Banyuwangi Festival

Klik untuk memperbesar
Powered by Blogger.

Selama Desember, PNS Wajib Pakai Batik Khas Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 15 December 2014 | 11:58 PM

PNS Banyuwangi wajib pakai batik khas Banyuwangi selama bulan Desember
Selama 2 minggu, Pegawai Negeri Sipil (PNS)‎ di Banyuwangi tidak memakai seragam. Baik yang ada di pemkab atau dinas-dinas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Hanya Satpol PP yang masih setia memakai seragam coklat-coklat berkeliaran di Banyuwangi. Lho..!

Usut punya usut, itu terkait kebijakan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Bupati Anas mewajibkan para PNS memakai batik khas Banyuwangi. Untuk PNS laki-laki, juga wajib memakai udeng (tutup kepala), sedangkan perempuan diwajibkan memakai slayer batik di leher.

"Selama kepemimpinan saya, selama bulan Desember ini PNS harus memakai batik khas Banyuwangi. Ini sebagai wujud menghormati hari jadi Banyuwangi yang jatuh pada bulan Desember," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kepada detikcom, Senin (15/12/2014).

‎Pemakaian batik khas Banyuwangi, tambah Bupati Anas, tidak hanya diwajibkan untuk para PNS. Hotel dan restoran di Banyuwangi, juga harus memakai batik khas Banyuwangi.

"Lihat saja di hotel dan restoran di Banyuwangi, semua pakai batik. Kita instruksikan PHRI mewajibkan karyawan hotel dan restoran memakai batik," tambah pria yang selalu kelihatan rapi ini.

‎Dengan keseragaman selama Desember ini, permintaan batik khas Banyuwangi meningkat. Selain diborong oleh para PNS yang berjumlah 14 ribu lebih, efek dari Banyuwangi Batik Festival juga membuat batik Banyuwangi kekurangan stok.

"Kemarin tamu saya malah kehabisan batik. Ini imbas adanya Banyuwangi Batik Festival. Para kolektor batik memburu batik Banyuwangi," pungkas Bupati Anas.

Detik.com
11:58 PM | 0 comments | Read More

Kiat Anas Mempromosikan Banyuwangi, Libatkan Seluruh Pegawai Pemkab Jadi Tenaga Marketing

Banyuwangi Bagus on 14 December 2014 | 11:48 PM

Azwar anas meraih penghargaan marketeer of the year 2014.
Selama empat tahun Bupati Abdullah Azwar Anas bekerja keras mengubah image Banyuwangi yang berbau klenik (mistis) menjadi daerah ”sensasional”. Kerja keras itu pun menghasilkan banyak apresiasi. Yang terbaru, Anas meraih penghargaan Indonesia Marketing Champion (IMC) 2014 bidangpemerintahan versi MarkPlus Inc.

Gaya Abdullah Azwar Anas yang santai dan informal membuat suasana makan siang di Bandara Juanda, Surabaya, kemarin (12/12) begitu cair. Bupati muda dan penuh energik itu terlihat ceria. Maklum, kerja kerasnya membangun Banyuwangi terus mendapat penilaian positif dari berbagai lembaga.

Termasuk ketika Kamis malam lalu (11/12) MarkPlus menganugerahkan penghargaan Indonesia Marketing Champion 2014 untuk bidang pemerintahan kepada dia.

Meski tidak memiliki banyak waktu lantaran jadwal penerbangan pesawat yang akan mengantarnya ke Banyuwangi sangat mepet, pria 41 tahun itu menyempatkan diri untuk berbagi cerita tentang perjalanannya mengubah image Banyuwangi yang dulu dikenal sebagai pusat dukun santet menjadi daerah yang populer di bidang wisata dan budaya. Bahkan, hingga mancanegara.

Anas mengaku, saat awal-awal menjabat bupati pada 2010, dirinya melihat adanya masalah besar di Banyuwangi. Yaitu, masalah image negatif yang melekat di kabupaten ujung timur Jawa Timur itu. Daerah tersebut lebih dikenal sebagai pusat klenik dan warganya yang berkarakter keras.

”Saya sempat miris. Sebab, sampai ada warga Banyuwangi yang tidak mau mengakui daerahnya sendiri. Mereka malah bangga mengaku sebagai orang Jember atau kota lain,” ungkap pejabat asli Banyuwangi tersebut.

Rasa kurang percaya diri sebagian masyarakat Tanah Blambangan tersebut membuat mereka tidak menyadari potensi besar yang dimiliki daerahnya. Apalagi, Banyuwangi kala itu dicitrakan ekstrem sebagai daerah yang ditakuti karena santetnya.

Karena itu, tak banyak warga kota lain atau luar negeri yang mau berkunjung ke Banyuwangi. ”Jangankan membanggakan daerahnya, warga yang mau mengakui dirinya berasal dari Banyuwangi saja sangat jarang,” kisahnya.

Sejak itu, Anas berpikir inilah saatnya mengubah image negatif tersebut. Langkah awal yang dilakukannya adalah membuat kegiatan yang melibatkan sebanyak-banyaknya rakyat Banyuwangi dan diberitakan di mana-mana.

Dengan cara begitu, secara pelahan tapi pasti, rakyat Banyuwangi punya kebanggaan terhadap daerahnya. ’’Menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan itu sangat diperlukan untuk mengubah image,’’ katanya.

Setelah berhasil membangun image dan mendapat dukungan publik, Anas pun mulai mendorong brand Banyuwangi sebagai Sunrise of Java. Caranya, digelar berbagai festival. Selain festival budaya, ada Banyuwangi Ethno Carnival, Banyuwangi Jazz Festival, Gandrung Sewu, dan sebagainya.
Anas juga mengembangkan program pariwisata yang berfokus pada ecotourism. Itu dilakukan untuk membuat brand yang berbeda dengan daerah lain.

’’Banyuwangi berbeda dengan Surabaya atau Malang. Tidak mungkin kami ikut-ikutan jor-joran bangun mal. Karena Banyuwangi dikelilingi taman nasional, maka kami buat pariwisata ecotourism,’’ papar pria lulusan Fakultas Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta itu.

Banyuwangi kini berani membuat perubahan dalam bidang pariwisata. Anas pun gencar ’’menjual’’ keindahan alam, pantai, gunung, dan keramahtamahan masyarakat Banyuwangi. Bahkan, kini Banyuwangi telah ditetapkan sebagai Kota Welas Asih dalam program Compassion Action International.

Untuk itu, pemkab harus melakukan konsolidasi infrastruktur. Mulai perbaikan dan pembangunan jalan, jembatan, air bersih, dan teknologi informasi (TI) yang canggih. Sebab, menurut Anas, upaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Banyuwangi tidak akan terwujud jika tidak didukung infrastruktur yang baik.

Setelah itu, baru konsolidasi budaya yang ditingkatkan. Misalnya, warga yang semula kurang peduli kebersihan kini jadi cinta kebersihan. ’’Perilaku masyarakat juga berubah. Tadinya cuek terhadap orang luar, kini jadi baik dan ramah,’’ jelasnya.

Anas kini bisa bangga melihat perubahan image yang cukup signifikan di daerahnya. Sebab, Banyuwangi pernah mendapat predikat sebagai kabupaten terjorok nomor 2 di Jawa Timur pada 2010. ’’Nah, sekarang kami terus berbenah,’’ katanya.

Keberhasilan Anas mempromosikan Banyuwangi ke seluruh penjuru Indonesia tersebut sama sekali tidak melibatkan tim khusus. Semua promosi dilakukan langsung oleh seluruh pegawai pemkab.
Bahkan, para PNS di lingkungan pemkab diwajibkan memahami program dan misi Banyuwangi. ’’Kami targetkan kepala dinas bisa menguasai dan menjelaskan arah dan tujuan program pemda,’’ ujarnya.

Pelibatan para birokrat untuk menjadi tenaga marketing bagi Banyuwangi, menurut Anas, adalah sesuatu yang ditekankan. Pada semua event, sebisanya kepanitiaan adalah pegawai pemkab. Dengan demikian, dalam konteks meng-advocate atau meyakinkan para "konsumen”, para pegawai di lingkungan pemkab bisa melakukannya dengan baik.

Dalam event festival musik jazz, misalnya. Tahun ini mereka masih menggunakan bantuan event organizer. Namun, tahun depan penyelenggaraan event yang masuk rangkaian Banyuwangi Festival itu akan sepenuhnya ditangani pegawai pemkab.

Pelibatan birokrat dalam program-program pemkab itu, kata Anas, membuat dirinya lebih banyak punya ”stamina” untuk melakukan lebih banyak hal. ”Kalau semua saya pikirkan dan jalankan sendiri, tanpa terdelegasi dengan baik kepada para birokrat, saya akan kehabisan tenaga. Di tengah jalan akan dehidrasi,” jelasnya.

Sementara itu, Deputy CEO MarkPlus Inc. Michael Hermawan mengatakan, para dewan juri menilai Anas betul-betul bisa memoles potensi yang ada di Banyuwangi.
Itu tampak dari cukup terkenalnya guest house di area Pendapa Banyuwangi hingga meriahnya setiap festival musik hingga beragam carnival yang digelar di Bumi Blambangan itu.

”Jadi, Pak Anas itu tidak hanya menerapkan marketing murni, tapi juga online. Jadi, dia marketer sejati. Benar-benar mengerti segmen,” ungkapnya.

Menurut Michael, strategi marketing yang diterapkan Anas untuk meningkatkan value dari wilayahnya sudah bagus dan tinggal meneruskan.

Itu seiring dengan ditambahnya akses transportasi dan peningkatan infrastruktur. ”Jadi, karena sudah mulai terbuka di media dan sebagainya, jadi akses harus ditambah lagi,” ujarnya.

Selain menerapkan strategi marketing terhadap produk, dalam hal ini Banyuwangi, Anas berhasil meraih Indonesia Marketing Champion 2014 karena memperhatikan internal customer.

Contohnya, Anas memberikan pengarahan yang intensif kepada para pegawainya agar menguasai setiap detail strategi marketing yang diterapkan. ”Ini yang membuat Pak Anas unggul dibandingkan nominasi kepala daerah lainnya yang juga bagus-bagus,” terangnya.

Jpnn.com


11:48 PM | 0 comments | Read More

Bupati Azwar Anas Raih "Marketeer of the Year" 2014 dari MarkPlus Inc.

Banyuwangi Bagus on 12 December 2014 | 4:27 PM

Bupati Banyuwangi Azwar Anas menerima penghargaan sebagai marketeer of the year 2014 dari MarkPlus Inc.
Dinilai cukup berhasil memasarkan kabupaten Banyuwangi menjadi destinasi wisata unggulan dan tujuan investasi yang prospektif, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, berhasil menyabet gelar "Indonesia Marketing Champion 2014" untuk kategori kalangan pemerintahan (Government), dalam ajang penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh MarkPlus Inc.
Penghargaan prestisius ini, diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya kepada Anas di Jakarta, Kamis (11/12).

Pendiri MarkPlus, Hermawan Kartajaya mengatakan, beragam strategi pemasaran yang dilakukan Bupati Banyuwangi mampu mengangkat pamor daerahnya. Selain menjadi destinasi wisata unggulan, Banyuwangi juga mulai dilirik sebagai tempat berinvestasi.

"Dari ratusan kepala daerah, Pak Azwar Anas adalah salah satu yang inovatif dan sadar marketing. Banyuwangi juga mampu menyinergikan pengembangan destinasi wisatanya dengan pihak lain, termasuk dengan BUMN," ujar Hermawan.

Dewan Juri dalam penghargaan ini adalah sejumlah tokoh, antara lain, Menteri Pariwisata Arief Yahya, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, CEO MarkPlus Hermawan Kartajaya, dan Direktur Telkom M. Awaluddin.

Sejumlah kriteria dalam penilaian penghargaan ini antara lain pengaruh dan integritas personal, inovasi, kinerja, dan dampak komunitas. "Bupati Banyuwangi menunjukkan spirit marketing dalam kesehariannya," ujar Hermawan.

Salah seorang dewan juri, Dahlan Iskan, mengatakan, salah satu keunggulan Bupati Banyuwangi adalah kemampuan mengelola external customer dan internal customer sama baiknya.

"Ada kepala daerah lain yang hebat programnya, tapi tidak mampu mengelola para PNS-nya yang sesungguhnya adalah internal customer. Nah, Pak Azwar Anas ini hebat marketing untuk external marketing dengan kemampuan mendorong perubahan PNS secara baik," kata Dahlan.

"Pak Azwar Anas ini juga melakukan segala cara untuk memasarkan Banyuwangi. Saya tahu betul usahanya," ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemasaran daerah adalah hal strategis yang harus dilakukan untuk memajukan daerah. Bahkan, Anas memosisikan dirinya sebagai seorang salesman bagi Banyuwangi.

"Setiap ada kesempatan, saya selalu promosi. Di gadgetsaya lengkap tersimpan file presentasi data, foto, dan video tentang Banyuwangi. Ketemu orang di bandara, lewat Twitter, forum di mana-mana saya selalu pasarkan Banyuwangi," ujarnya.

Anas mengatakan, Banyuwangi memilki potensi besar yang belum tersentuh dengan maksimal sebelumnya. "Butuh niat kuat, diplomasi tepat dan kerja cerdas untuk menggali potensi itu demi kemajuan daerah. Strategi pemasaran yang tepat dengan mengandalkan banyak saluran distribusi, mulai media konvensional, media sosial, hingga beragam aktivasi, menjadi kuncinya,” kata Anas.

Sebelumnya, Banyuwangi memiliki image yang kurang positif sebagai daerah yang terkenal dengan aktivitas kleniknya. Selain itu derah ini juga dikelilingi oleh kawasan hutan dan pegunungan yang membuatnya sulit dijangkau. Kini, Banyuwangi semakin mudah diakses dengan adanya bandara yang tiap hari sudah diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air.

"Kami juga mendorong ekowisata yang mengandalkan wisata budaya dan wisata alam yang punya diferensiasi kuat dibanding daerah lain," tuturnya.

Tiap tahun di Banyuwangi digelar event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival yang banyak mengandalkan kerja sama dengan dunia usaha alias private partnership.

"Ini salah satu cara mengasah lahirnya birokrasi yang punya jiwa entrepreneurship. Dengan anggaran APBD minimal, kita berupaya menghadirkan berbagai event wisata berkelas, seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Jazz Pantai, dan Festival Gandrung Sewu," tuturnya.

"Terjadi perputaran ekonomi yang dinamis selama Banyuwangi Festival. Banyak orang yang datang, menginap di hotel-hotel, makan dan berbelanja oleh-oleh. Dengan berbagai event ini juga menunjukkan kalau Banyuwangi adalah daerah aman untuk daya tarik bagi masuknya investasi. Ibaratnya, menembak tiga burung dengan satu peluru," kata Anas.

Hasilnya, pada 2013, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 3,2 triliun, meningkat hingga 175 persen dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak drastis hampir 1.100 persen.

Citra Banyuwangi juga mulai bergeser menjadi kabupaten yang terdepan di Indonesia dalam bidang teknologi dengan menjadi kabupaten Digital Society di mana 1.300 titik wi-fitelah terpasang di berbagai tempat. Layanan publik juga mulai berbasis teknologi informasi.

"Tahun depan kami akan memperkuat brand Banyuwangi sebagai destinasi ekowisata dan investasi. Sudah ada beberapa strategi yang kami siapkan," pungkasnya.

Beritasatu.com
4:27 PM | 0 comments | Read More

Sambut Hari Korupsi, Banyuwangi Gelar Pameran Akuntabilitas Publik

Banyuwangi Bagus on 09 December 2014 | 9:10 AM

Sebagai bentuk transparansi penyelenggaraan pemerintah daerah, pemerintah kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar Pameran Akuntabilitas Publik. Pameran ini, berlangsung di depan Taman Sayu Wiwit, salah satu ruang terbuka hijau yang ada di Banyuwangi ini, juga sekaligus untuk memperingati Hari Antikorupsi Internasional yang jatuh tiap tanggal 9 Desember.

Kepala Bagian Humas Pemkab Banyuwangi, Juang Pribadi mengatakan, pameran tersebut berisi berbagai macam program akuntabilitas, mulai dari perencanaan pembangunan, pengelolaan anggaran, pertanggungjawaban anggaran, hingga program-program layanan publik lainnya.

Dalam pameran ini, lanjut dia, dipamerkan pula paparan sistem e-Village Budgeting alias penganggaran program pemerintahan desa berbasis dalam jaringan (daring) alias online yang akan diterapkan di Banyuwangi mulai 2015.

"Berbagai program yang ada sebenarnya sudah bisa diakses online, mulai dari penganggaran sampai layanan publik. Hanya saja kami bikin acara pameran untuk lebih menyosialisasikannya ke masyarakat. Ini bagian dari akuntabilitas publik yang menjadi pilar pengelolaan pemerintahan, selain transparansi dan partisipatif," kata Juang.

Dalam pameran itu, masyarakat bisa bertanya apa saja tentang program dan anggaran di Banyuwangi. Telah disiapkan 20 staf lintas dinas untuk memberi penjelasan, di antaranya dari Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab), Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa, dan beberapa dinas/badan lain.

"Masyarakat juga diberitahu cara melihat perencanaan anggararan hingga pertanggungjawabannya yang semuanya sudah online. Berbagai peraturan bupati terkait anggaran juga bisa dilihat di lokasi pameran, selain bisa dilihat di website resmi Pemkab Banyuwangi," tuturnya.

Juang menjelaskan, pameran akuntabilitas publik ini ke depan bakal menjadi agenda rutin Pemkab Banyuwangi. Lokasinya juga akan disebar ke kecamatan-kecamatan. Pemkab Banyuwangi, kata dia, juga mengajak para pelajar sejumlah sekolah untuk mengunjungi pameran itu untuk edukasi terkait pengelolaan pemerintahan. Apalagi, di Banyuwangi ada program Siswa Asuh Sebaya (SAS) di mana pelajar dari keluarga mampu mendonasikan dana sukarela ke pelajar dari keluarga kurang mampu.

"Dana SAS per 2013 sekitar Rp2 miliar. Dananya dikelola sendiri oleh siswa untuk siswa, dan sudah menjangkau lebih dari 300 sekolah. Dengan melihat pameran ini, bisa saja nanti para siswa terinspirasi untuk bikin laporan pertanggungjawaban yang bagus dan disampaikan dengan gaya kreatif khas anak muda," tambah dia.

Beritasatu.com
9:10 AM | 0 comments | Read More

Banyuwangi Raih Penghargaan Tata Ruang Terbaik Se Indonesia

Banyuwangi Bagus on 07 December 2014 | 11:18 PM

Banyuwangi meraih penghargaan Tata Ruang terbaik se Indonesia 2014.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menobatkan Kabupaten Banyuwangi sebagai kabupaten dengan penataan ruang terbaik se-Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry Mursyidan Baldan kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta, Jumat malam (5/12).

Penghargaan ini merupakan rangkaian dari Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD) Bidang Penataan Ruang yang diselenggarakan Kementerian PU dan Perumahan Rakyat untuk mendorong pemerintah daerah agar lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam penyelenggaraan penataan ruang. Sebelumnya, Banyuwangi pernah meraih penghargaan sebagai kabupaten/kota dengan perencanaan pembangunan terbaik dari BPN/Bappenas.  
Para penilai yang terlibat antara lain pakar perencanaan dan tata ruang wilayah dari IPB Dr Ir Ernan Rustiadi; ahli pemberdayaan masyarakat yang merupakan Presiden Combine Resource Institution, Dodo Juliman; dan pakar perumahan dan permukiman yang merupakan dosen dan peneliti di Kelompok Keahlian Perumahan dan Permukiman dan Program Studi Arsitektur ITB, Ir Moh. Jehansyah Siregar MT PhD.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penataan ruang sangat penting untuk mewujudkan daerah yang berkembang secara berkelanjutan. "Salah satu masalah krusial pasca-reformasi adalah penataan ruang di mana banyak sekali salah tata kelola. Maka kami mulai membenahi dengan serius," ujar Anas.

Dia mengatakan, penataan ruang yang berkualitas membuat investasi dan pembangunan di daerah dapat berjalan selaras dengan koridor keberlanjutan lingkungan.  "Penghargaan ini menjadi  semangat bagi kami untuk menjaga komitmen dalam menata daerah,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.
Dalam penilaian penataan ruang nasional, setiap daerah harus sudah memiliki peraturan daerah tentang rencana tata ruang dan rencana tata wilayah (RT/RW). Banyuwangi sendiri telah memiliki peraturan daerah (Perda) No 8 tahun 2012 tentang RT/RW yang berlaku selama 20 tahun. 

“Tidak hanya itu saja, instrumen hukum lainnya tentang penataan ruang juga lengkap tertuang dalam rencana detail tata ruang hingga tingkat kecamatan atau RDTRK, peraturan bupati (Perbup) tentang zonasi wilayah dan surat keputusan bupati (SK) tentang penataan kawasan,” imbuh Anas.

Penilaian penataan ruang terbaik tersebut berdasarkan tiga kriteria penilaian, yaitu perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang. “Ada kesesuaian yang terpadu  antara perencanaan tata ruang daerah dengan pemanfaatan wilayah. Pengendalian tata ruang yang terorganisasi juga dinilai menjadi keunggulan Banyuwangi,” kata dia.

Selama ini perencanaan tata ruang daerah telah tercantum dalam Perda RT/RW. Perda ini menjadi acuan wajib dalam setiap penerbitan advice planning (AP) oleh Badan Perencanaan Kabupaten (Bappekab) dan izin mendirikan bangunan (IMB) oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT). Inilah yang membuat perencanaan dan pemanfaatan tata ruang Banyuwangi menjadi sinkron.

Advice Planning sendiri adalah kajian yang menginformasikan peruntukan pemanfaatan lahan.

“Dalam perda, diatur zonasi wilayah pengembangan daerah. Misal Kecamatan A masuk zonasi kawasan industri maka advice planning investasi diarahkan ke kecamatan itu. Sedangkan Kecamatan B jadi kawasan bandara, maka pengembangannya sebagai daya dukung bandara. Begitu juga kecamatan-kecamatan yang lain," tuturnya.

Kebijakan tata ruang Banyuwangi juga dinilai unggul karena mampu mengakomodasi keraifan lokal. Contohnya pada kebijakan pembangunan hotel. Desain hotel harus menonjolkan ornamen khas Banyuwangi. Bahan baku bangunan juga harus mengandung unsur material lokal. 

“Contohnya pembangunan Hotel Santika, yang bagian depannya menampilkan visualisasi batik motif Gajah Uling khas Banyuwangi. Semua hotel wajib mengonsultasikan desain bangunannya kepada kami, apa sudah sesuai atau belum dengan kebijakan adopsi budaya lokal,” tutur Anas.

Pada kriteria pengendalian, Banyuwangi dianggap mampu membuat terobosan dengan penindakan yang tegas dan terorganisasi. Contohnya, kebijakan bangunan harus mundur 10 meter dari bahu jalan. Pembangunan yang tidak mematuhi aturan itu langsung disegel dan dihentikan operasinya. 

Begitu juga dengan bangunan tanpa IMB langsung disegel dan diberikan papan 
peringatan. “Terjadinya sinergi lintas dinas dalam penegakan perda juga menjadi satu poin lebih bagi Banyuwangi pada penilaian kali ini,”pungkasnya.

Jpnn.com


11:18 PM | 0 comments | Read More