Banyuwangi Festival

Klik untuk memperbesar
Powered by Blogger.

Benarkah Ahok Incar Anas Jadi Wagub DKI?

Banyuwangi Bagus on 30 August 2014 | 11:22 AM

Ahok incar Bupati Banyuwangi Azwar Anas jadi wakilnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kerap menyebutkan nama sejumlah figur yang memungkinkan mengganti posisinya sebagai wakil gubernur nanti jika ia sudah menjabat Gubernur DKI. Selain beberapa nama yang telah beredar, kali ini mantan Bupati Belitung Timur itu melirik Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Alasannya, Ahok ingin figur yang berpengalaman di eksekutif atau pemerintahan yang mendampinginya memimpin Jakarta nanti.
"Kita maunya pengalaman eksekutif. Aku sama semua partai temenan, PKB mau mencalonkan kader juga boleh. Azwar Anas yang Bupati Banyuwangi itu bagus juga," ucap Ahok di Balaikota Jakarta, Jumat (29/8/2014).

Ahok menilai Azwar cocok menjadi wakilnya nanti karena merupakan pekerja keras, tak terima suap, dan taat konstitusi. Ahok sendiri mengenal Azwar ketika beberapa bulan lalu bertemu di sebuah kegiatan yang digagas Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Sejak itu, dia, Azwar, dan 5 kepala daerah lainnya tergabung dalam 'geng' pemimpin muda.

"Banyak tokoh di Indonesia yang seperti itu, banyak kepala daerah yang telah teruji. Azwar Anas bagus," ucap Ahok sebagaimana dilansir portal Liputan6.com.

Tapi jika dilihat dari partai yang berhak mengajukan usulan calon wakil gubernur DKI, yakni PDIP dan Gerindra, peluang Azwar tampak tidak besar. Tapi lepas dari pertimbangan partai politik pengusungnya, masyarakat Banyuwangi sendiri tampaknya tidak sreg jika Azwar Anas menjadi Wabug Jakarta mendampingi Ahok.

Hal ini setidaknya tampak dari respon fesbukers yang tergabung dalam grup Facebook “Banyuwangi Bersatu” , menanggapi berita tentang disebutnya nama Azwar Anas sebagai salah satu kandidat Wagub DKI. Sampai tulisan ini dibuat, dari 37 respon yang masuk, mayoritas tidak setuju Anas menjadi Wagub-nya Ahok dengan berbagai alasan. Sebagian diantaranya berpendapat, figur Anas masih dibutuhkan untuk membangun Banyuwangi. Seperti dikatakan pemilik akun Liliek Damasetyawati, “Pak Aswar Anas , untuk BWI dulu,,,karena baru setengah perjalanan,agar BWI sucees full..”.

Pemilik akun Yusril Amal mengingatkan, “Pak Anas harus konsisten.. Jangan tergiur dengan jabatan yang lebih tinggi.” Pendapat lain dari Frida Djiwoutomo yang tidak setuju Anas menjadi Wagubnya Ahok, karena menurutnya Anas tidak setipe dengan Ahok. Pendapat berbeda dikemukakan Samosa Jaya. “Menjadi wagub bisa membunuh karir politik nya, mending bupati satu periode lagi baru nyagub Jatim, “ katanya.
Pemilik akun Dot Net ComPro punya analisa menarik. Menurutnya, dengan usia Anas yang masih muda dan rekam jejaknya sampai saat ini, jalan untuk mengabdi ke negara masih panjang.

Karena itu ia menyarankan agar Anas menyelesaikan amanahnya dulu sebagai Bupati Banyuwangi sebelum nantinya menapaki karir politiknya lebih lanjut sebagai Gubernur Jawa Timur, bahkan jika ditakdirkan, bisa saja menjadi RI 1.

"Apabila suatu saat nanti itu terjadi, bukan kah  pengalaman pak Anas sudah lengkap, beliau mengerti dan mengalami sendiri berbagai persoalan di tingkatan birokrasi, tentu akan mempermudah beliau dalam menjalankan tugas nya," tulisnya.

Apapun bisa terjadi dalam perpolitikan Indonesia yang sangat dinamis. Kita tunggu saja perkembangannya. Apakah itu hanya sebuah pepesan kosong atau menjadi kenyataan sejarah.

Ungkapan hati laros fesbukers tadi barangkali dapat dimaknai sebagai simbolisasi dari asa, harapan dan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap pemimpin daerahnya.
11:22 AM | 0 comments | Read More

Banyuwangi Dorong Industri Pertanian Substitusi Impor

Banyuwangi Bagus on 29 August 2014 | 8:46 PM

Pertanian Banyuwangi.
Daerah perlu menjadi pendorong industri substitusi impor. Dengan demikian, impor Indonesia bisa ditekan, sehingga dapat menyehatkan struktur neraca perdagangan nasional.

"Sudah bukan zamannya saling menyalahkan. Jangan daerah salahkan pusat, demikian sebaliknya. Harus beri solusi," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela acara seminar Indonesia Banking Expo bertema "Dukungan Bank Daerah untuk Industri Substitusi Impor" di Jakarta, Kamis (28/8).

Anas mengatakan, daerah perlu mendorong dan memfasilitasi berbagai industri substitusi impor sesuai dengan potensi lokalnya. Dengan demikian, makin banyak komoditas substitusi impor yang dihasilkan. Devisa yang selama ini tersedot untuk impor pun bisa ditekan.

"Yang rasional saat ini adalah pengendalian impor. Optimalkan potensi lokal daerah. Di Banyuwangi, misalnya, kami mendorong produksi hortikultura impor untuk melawan penetrasi buah dan sayur impor. Impor hortikultura secara nasional setahun berkisar USD 2 miliar. Kalau orang kita makan buah lokal bisa tekan impor," ujar Anas.

Di Banyuwangi, salah satu langkah yang dilakukan adalah proteksi pasar. "Karena sehebat apa pun kita menggenjot produksi, intensifikasi lahan dan sebagainya, kalau pasar tidak diproteksi, akan susah. Hortikultura misalnya, produksi buah naik tapi kalau buah impor lebih murah, kalah juga akhirnya. Maka kesadaran konsumsi buah lokal harus digalakkan, di Banyuwangi kita larang semua acara resmi dari RT sampai kabupaten untuk sajikan buah lokal. Alhamdulillah berhasil, petani buah kita semangat," ujarnya.

Produksi sejumlah komoditas buah di Banyuwangi memang terus meningkat. Semangka, misalnya, naik dari 26.677 ton pada 2012 menjadi 47.366 ton. Melon naik dari 13.233 ton (2012) menjadi 17.430 ton (2013). Manggis melejit dari 8.644 ton (2012) menjadi 19.881 ton (2013). Jeruk siam melesat dari 140.602 ton (2012) menjadi 222.804 ton (2013). Adapun buah naga meningkat dari 12.936 ton (2012) menjadi 16.631 ton (2013).

"Manggis kita sudah ekspor ke Tiongkok, Singapura, Timur Tengah, dan beberapa negara lain. Buah naga kami direct-kan ke peritel besar agar pendapatan petani meningkat," tutur Anas.

Adapun hortikultura sayur juga mengalami peningkatan, seperti cabai dari 29.787 ton (2012) menjadi 31.916 ton (2013). "Cabai ini kami langsungkan penjualannya dari petani ke salah satu produsen makanan sangat terkenal. Bikin petani semangat. Dulu 2010 mereka produksinya cuma 6.000 ton, karena langsung ketemu pembeli besar mereka semangat, terus melonjak produksinya sampai saat ini. Tahun ini sampai Juli, produksi cabai sudah hampir 18.000 ton," kata dia.

Terkait tanaman pangan, Banyuwangi mematok lahan abadiseluas 62.000 hektar sawah yang tidak boleh dialihfungsikan. Selain itu, ada pembangunan Waduk Bajulmati berkapasitas 10 juta meter kubik air yang akan mendukung penciptaan 1.800 hektar sawah baru di wilayah utara Banyuwangi.

"Tiap tahun kami surplus beras 250.000 ton. Ada beberapa petani padi yang memang beralih ke hortikultura buah karena lebih menguntungkan, tapi kami jaga stoknya agar kami tetap surplus dan bisa kirim ke daerah lain. Sudah dua tahun ini kami garap juga beras organik premium. Mahal harganya sehingga petani lebih untung. Jualnya ke resort-resort dan hotel berbintang yang ada di Bali dan Banyuwangi," kata Anas.

Dari sisi pemasaran, saat ini Pemkab Banyuwangi tengah menyiapkan desain kemasan buah lokal yang menarik, sehingga sangat layak dijadikan buah tangan alias oleh-oleh. Kemasan itu mulai dari stiker sampai tas-tas kecil. "Dalam waktu tidak lama lagi kita bagikan gratis ke pedagang-pedagang buah, biar orang bangga beli buah lokal karena selain rasanya enak, kemasannya juga keren," jelas bupati berusia 41 tahun itu.

Dukungan Banyuwangi untuk mendorong substitusi impor juga diwujudkan dalam insentif bagi investor yang menggarap sektor pertanian di Banyuwangi, termasuk perkebunan. "Untuk yang garap pertanian di Banyuwangi, kami bangunkan fasilitas irigasinya. Kami sudah bangun 600 titik irigasi tersier agar pasokan air ke sentra-sentra pertanian lancar," pungkas. 

Jpnn.com


8:46 PM | 0 comments | Read More

Banyuwangi Deklarasikan Diri Sebagai Kabupaten Inklusi

Banyuwangi Bagus on 28 August 2014 | 10:16 AM

Banyuwangi kabupaten inklusi.
Membawa spirit sebagai kota welas asih, Banyuwangi mendeklarasikan diri sebagai kabupaten Inklusi. Yakni, kabupaten yang memberi kesempatan pendidikan kepada semua anak, baik normal maupun anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk bisa belajar di sekolah yang sama, mempelajari mata pelajaran yang sama dan mengikuti semua kegiatan disekolah tanpa ada diskriminasi.

Komitmen peduli pada ABK tersebut dideklarasikan oleh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko bersama Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus, Dr Mujito, dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Taman Blambangan.

Melalui sambungan jarak jauh, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menuturkan, jika deklarasi ini merupakan sebuah bentuk komitmen Pemkab Banyuwangi agar pendidikan bisa dirasakan merata tanpa adanya diskriminasi.

"Pendidikan merupakan hak azasi setiap warga negara, bahkan mereka yang berada dalam keterbatasan sekalipun. Deklarasi ini sebagai komitmen kita untuk membantu orang-orang yang mengalami hambatan, agar mereka mudah mengakses segala sesuatu sebagaimana manusia normal lainnya," ujar Bupati Anas melalui sambungan jarak jauh, Rabu (27/8/2014).

Saat ini di Banyuwangi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif berjumlah 115 sekolah. Terdiri dari 28 sekolah PAUD, 44 SD/MI, 26 SMP/MTs dan 17 SMA/MA. Sekolah-sekolah tersebut dilengkapi dengan guru pembimbing khusus dan sarana prasarana yang aksesibel bagi ABK.

Kehadiran sekolah-sekolah inklusif tersebut akan memberi kemudahan bagi para ABK. Salah satunya, mereka bisa bersekolah yang terdekat dengan rumah. Bupati putra daerah ini berharap dengan adanya ABK yang menuntut ilmu di sekolah reguler, Banyuwangi akan mampu mewujudkan pendidikan yang ramah anak, tidak diskriminatif dan penuh toleransi."Dengan begitu, antara ABK dan masyarakat bisa belajar saling menyesuaikan diri dan menerima satu sama lain," harapnya.

Sementara Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus Kementrian Pendidikan, Dr Mujito, memberikan apresiasi atas pendeklarasian Kabupaten Banyuwangi sebagai Kabupaten Inklusi. Besar harapan jika semangat pendidikan inklusi di Banyuwangi bisa terus bertumbuh."Semoga spirit pendidikan inklusi terus tumbuh di Banyuwangi. Sehingga para ABK tersebut tak akan menerima lagi kekerasan, tak ada bully, dan penuh dengan empati," tutupnya.

Detik.com
10:16 AM | 0 comments | Read More

Jokowi Minta Kepala Daerah Belajar Dari Bupati Anas

Banyuwangi Bagus on 24 August 2014 | 8:34 PM

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas meriah penghargaan Inspiration Young Leader 2014.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas kembali mendapatkan penghargaan 11 Inspiration Young Leader (IYL) 2014 dari salah satu portal berita online. Sebelumnya, di awal tahun ini Azwar Anas, juga pernah mendapat penghargaan Democracy Award dari Rakyat Merdeka Online.

Anas terpilih menjadi IYL 2014 berdasarkan rekomendasi pembaca dan penjurian yang dilakukan lewat media online. Selain Anas ada 10 orang lainnya yang mendapat penghargaan serupa.

Anas mendapat penghargaan dalam kategori penyelenggara daerah yang dianggap berhasil membawa perubahan dengan ” Membangun Banyuwangi Lewat Partnership”. Konsep partnership diyakini Bupati Anas sebagai cara cepat dalam membawa kemajuan sekaligus mengurangi angka kemiskinan di daerah.

“Kami menyadari dana  APBD  tidak akan bisa mencukupi semua anggaran yang diperlukan untuk membangun Banyuwangi. Untuk itu kami melibatkan pihak ketiga untuk mengcover program-program yang belum masuk maupun yang telah ada di dalam APBD untuk mencapai hasil yang maksimal,” ungkap Anas di Kemang Village, Jakarta Selatan, Sabtu (23/8) malam.

Piala penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Terpilih RI Joko Widodo. Secara khusus, Jokowi mengimbau agar seluruh kepala daerah yang ada di Indonesia mencontoh kinerja Anas dan dapat belajar dari mantan anggota DPR RI itu.

"Saya tahu mereka ini adalah orang yang terpilih di bidangnya. Seperti Bupati Banyuwangi ini, Pak Anas. Saya harap ilmunya dapat ditularkan kepada semua pemimpin daerah yang lain," kata Jokowi. 

Abdullah Azwar Anas memiliki rekam jejak panjang di legislatif (politik), sebelum duduk di eksekutif. Ia pernah menjadi anggota MPR periode 1997-1999 dan anggota DPR RI pada periode 2004-2009.

Pria kelahiran Banyuwangi, 6 Agustus 1973 ini dinilai berhasil membawa perubahan di tempat kelahirannya itu. Ia membangun 'Kota Gandrung' tersebut dengan mengusung partnership (kemitraan) dengan warganya.

"Ini hasil kerja masyarakat, ini kerja kolektif. Saya hanya mendorong, apa yang kami kerjakan karena ada dukungan dari masyaraakat yang luar biasa, kuncinya partisipasi publik. Kegiatan-kegiatan yang berbasis partisipasi publik hasilnya luar biasa," ucap Azwar Anas kepada awak media.


Rmol.co, Gatra.com
8:34 PM | 0 comments | Read More

INFLASI DI BANYUWANGI TERENDAH SE JATIM, 5 TERENDAH SE INDONESIA

Banyuwangi Bagus on 22 August 2014 | 11:03 PM

Inflasi Kabupaten Banyuwangi 5 terendah se Indonesia.
Upaya sinergi pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha berbagai bidang di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk mengelola laju inflasi membuahkan hasil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, inflasi di Banyuwangi pada Juli 2014 sebesar 0,24 persen. Angka itu berada di bawah inflasi Jatim sebesar 0,48 persen dan inflasi nasional 0,93 persen.

Inflasi di Banyuwangi tercatat yang terendah di Jatim dibandingkan dengan kabupaten/kota yang menjadi patokan penentuan indeks harga konsumen (IHK). Pada periode tersebut, inflasi tertinggi di Jatim terjadi di Probolinggo 0,99 persen; disusul Sumenep 0,89 persen; Kediri sebesar 0,73 persen; Madiun sebesar 0,61 persen; Malang sebesar 0,49 persen; Surabaya 0,42 persen; dan Jember sebesar 0,41 persen. 

"Sebagai catatan, inflasi di Banyuwangi sebesar 0,24 persen tidak saja terendah se-Jatim, tetapi juga termasuk ke dalam lima kota/kabupaten yang inflasinya terendah se-Indonesia," ujar Kepala BPS Jatim M. Sairi Hasbulllah dalam penjelasan resminya.

Adapun laju inflasi Banyuwangi tahun kalender (Januari 2014-Juli 2014) mencapai 2,24 persen, lebih rendah dibanding inflasi tahun kalender Jatim sebesar 2,66 persen dan nasional 2,94 persen.

Inflasi yang rendah tersebut menunjukkan kenaikan harga barang di Banyuwangi sangat kecil, yang dengan sendirinya merepresentasikan pengelolaan harga yang baik dari hasil sinergi pemerintah daerah, perbankan, BUMN, dan dunia usaha swasta yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, laju inflasi yang relatif rendah tersebut terjadi berkat koordinasi yang baik di TPID. Pemkab Banyuwangi juga menjalin sinergi dengan BPS untuk menyajikan data secara lebih cepat, yaitu tiap triwulan bahkan sebulan sekali. "Kami ingin dapat masukan lebih cepat untuk membuat kebijakan atas masalah yang ada. Sehingga misalnya saat ada sumber-sumber inflasi yang terdeteksi bermasalah, biar bisa segera diredam," papar Anas.

Sejumlah langkah pengendalian inflasi yang dilakukan di Banyuwangi antara lain mendorong diversifikasi pangan, memutus informasi yang tak simetris terkait level harga, perbaikan infrastruktur sebagai jalur distribusi, hingga melakukan operasi pasar.

Soal diversifikasi pangan, misalnya, Banyuwangi membuat Gerakan 10.000 Kolam Pekarangan. Warga didorong memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk dibuat semacam kolam kecil. Pemkab Banyuwangi memfasilitasi benih dan fasilitas lain seperti terpal. Hingga saat ini, sudah ada 9.800 kolam di rumah-rumah warga. "Jadi konsumsi ikan sebagai pengganti daging sapi yang harganya kerap berfluktuasi. Warga juga bisa menjual ikannya saat dipanen. Jadi satu sisi bisa hemat pengeluaran keluarga, di sisi lain juga bisa meningkatkan pendapatan keluarga," beber Anas.

Program 10.000 Kolam Pekarangan tersebut juga ikut mendongkrak produksi perikanan budidaya di Banyuwangi, dari 21.760 ton pada 2012 menjadi 22.748 ton pada 2013.

Adapun untuk komoditas pangan seperti beras, Banyuwangi mengelola stok sehingga tidak terjadi lonjakan harga saat permintaan meningkat seperti saat Lebaran. Setiap tahun Banyuwangi mempunyai surplus beras sekitar 250.000 ton yang dikirim ke berbagai daerah. Berkat pengembangan varietas, produktivitas padi di Banyuwangi melampaui produktivitas nasional. Produktivitas padi Banyuwangi 6,5 ton per hektare, secara nasional produktivitas sekitar 5,5 ton per hektare.

Anas menambahkan, inflasi bukan hanya terkait pengelolaan jumlah uang beredar atau wilayah kebijakan moneter, tapi juga berkaitan erat dengan masalah-masalah kebijakan pemerintah atau wilayah kebijakan fiskal. "Contohnya, inflasi terkait erat dengan kualitas infrastruktur. Jika infrastruktur tak mendukung, biaya distribusi melonjak. Karena itu, kami membangun 300 kilometer jalan tiap tahun. Ke depan terus ditingkatkan karena wilayah Banyuwangi sangat luas dan masih ada yang infrastrukturnya belum memadai," papar Anas.

Dengan mengelola dan mengendalikan laju inflasi, lanjut Anas, daya beli warga akan terjaga. Sehingga, konsumsi bisa terus tumbuh. "Selain investasi baru dan mendorong aktivitas ekspor, konsumsi penting untuk menggerakkan ekonomi," tutur Anas.

Jpnn.com
11:03 PM | 0 comments | Read More