Perusahaan Singapura Bangun Kilang Kondensat di Kawasan Industri Kampe

Banyuwangi Bagus on 24 August 2015 | 9:10 PM

Perusahaan Singapura Bangun Kilang Kondensat di kawasan industri Kampe, Banyuwangi
Perusahaan energi asal Singapura, Nusantara Energy Resources (NER) akan membangun fasilitas kilang pengolahan (mini refinery) di Kampe Industrial Estate Banyuwangi, Jawa Timur.

Melalui anak usahanya Nusantara Energy Plant Indonesia (NEPI), Nusantara Energy akan membangun kilang pengolahan kondensat menjadi avtur dan bahan bakar minyak (BBM).

"Kapasitasnya 25 ribu sampai 30 ribu bpd (barel per day) condensate. Nantinya condesate diproses jadi mogas dan avtur," ujar Junaidi Elvis, Presiden Direktur NEPI kepada CNN Indonesia, Senin (24/8).

Untuk menjamin pasokan kondensat, Junaidi mengatakan, NEPI akan bekerjasama dengan Vitol Group, perusahaan trader minyak asal Belanda. Adapun proyek yang pembangunannya akan dimulai tahun depan tersebut bakal menjadi kilang pengolahan kondensat pertama di Indonesia yang pengoperasiannya dilakukan oleh swasta.

"Benar, ini yang pertama dari swasta. Sementara feedstock-nya kami dapatkan dari Vitol untuk jangka panjang," tutur Junaidi.

Tak hanya kilang pengolahan, kata Junaidi, pihaknya juga berencana membangun LNG floating storage (FSRU) berkapasitas 100 ribu MT (metric ton) dan pembangkit listrik berkapasitas 1.000 megawatt (MW) di Kampe Industrial Estate Banyuwangi.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Nusantara Energy akan  menggelontorkan investasi sebesar US$ 1,6 milliar yang dananya diperoleh dari kas internal.

"Investasi akan dari group sendiri yakni NER Group Singapore lantaran NEPI adalah perusahaan PMA anak perusahaan NER Group," jelasnya. 

Cnnindonesia.com
9:10 PM | 0 komentar | Read More

Dinilai Peduli Anak, Banyuwangi Raih KPAI Award

KPAI beri penghargaan pada Pemkab Banyuwangi atas program perlindungan anak di Banyuwangi.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan penghargaan kepada Pemkab Banyuwangi yang dinilai telah melakukan langkah-langkah dalam melindungi hak anak. Penghargaan tersebut diberikan kepada masyarakat Banyuwangi yang diwakili Bupati Abdullah Azwar Anas di Jakarta akhir pekan lalu yang dihadiri berbagai tokoh nasional.

"Setelah melalui seleksi dan verifikasi, kami menilai Banyuwangi layak untuk diapresiasi. Program perlindungan hak anak seperti Lahir Procot Pulang Bawa Akta dan beragam beasiswa cukup bagus dijalankan," ujar Ketua KPAI Asrorun Niam melalui siaran persnya, Ahad (23/8).

Menurut Asrorun, keberpihakan terhadap hak anak harus terus didorong demi masa depan negeri. "Prinsip kepentingan terbaik bagi anak perlu diterapkan dalam setiap perencanaan dan kebijakan program pemerintah," jelas Asrorun.

Sesuai dengan Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hak anak terdiri atas lima aspek, yaitu hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan; pendidikan dan kegiatan budaya; serta perlindungan khusus. Di Banyuwangi, lima aspek tersebut coba terus dipenuhi oleh pemerintah daerah setempat. "Karena itu kami mengapresiasi," ujarnya.

Untuk hak sipil dan kebebasan, salah satunya terdapat program "Lahir Procot Pulang Bawa Akte". Program ini menggaransi anak untuk mendapat akte kelahiran dalam waktu singkat berbasis pada sistem dalam jaringan alias online. Layanan ini bisa didapatkan di seluruh Puskesmas, rumah sakit daerah dan swasta di Banyuwangi. Tidak hanya akte kelahiran, layanan ini juga menerbitkan kartu keluarga sehingga memudahkan warga tanpa harus mengurusnya sendiri ke kantor kecamatan dan dinas terkait.

Republika.co.id
9:00 PM | 0 komentar | Read More

Barong Osing dan Gandrung Banyuwangi Tampil di Festival Museum Frankfurt

Barong Osing dan gandrung tampil di festival museum di Frankfur
Indonesia akan menjadi theme country di Festival Museum atau Museumsuferfest di Frankfurt, Jerman pada 28-30 Agustus 2015. Sederet penyanyi muda hingga musisi kontemporer dari Tanah Air akan mengisi acara tersebut. Uniknya, kesenian tradisioal pun tak ketinggalan untuk diusung, yakni seni pertunjukan asal Banyuwangi, Jawa Timur.

Kesenian barong Osing dan gandrung Banyuwangi akan muncul sebagai alternatif dari tampilan-tampilan kontemporer Indonesia di festival seni budaya terbesar di Eropa yang digelar di sepanjang sungai Main, Frankfurt tersebut. Kehadiran Indonesia di acara tersebut merupakan bagian dari penunjukan sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, Oktober nanti.

Komite Pertunjukan, Pameran dan Seminar (KPPS) Indonesia untuk Frankfurt Book Fair yang dipimpin Slamet Rahardjo telah memutuskan akan membawa dan menampilkan kesenian dari Banyuwangi tersebut. Anggota KPPS Endo Suanda, yang juga ahli etnomusikologi dan seni pertunjukan Indonesia berandil besar untuk memastikan barong Osing dan gandrung dari Banyuwangi bisa berangkat ke Frankfurt.

Apa alasannya? “Barong Bali semua tahu. Saman yang rampak makin memasyarakat, tari-tari Minang sering jadi sumber untuk koreografi baru yang mutakhir, tari Jawa banyak dipelajari, diteliti, dan ditulis orang asing, tapi tidak dengan Barong Banyuwangi," papar Endo saat ditemui di sela kesibukannya mengawasi latihan di Salihara, Jakarta.

Di Museumsuferfest nanti, Barong Osing Banyuwangi akan tampil bersama legenda kesenian Gandrung, Temu Misti. “Mungkin inilah pertama kali Ibu Temu keluar negeri, tampil bersama dengan Barong di perhelatan budaya penting Eropa, bahkan dunia,” tambah Endo.

Temu Misti adalah legenda hidup Banyuwangi. Dialah salah satu orang yang paling berperan atas masih bertahannya kesenian gandrung. Saking vitalnya posisi dan peran Mbok Temu, demikian ia bisa disapa, kesenian gandrung pun seperti disinonimkan dengan namanya yakni Gandrung Temu.

Selain barong dan gandrung, dari Indonesia akan tampil juga grup Kua Etnika yang dipimpin oleh Djaduk Ferianto, Dwiki Dharmawan, bonita and the husBand, Orkes Melayu Banter Banget, Dira Sugandi dan JFlow.

Detik.com
8:44 PM | 0 komentar | Read More

Green Airport Banyuwangi Beroperasi Maret Tahun Depan

Banyuwangi Bagus on 22 August 2015 | 9:25 AM

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, keberadaan terminal Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang berkonsep green airport, jika sudah beroperasi akan mendongkrak jumlah wisatawan.

"Perkembangan jumlah penumpang di bandara kami juga semakin meningkat," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/8).Pembangunan terminal Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang berkonsep green airport sendiri ditargetkan rampung pada akhir tahun ini dan mulai dioperasionalkan pada Maret 2016.

Pembangunan terminal bandara Blimbingsari, lanjutnya, dibangun dengan konsep green building yang memanfaatkan energi alami seperti  memanfaatkan pencahayaan matahari sebagai penerang ruangan di siang hari.Nantinya, ia katakan, terminal yang diarsiteki Andra Matin didesain tanpa AC, kecuali di ruangan tertentu. Ia menambahkan, aliran air juga ikut membantu menyejukkan udara.

"Hanya 25 persen ruangan yang memanfaatkan AC. Sirkulasi udara diatur dengan kisi-kisi dan lebih banyak ruang terbuka," katanya.

Anas berkaca dari Bandara Samui di Thailand yang juga berkonsep green airport. Di Pulau Samui tersebut, kata dia, lebih dari 3 ribu turis per hari datang dengan jumlah 36 penerbangan per hari.

Sedangkan di Bandara Banyuwangi sendiri, pada 2011, jumlah penumpang baru mencapai ribu orang, lalu meningkat menjadi 24 ribu orang pada 2012, dan melonjak menjadi 44 ribu pada 2013. Angka itu, sambungnya, terus melonjak menjadi 87 ribu orang pada 2014. Sedangkan, sampai Juni 2015 sudah 60 ribu orang.

"Kenaikan jumlah penumpang 1,142 persen dari 2011 ke 2014. Ini setelah kami promosi wisata. Nah setelah green airport itu nanti beroperasi dan menjadi landmark, pasti wisatawan akan melonjak drastis," jelasnya.

Dengan bandara hijau, ia mengaku ingin lebih hemat. Saat bandara daerah lain butuh dana Rp 300 miliar untuk bangun bandara, Banyuwangi cukup sekitar Rp 40 miliar, dan dari segi pemeliharaannya juga lebih murah.

Anas menambahkan, selain konsep hijau, arsitektur Bandara Blimbingsari Banyuwangi juga mengadopsi kearifan lokal, yaitu arsitektur khas Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Atap bandara juga mengadopsi penutup kepala khas masyarakat Suku Osing.

"Kami juga mengakomodasi budaya masyarakat, jadi nanti pengantar tidak bergerombol di terminal, tapi ada ruang khusus untuk para pengantar," tegasnya.

Republika.co.id

9:25 AM | 0 komentar | Read More

Poliwangi Serahkan Aset Rp 5,3 Miliar ke Kemenristek Dikti Untuk Pengembangan Pendidikan

Banyuwangi Bagus on 21 August 2015 | 10:25 AM

Poliwangi buka prodi Pengelasan dan Jaringan.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyerahkan aset Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) kepada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Aset yang diserahkan berupa aula Poliwangi dan landscape yang nilainya mencapai Rp 5,3 miliar.

"Dengan penyerahan aset berarti Poliwangi telah menjadi bagian dari 127 perguruan tinggi negeri di Indonesia yang dikelola oleh Kemenrisetdikti," ujar Direktur Poliwangi, Asmuji, saat dihubungi, Kamis (20/8/2015).

Dia menjelaskan, aset yang diserahkan termasuk semua sertifikat-sertifikat tanah dan bangunan yang ada di Poliwangi. Total luas lahan Poliwangi saat ini yang diserahkan sejumlah 9,5 hektar.
"Penyerahan aset dan sertifikat ini sangat penting sekali artinya bagi Poliwangi karena memberikan kepastian hukum bagi keberlangsungan pengembangan pendidikan Poliwangi kedepan," kata Asmuji.

Dia juga menjelaskan, untuk pengembangan Poliwangi ke depannya, dia telah mengajukan 40 hektar lahan kepada kementerian melalui dana APBN untuk perluasan Poliwangi.

Asmuji menjelaskan, dengan adanya kepastian hukum tersebut, Kemenristekdikti akan leluasa dalam mengembangkan berbagai program studi.

"Ada dua prodi yang merupakan amanat langsung dari Menteri Ristekdikti yang akan di keluarkan oleh Poliwangi yakni Prodi Pengelasan dan Jaringan," pungkas Asmuji.

Menurut Asmuji, Kementrian telah memiliki banyak rencana pembangunan di lokasi tersebut. "Misalnya saja kementrian mempunyai rencana untuk membangun berbagai laboratorium sains terapan untuk mendukung program studi yang baru disini. Seperti Laboratorium bidang agribisnis, dan pariwisata," katanya.

Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi Fajar Suasana berharap pendidikan di Poliwangi akan semakin maju baik secara kualitas maupun kuantitas. "Kami berharap Poliwangi akan menyumbangkan SDM yang berkulitas bagi Banyuwangi dan menjadi magnet baru pendidikan bagi mahasiswa baru dari daerah lain sehingga ikut menjadi kan daerah lebih maju," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Jatmiko mengatakan, kementrian akan menghilirisasi kegiatan-kegiatan riset dan praktek industri untuk lebih dikembangkan lagi. "Ini sesuai dengan amanat Menteri Ristekdikti di mana kita ingin perguruan tinggi daerah dapat terus berkembang," katanya.

Kompas.com, Beritajatim.com
10:25 AM | 0 komentar | Read More

Wisata Ijen di Banyuwangi Dikaji Wantannas

Banyuwangi Bagus on 20 August 2015 | 6:45 PM

Wisata kawah Ijen dikaji oleh Wantannas untuk dikembangkan.
Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) datang ke Banyuwangi untuk menganalisis sejumlah potensi wisata berbasis alam, untuk dikaji kelayakannya menjadi sebuah obyek wisata.

Wantannas bertugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan pembinaan ketahanan nasional guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia.

 Kami tak akan pernah berhenti mengembangkan pariwisata Banyuwangi, termasuk untuk menjadikan sektor pertanian sebagai bagian menarik di dalamnya untuk diexplore. Dan pendidikan jadi bagian untuk menjadikan SDM-nya terdidik dan bisa mengembangkan pariwisata Banyuwangi menjadi lebih baik, " Azwar Anas.

Sekretaris Jendral Wantannas Letjen TNI Waris mengatakan, pihaknya datang khusus ke Banyuwangi untuk melakukan observasi dan survey potensi alam Banyuwangi, khususnya Gunung Ijen. Ijen yang termasuk salah satu gunung berapi di Indonesia ini akan dianalisis untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai obyek wisata.

“Kami terinspirasi dengan gunung api di Ekuador yang menjadi obyek wisata andalan. Ijen dengan segala kekhasan fenomena alamnya akan kami kaji lebih lanjut untuk dikembangkan lebih luas. Saat ini kan terkenal dengan blue firenya, bisa saja ada hal lain yang bisa dieksplore lebih,” ujar Letjend Waris saat diterima Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendopo.

Hal lain yang memicu kedatangan Wantannas ke Banyuwangi adalah konsep ekowisata yang diusung Banyuwangi. “Ini ada kekhasan tersendiri karena pengembangan wisatanya bersandarkan pada kondisi alam yang telah ada. Tidak mau meniru Bali dan Malang. Ini bagi kami menarik, kata Letjend Waris. 

Wantannas melakukan survey di Banyuwangi selama 2 hari (19-20 Agustus). Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Biro Persidangan dan Hubungan Masyarakat (Karodangmas) Brigjen TNI S. Widodo, Kepala Biro Umum (Karoum) Marsma TNI Lukas Parmadi, dan Anjak Bidang Sosbudnas Ir Bambang Ardiantoro.

Sementara itu, Bupati Anas menjelaskan mengapa memilih mengembangkan Banyuwangi dengan konsep ecotourism.

“Banyuwangi itu khas. 40 persen wilayah kami terdiri atas taman nasional, perkebunan dan kehutanan. Karena itu kami putuskan pariwisata Banyuwangi harus dikembangkan dengan konsep ecotourism. Pariwisata yang berbasis atas keaslian alam dan pengembangannya juga selaras dengan alamnya,” kata Anas.

Konsep ecotourism akhirnya membuahkan hasil setelah diterapkan. Bahkan beberapa duta besar mulai tertarik datang ke Banyuwangi. “Kami tak akan pernah berhenti mengembangkan pariwisata Banyuwangi, termasuk untuk menjadikan sektor pertanian sebagai bagian menarik di dalamnya untuk diexplore. Dan pendidikan jadi bagian untuk menjadikan SDM-nya terdidik dan bisa mengembangkan pariwisata Banyuwangi menjadi lebih baik,” pungkas Bupati Anas.

Bangsaonline.com
6:45 PM | 0 komentar | Read More