Kembangkan Grand Watu Dodol, Kemenpar Gelontorkan Rp 1,5 M

Banyuwangi Bagus on 21 July 2015 | 7:52 PM

Bantuan Rp 1,5 M Kementerian Pariwisata untuk pengembangan pariwisata di Grand Watu Dodol, Kabupaten Banyuwangi
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelontorkan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk pengembangan pariwisata di Grand Watu Dodol yang terletak di wilayah Banyuwangi Utara. Dana tersebut untuk membangun fasilitas pendukung di wisata pantai tersebut seperti amphitheatre serta penataan lansekap.

"Kami membantu pengembangan Grand Watu Dodol yang diproyeksikan menjadi salah satu destinasi baru di Banyuwangi yang lebih menarik," ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya seusai melakukan pemberian secara simbolis dana dari Kemenpar ke Pemkab Banyuwangi, Senin (20/7/2015).

Menpar menjelaskan salah satu kunci untuk pengembangan pariwisata adalah adanya destinasi wisata yang mempunyai nilai jual dan harus ditopang oleh amenitas alias infrastruktur penunjang seperti restoran, kafe, hotel, money changer, dan sebagainya. "Semoga anggaran yang kami berikan bisa mempercepat pengembangan Grand Watu Dodol," jelasnya.

Selain dana untuk pengembangan infrastruktur pariwisata, Kemenpar sebelumnya juga membantu dana promosi pariwisata Banyuwangi sebesar Rp 1,5 miliar. Grand Watu Dodol adalah salah satu destinasi baru di wilayah utara Banyuwangi dalam bentuk rest area yang letaknya dekat dengan penyeberangan ke Pulau Bali. Destinasi ini langsung menghadap ke laut dengan arsitektur unik lengkap dengan kafe, area pantai, area bermain, dan gerai produk kreatif dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas smengatakan letak Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali adalah keunggulan komparatif Banyuwangi dibanding daerah lain. "Ada jutaan orang menyeberang ke Bali lewat Banyuwangi. Nah, mereka itu kami 'tahan' dulu barang satu-dua hari dengan berbagai strategi. Grand Watu Dodol bisa menjadi andalan. Mereka yang mau ke Bali akan tertarik mampir ke sana. Mengeluarkan uang katakanlah Rp 500.000 per orang di sana, tinggal dikalikan berapa orang yang akan menyeberang ke Bali dalam setahun. Ada perputaran uang besar yang bakal meningkatkan ekonomi lokal kami," ujar Azwar Anas kepadaKompasTravel.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banuwangi, M. Yanuar Bramudya menjelaskan, dana dari Kemenpar akan digunakan untuk pembangunan amphitheatre atau stagepertunjukan guna memfasilitasi pentas seni dan budaya dari sanggar-sanggar seni Banyuwangi. "Siapa pun nanti bisa tampil di sana.Amphitheatre dibangun senatural mungkin, di antaranya dari pemilihan bahan dan desainnya,” ungkapnya.


Dia melanjutkan, dana bantuan dari Kemenpar juga akan digunakan untuk memasang fasilitas lampu penerangan di Grand Watu Dodol. “Lampu penerangan akan dipasang tidak hanya untuk menerangi wilayah pantai, tapi juga untuk mempercantik landscape pantai. Akan kita sesuaian dengan karakter pantainya,” jelasnya.

Saat ini, Grand Watu Dodol masih dalam tahap pengerjaan. Pemkab Banyuwangi pada tahun ini telah menganggarkan dana Rp 700 juta untuk menata lansekap, membangun toilet, areal parkir, food court, memasang tempat duduk di pinggir pantai dan memasang ornamen-ornamen pantai. "Kita sudah memiliki grand design pengembangan Watu Dodol. Dengan bantuan Kemenpar bisa mempercepat pengerjaannya. Kami optimistis Grand Watu Dodol akan bisa menjadi destinasi baru yang menarik wisatawan,” pungkas Bramuda.

Kompas.com
7:52 PM | 0 komentar | Read More

Menpar Fasilitasi Kerjasama Pariwisata Banyuwangi Dengan STP Bali

Kabupaten Banyuwangi kerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Banyuwangi di sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata memfasilitasi kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, yaitu perguruan tinggi negeri kedinasan yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
"Banyuwangi sudah punya potensi alam dan budaya. Secara geografis juga dekat dengan Bali yang masih menjadi poros utama pariwisata kita. Jadi ini harus dimanfaatkan. Kesiapan SDM akan sangat membantu biar tumbuh lebih cepat"
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan di Pendopo Shaba Swagata Blambangan Banyuwangi, Senin (20/7/2015) antara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dengan Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Dewa Gde Ngurah Byomantara disaksikan langsung oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

"SDM merupakan faktor penting dalam pengembangan pariwisata. Banyuwangi saya lihat intens garap pariwisata, itu harus diiringi dengan kesiapan SDM. Sehingga kami dorong agar bersinergi dengan STP Bali. Tahun ini juga dimulai, SDM pariwisata di Banyuwangi yang terpilih bakal diberi pendidikan di STP Bali," ujar Arief Yahya.

Selain itu, Menpar menjelaskan akan dilakukan sertifikasi tenaga pariwisata berdasarkan ASEAN Common Competency Standards for Tourism Professionals (ACCSTP). ACCSTP adalah sertifikasi yang telah disepakati dan diakui oleh kalangan pelaku industri pariwisata untuk berbagai jenis keahlian, mulai dari perhotelan, kuliner, hingga wisata minat khusus seperti wisata petualangan.

Menpar berharap, dengan kualitas SDM yang semakin membaik, pariwisata di Banyuwangi bisa terus tumbuh dan memberi nilai tambah yang optimal bagi masyarakat. 

"Banyuwangi sudah punya potensi alam dan budaya. Secara geografis juga dekat dengan Bali yang masih menjadi poros utama pariwisata kita. Jadi ini harus dimanfaatkan. Kesiapan SDM akan sangat membantu biar tumbuh lebih cepat," jelas Arief.

Dalam kerja sama tersebut, SDM pariwisata Banyuwangi akan mendapatkan pelatihan dari STP Nusa Dua. Jenis pelatihan mulai dari manajemen kepariwisataan, tata boga, pengelolaan homestay, hingga manajemen jasa perjalanan.

Sementara itu Bupati Banyuwangi berharap, setelah sinergi pelatihan dengan STP Bali, pelayanan kepada wisatawan bisa lebih baik. "Teknisnya nanti, masing-masing kelompok masyarakat di sekitar obyek wisata akan didata apa saja kebutuhan pelatihan SDM-nya. Nanti datanya dikompilasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata lalu dikoordinasikan dengan STP Bali. Targetnya tahun ini ada 100 SDM pariwisata Banyuwangi yang bakal langsung dididik oleh STP Bali," kata Bupati Anas.

ALUMNUS PARIWISATA POLITEKNIK BANYUWANGI BISA KE STP BALI
Sebagai bagian dari kerjasama antara Poliwangi dengan STP Bali, alumnus Politeknik Negeri Banyuwangi Jurusan Pariwisata bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.

Dalam kerja sama tersebut, alumnus Jurusan Pariwisata Poliwangi yang saat ini baru terbatas pada jenjang D3 bisa langsung melanjutkan ke jenjang S1 di STP Bali.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, sinergi dengan STP Bali sangat relevan karena kualitasnya sudah teruji. "Banyak mahasiswa STP Nusa Dua sudah dikontrak oleh hotel, biro wisata, dan lembaga kepariwisataan sebelum menyelesaikan pendidikan D2, D3, D4, dan S1," katanya. Sejauh ini STP Bali sudah meluluskan lebih dari empat ribu tenaga ahli kepariwisataan.


Kompas.com, Beritajatim.com
6:13 PM | 0 komentar | Read More

8 Hari Ditutup, Bandara Blimbingsari Dibuka Lagi!

Banyuwangi Bagus on 19 July 2015 | 2:31 PM

Bandara Blimbingsari Banyuwangi dibuka lagi sejak sabtu 18 Juli 2015.
Bandara Blimbingsari dibuka lagi Sabtu pagi (18/7), setelah sebelumnya sempat lumpuh dan ditutup delapan hari akibat erupsi Gunung Raung. Semua jadwal penerbangan dari dan ke Banyuwangi normal sejak bandara dibuka kembali.

Menurut Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas 3 Blimbingsari Banyuwangi Sigit Widodo, bandara itu dibuka kembali sesuai dengan notice to airmen (notam) C 0577/15 yang dirilis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. ’’(Bandara Blimbingsari) dibuka lagi sejak Sabtu (kemarin, Red) pukul 06.00,’’ tuturnya.

Dengan keluarnya notam dari Ditjen Perhubungan Udara, seluruh aktivitas penerbangan di Bandara Blimbingsari kembali berjalan normal. Empat penerbangan kemarin bisa mendarat dan terbang dengan lancar di bandara yang beroperasi pada 18 Desember 2010 tersebut. ’’Pesawat Garuda dan Wings Air landing dengan mulus,’’ ujar Sigit.

Pada hari pertama pembukaan kembali bandara pasca ditutup sejak Jumat (10/7), pesawat Wings Air dari Surabaya mendarat dengan mengangkut 43 penumpang. Sekitar 15 menit kemudian, pesawat Garuda Indonesia landing pukul 13.45 dengan membawa 51 penumpang.

Sementara itu, penumpang Wings Air yang terbang dari Banyuwangi menuju Surabaya berjumlah 28 orang. Kursi pesawat Garuda Indonesia yang terbang dari Banyuwangi ke Surabaya hanya terisi 12 penumpang.

Sepinya jumlah penumpang angkutan udara tersebut ditengarai masih banyaknya warga yang belum tahu bahwa Bandara Blimbingsari sudah dibuka. 
’’Kemungkinan, jika kondisi normal dan tidak ada penutupan bandara lagi, besok (hari ini, Red) bisa terisi penuh,’’ katanya.

Sebelumnya, Ditjen Perhubungan Udara menutup lima bandara dari aktivitas penerbangan pada Kamis (16/7) karena terdampak abu vulkanis Gunung Raung. Penutupan lima bandara tersebut diberlakukan sejak Jumat (10/7) dan baru dibuka kembali Sabtu (18/7).

Sementara itu, kondisi Gunung Raung mulai kemarin pagi hingga sekitar pukul 12.00 tidak ada perubahan yang mencolok. Selain cuaca mendung dan kondisi angin tenang, asap kelabu masih keluar dari kaldera dengan intensitas sedang dan tekanan lemah. Tinggi asap mencapai 1.500 meter dan condong bergerak ke utara.

’’Tinggi asap meningkat sekitar 500 meter. Sedangkan gempa tremor cenderung menurun dengan amplitudo 4–32 milimeter dan rata-rata amplitudo dominan 22 milimeter,’’ jelas Burhan Alathea, petugas pengamat Gunung Raung


Jpnn.com
2:31 PM | 0 komentar | Read More

Pemkab Banyuwangi Kucurkan Insentif Rp 8,5 M Untuk Guru Ngaji

Banyuwangi Bagus on 15 July 2015 | 11:44 AM

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi kembali mengucurkan dana insentif untuk para guru mengaji. Tahun ini, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu mengalokasikan dana Rp 8,5 miliar untuk insentif ke guru mengaji yang mengajar hingga ke kampung-kampung.

Insentif tersebut disalurkan melalui Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama Nabawi dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al Quran (LPPTKA) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) setempat. Total, terdapat 17.000 guru ngaji yang mendapatkan insentif.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemberian insentif ke guru ngaji merupakan program rutin yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir. Insentif ini diharapkan bisa ikut menyemangati para guru mengaji yang mengabdi hingga ke kampung-kampung.

"Mohon jangan dilihat jumlahnya, karena mungkin nilainya minim. Ini sebagai bentuk sambung rasa pemerintah daerah dengan guru ngaji yang telah banyak mendidik anak-anak. Program ini sudah kami selenggarakan setiap tahun sejak 2011 dan ke depan kami akan terus tingkatkan nilainya," ujar Anas saat bersilaturahim dengan para guru ngaji.

Menurut Anas, guru mengaji mempunyai peran strategis sebagai pendidik anak di bidang agama. Di antaranya adalah menanamkan nilai agama yang toleran sejak dini.

"Ustaz dan ustazah menjadi pintu masuk bagi internalisasi ajaran-ajaran agama ke anak-anak. Beliau-beliau itu bisa menanamkan nilai-nilai Islam yang ramah dan menghargai perbedaan," ujar Anas.

Selain itu, tambah Anas, guru mengaji bisa menanamkan spirit belajar giat dan bekerja keras kepada anak-anak sejak dini. Para guru mengaji bisa menyemangati anak-anak di kampung-kampung untuk giat menuntut ilmu. Apalagi, kata dia, Pemkab Banyuwangi sejak 2011 juga mempunyai program beasiswa Banyuwangi Cerdas yang memfasilitasi anak muda untuk berkuliah di berbagai perguruan tinggi negeri hingga selesai.

"Kami berharap guru mengaji juga menjadi pintu sosialisasi program-program pemerintah daerah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Anak-anak disemangati untuk menuntut ilmu, apalagi sudah ada beasiswa Banyuwangi Cerdas," jelas Anas.

Sementara itu, salah seorang guru ngaji di TPQ Kedayunan, Fitriani, mengapresiasi kebijakan pemberian dana insentif tersebut. Fitriani yang baru setahun menjadi guru TPQ itu berharap ke depan Pemkab Banyuwangi terus meningkatkan kemitraan dengan guru mengaji.

"Semoga ke depan pendidikan anak-anak, terutama untuk pendidikan agama, bisa semakin berkembang. Kami sebagai guru ngaji berkomitmen untuk terus mendidik dengan baik," ujarnya.

Beritasatu.com
11:44 AM | 0 komentar | Read More

Insentif RT/RW Di Banyuwangi Naik 100%

Insentif ketua RT/RW di Banyuwangi naik 100% jadi 1,2 juta per tahun.
Memahami jika tugas RT/RW di Banyuwangi tidak hanya menjadi pelengkap birokrasi, Pemkab Banyuwangi menaikkan insentif RT/RW hingga 100 persen.
Cara ini ditempuh untuk merangsang peningkatan pelayanan hingga level RT/RW seiring dengan program reformasi birokrasi di tubuh pemerintah daerah secara bertahap.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menjabarkan, Pemkab Banyuwangi telah menyerahkan insentif sebesar Rp 702,6 juta bagi 918 ketua RT dan 253 ketua RW kelurahan dari Kecamatan Banyuwangi, Giri, Kalipuro dan Glagah. Dana insentif untuk ketua RT/RW telah dinaikkan 100 persen dari Rp 600.000 menjadi Rp 1,2 juta per tahun.

Secara total, di Banyuwangi terdapat 12.258 RT/RW. Untuk RT/RW yang berada dalam lingkup desa, dana insentif dimasukkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Sedangkan RT/RW yang berada di lingkup kelurahan, dananya melalui APBD.

"Harapan kami menaikkan insentif mereka supaya kinerja pelayanan kepada masyarakat jadi lebih baik. Karena reformasi birokrasi jika hanya dilakukan di kabupaten, sedangkan di bawah tetap tidak diperbaiki, maka pelayanan kepada masyarakat tidak akan bisa optimal," terang Anas, Selasa (14/7/2015).
Total dana insentif ke ketua RT/RW yang mencapai miliaran rupiah itu, kata Anas, merupakan gabungan dari APBD dan menyesuaikan dengan kapasitas masing-masing APBDes.

Kedepan Pemkab Banyuwangi menyiapkan Peraturan Bupati (Perbup) baru yang mengatur tentang syarat-syarat menjadi pengurus RT/RW secara bertahap. Pemkab Banyuwangi juga akan menyiapkan pelatihan bagi pengurus RT/RW terutama untuk mensinkronkan dengan berbagai program Pemkab Banyuwangi. Anas berharap agar ketua RT/RW bisa menjadi jembatan dalam mengkomunikasikan program pemerintah daerah ke masyarakat.

"Misalnya pelayanan akta kelahiran berbasis teknologi informasi, ketua RT/RW harus memahami sistemnya, sehingga bisa menjelaskan ke masyarakat. Demikian pula untuk program-program lainnya," tandasnya.

Detik.com
11:36 AM | 0 komentar | Read More

Program Banyuwangi Cerdas, Penghafal Alquran Bisa Kuliah Gratis

Banyuwangi Bagus on 09 July 2015 | 4:37 PM

Penghafal Alquran Banyuwangi mendapat beasiswa kuliah dari Pemkab Banyuwangi.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur membuka program beasiswa Banyuwangi Cerdas untuk jalur para penghafal Al Quran atau hafiz. Mereka akan dibiayai sampai lulus kuliah.

"Mereka akan dibiayai kuliahnya sampai selesai studi di sejumlah perguruan tinggi, terutama yang berbasis agama," kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Dwi Yanto di Banyuwangi, Kamis (9/7/2015).

Ia menjelaskan Banyuwangi Cerdas merupakan adalah program pemberian beasiswa dari pemerintah daerah setempat kepada anak muda berprestasi dengan pemberian bantuan biaya hingga level perguruan tinggi yang dimulai sejak 2011.
Seleksi beasiswa Banyuwangi Cerdas untuk jalur para penghafal Al Quran telah dilakukan selama bulan Ramadan ini. Seleksi untuk jalur siswa kurang mampu berprestasi juga dilakukan pada waktu bersamaan yang dipusatkan di aula Dinas Pendidikan.

Dia mengatakan, para penghafal Al Quran diberikan kuota khusus. Karena itu berapapun orang yang mendaftar akan diterima setelah melalui dites hafalan Al Quran dan mereka bisa membuktikan kemampuannya.

Untuk seleksi itu, kata Dwi Yanto, Dinas Pendidikan Banyuwangi melibatkan para ahli membaca Al Quran.

Berdasarkan pendaftaran, ada lima penghafal Quran yang ikut serta program ini. Mereka dengan dukungan sekolahnya masing-masing mendaftarkan diri kepada Dinas Pendidikan.

"Ada satu pelajar yang hafal 30 juz. Menariknya, dia yang berasal dari Desa Jambewangi, Sempu, ini merupakan lulusan program paket C. Kemudian yang hafal 10 juz, lulusan MAN Banyuwangi. Satu orang yang hafal 7 juz adalah perempuan, lulusan SMA Sunan Ampel Bangorejo, sedangkan dua orang yang hafal 5 juz merupakan lulusan MA Unggulan Mambaul Huda," paparnya.

Kelima pelajar penghafal Al Quran itu sudah dinyatakan lolos seleksi. Dwi Yanto berharap program ini akan memotivasi anak-anak yang saat ini tengah menjadi santri maupun sedang belajar menghafal Al Quran.

"Saya berharap ini bisa menyemangati mereka, bahwa bukan tidak mungkin mereka yang lulusan pondok bisa bersekolah di perguruan tinggi negeri," ujar Dwi Yanto.

Salah seorang peserta tes, Mohammad Sofi menyatakan rasa senangnya bisa terjaring program ini. "Program ini benar-benar berguna bagi orang tidak mampu seperti saya agar bisa pandai dan membantu keluarga saya keluar dari kemiskinan," tuturnya.

Lulusan MAN Banyuwangi ini berharap bisa menjalani kuliah sambil terus melanjutkan menghafal Al Quran. Sofi adalah satu di antara peserta tes yang hafal Al Quran. Pemuda yang tinggal di Kelurahan Penataban dan pernah mondok di Pondok Pesantren Al- Anwari Banyuwangi ini mampu menghafal 10 juz. Sofi berkeinginan besar untuk memperbaiki hidupnya di kemudian hari dan membahagiakan ibunya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap program tersebut bisa meningkatkan kualitas SDM Banyuwangi.

"Untuk program beasiswa bagi para pelajar penghafal Al Quran ini kami juga menanamkan nilai-nilai keislaman yang ramah," tambahnya.

Jika para penghafal Al Quran hanya dites hafalannya, berbeda dengan peserta jalur umum. Mereka harus menjalani serangkaian ujian, seperti tes tulis yang meliputi pengetahuan umum dan dasar, potensi akademik, dan wawancara. Hasilnya akan diumumkan pada 10 Juli mendatang.

Sejak diluncurkan pada 2011, program beasiswa Banyuwangi Cerdas telah menggelontorkan dana sekitar Rp7,5 miliar untuk membiayai lebih dari 500 anak muda Banyuwangi yang kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar Banyuwangi. Dana tersebut belum termasuk hibah untuk skripsi maupun penelitian yang diajukan oleh mahasiswa.

Kompas.com
4:37 PM | 0 komentar | Read More