sekaligus bisa berbelanja aneka oleh-oleh dan kerajinan Banyuwangi. Konsep ini dianggap sangat kreatif sehingga menambah nilai positif penilaian WTN,” terang Suprayogi.

Selain itu, rencana jangka panjang pembangunan terminal terpadu antar moda juga menjadi keunggulan Banyuwangi. Konsep terminal yang menghubungkan armada kapal laut, kereta api, dan bus umum ini dianggap sebagai rencana jangka panjang yang layak dan akan membawa banyak manfaat bagi pengunaan moda angkutan umum. ”Kita berharap terminal antar moda mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan bisa segera direalisasikan,” pungkas Suprayogi.

Jpnn.com
9:42 PM | 0 comments | Read More