Banyuwangi Raih Penghargaan Pangripta dari Gubernur Jatim

Banyuwangi Bagus on 15 April 2015 | 8:16 AM

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyerahkan penghargaan Pangripta kepada Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, di Ballroom Grand City Mall & Convex, Surabaya, Selasa (14/4/2015).

Anugerah Pangripta adalah penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jatim kepada pemerintah daerah yang memiliki perencanaan pembangunan terbaik, dan dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan daerah. Pemenang Pangripta provinsi ini akan mewakili Jawa Timur dalam Anugerah Pangripta Nusantara tingkat nasional.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Agus Siswanto mengatakan, kriteria penilaian meliputi 8 aspek antara lain keterkaitan program prioritas kabupaten dengan pemerintah provinsi dan pusat, konsistensi antara rencana kerja pembangunan daerah (RKPD) dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan kedalaman dan kelengkapan data dan analisis dalam penyusunan program-program prioritas.

Proses sebuah perencanaan pembangunan melalui musyawarah rencana (musren) dari tingkat desa sampai kabupaten berlangsung juga dinilai. "Keterlibatan dan peran DPRD dalam penyusunan RKPD juga menjadi poin plus. Tidak ketinggalan inovasi di bidang perencanaan dan pembangunan menjadi salah satu kelebihan Banyuwangi dari daerah lainnya," kata Agus, sebagaimana dilansir Humas Pemkab Banyuwangi.

Banyuwangi memiliki inovasi unggulan seperti tersedianya pagu indikatif bagi 24 kecamatan sebesar Rp 105 miliar. Pagu ini menjamin kepastian pendanaan bagi pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan (musrenbangcam). Selain itu penyusunan RKPD Banyuwangi juga dinilai transparan dan akuntabel, karena seluruh hasil musren melibatkan seluruh pemangku kepentingan pembangunan. Hasil musyawarah itu juga dipublikasikan melalui website milik pemda www. banyuwangikab.go.id.

"Sistem informasi perencanaan online Banyuwangi diintegrasikan dengan sistem informasi tata ruang yang meliputi seluruh desa dan kecamatan. Sehingga setiap usulan langsung diketahui posisinya dalam peta tata ruang," kata Agus. 

Beritajatim.vom

8:16 AM | 0 comments | Read More

Marinir Indonesia-AS Latihan "Survival" di Hutan Tumpang Pitu

Banyuwangi Bagus on 10 April 2015 | 9:09 AM

Pasukan khusus Marinir Amerika Serikat, US Marsoc, dan prajurit Intai Amfibi Marinir TNI AL yang sedang mengadakan latihan bersama menjelajahi hutan di Tumpang Pitu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (9/4).

Prajurit marinir kedua negara itu menjelajahi hutan dalam rangka latihan bertahan hidup (survival) di laut dan di hutan belantara.

Letda Marinir Arifin didampingi Serka Marinir Tri Purwito beserta sejumlah pelatih dari Batalyon Intai Amfibi (Taifib) 1 Marinir lainnya menjelaskan tata cara bertahan hidup di hutan dan di laut.Mereka memperkenalkan sekaligus mempraktikkan cara menangkap dan memasak sejumlah binatang buas, antara lain biawak dan ular.

Mereka juga memperkenalkan berbagai jenis tanaman hutan yang bisa dimakan secara langsung tanpa harus dimasak, termasuk juga tanaman yang tidak bisa dimakan karena membahayakan.

Selain itu para pelatih juga diperkenalkan berbagai macam hewan laut yang bisa dimakan.Prajurit Marinir kedua negara cukup antusias mengikuti materi latihan yang diberikan para pelatih andal dari Korps Marinir TNI AL tersebut.

Meski mulanya terlihat geli, prajurit Marinir Amerika terus mencoba mencicipi sejumlah tanaman dan hewan yang telah dicontohkan terlebih dulu oleh para pelatih, bahkan beberapa di antara mereka ada yang mencoba menangkap ular dan biawak.

Pada kegiatan yang merupakan rangkaian dari latihan bersama bersandi Lantern Iron 15-5524 itu, materi bertahan di laut dilaksanakan di Pantai Parang Kursi di kawasan hutan Tumpang Pitu, Lampon, Kecamatan Pesanggaran.

Selain melibatkan sejumlah pelatih yang terdiri atas perwira dan bintara, kegiatan bertahan hidup di hutan itu juga dipantau oleh Komandan Satuan Tugas Latihan Letkol Marinir Freddy Ardianzah.Latihan yang diselenggarakan sejak 19 Maret 2015 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Baluran, Situbondo, akan berakhir 10 April 2015.

Beritasatu.com

9:09 AM | 0 comments | Read More

Soekarwo Larang Pasir Banyuwangi untuk Uruk Teluk Benoa

Banyuwangi Bagus on 09 April 2015 | 12:22 PM

Gubernur Jatim tolak pasir Banyuwangi untuk reklamasi Teluk Benoa.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan secara prinsip dirinya menolak pengajuan izin PT Tirta Wahana Bali Internasional buat menambang pasir laut di Banyuwangi. Pasir itu dikeruk untuk mereklamasi Teluk Benoa, Bali. "Saya memang sudah dapat pesan singkat. Prinsip dasar, saya tidak sependapat," kata Soekarwo, Rabu, 8 April 2015.

Menurut Soekarwo, bila diberi izin penambangan pasir laut itu berpotensi merusak lingkungan di tiga kecamatan, yakni Rogojampi, Kabat dan Muncar. "Kalau permasalahan lingkungan harus dibicarakan dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Tapi prinsip dasar saya tidak setuju," ujarnya.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Dewi J. Putriatni menuturkan, jika izin menambang pasir laut itu ternyata masuk ke wilayah konservasi, maka Pemerintah Provinsi Jawa Timur menolak.

"Jika, misalnya, secara ekstrimnya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi nanti tetap mengeluarkan izin analisis dampak lingkungannya (amdal) meskipun masuk wilayah konservasi, Pemerintah Jawa Timur tetap menolak. Itu sudah pasti," kata Dewi.

Namun berbeda masalahnya bila pengajuan izin menambang tersebut dilakukan di wilayah yang dalam rencana tata ruangnya masuk wilayah penambangan. Apalagi dokumen amdalnya telah dikeluarkan oleh Pemerintah Banyuwangi serta telah diajukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup, otomatis Pemerintah Jawa Timur setuju. "Prosesnya masih panjang. Sampai sekarang kami belum menerima pengajuan izin penambangan dari perusahaan itu," ujar dia.

Sebelumnya Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Banyuwangi Abdul Kadir mengatakan PT Tirta Wahana menemui Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menambang pasir laut di kabupaten itu. Pasir laut itu akan digunakan untuk mereklamasi Teluk Benoa, Bali.

Abdul Kadir mengatakan perwakilan PT Tirta Wahana bertemu dengan pemerintah Banyuwangi pekan lalu. Perusahaan itu telah mensurvei pantai di tiga kecamatan yang dianggap berpotensi, yakni Kabat, Rogojampi, dan Srono. "Masih penjajakan," kata Kadir.

Tirta Wahana sendiri akan mereklamasi 700 hektare kawasan Teluk Benoa. Semula perusahaan itu berencana menggunakan pasir Bali dan perairan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Tapi Gubernur Nusa Tenggara Barat M. Zainul Majdi menolak rencana pengerukan pasir di wilayahnya karena akan merusak ekosistem lingkungan. Adapun proyek reklamasi Benoa ditolak masyarakat Bali.

Tempo.co
12:22 PM | 0 comments | Read More

Pendapatan Kabupaten Banyuwangi Naik 70%

Pendapatan perkapita Banyuwangi naik 70% berkat pariwisata.
Pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, naik tajam 70 persen dari Rp 14,97 juta pada 2010 menjadi Rp 25,5 juta pada 2014.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Banyuwangi Agus Siswanto mengatakan, pendapatan per kapita Banyuwangi sudah melampaui sejumlah kabupaten lain di Jatim yang sebelumnya di atas kota itu.

Agus mengatakan, pembangunan ekonomi di Banyuwangi yang memadukan antara pariwisata dan lanskap pertanian memacu banyak sektor ekonomi untuk tumbuh.

Dari aspek investasi, pada 2012, nilai investasinya sebesar Rp 1,19 triliun. Nilai investasi kemudian meningkat 280 persen menjadi Rp 3,38 triliun pada 2013. Adapun pada 2014 sebesar Rp. 3,44 triliun atau naik 1,7 persen dibanding 2013. Hingga awal Maret 2015, investasi yang sudah masuk Rp 586,57 miliar.

Salah satu investasi adalah pembangunan hotel. "Saat ini sejumlah hotel dari grup besar juga sedang memproses pembangunan hotel. Kami masih kekurangan kamar hotel, banyak investasi baru bidang perhotelan yang masuk," kata Agus.

Pada 2013 nilai tambah investasi Rp 30,46 miliar, tumbuh 16% dibanding 2012 sebesar Rp 26,25 miliar. Jika dibandingkan tahun 2010 yang sebesar Rp 18 miliar, ada peningkatan 60,5 persen. Ini menunjukkan kelompok seni-budaya menggeliat.

Adapun Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) naik tajam 71 persen dari Rp 23,56 triliun pada 2010 menjadi Rp 40,48 triliun pada 2014.

Beritajatim.com
12:05 PM | 0 comments | Read More

BUFA Bangun Hotel Dialoog di Banyuwangi

PT BUFA bangun Hotel Dialoog di Banyuwangi.
Kelompok perusahaan di bidang jasa hospitality yang mencakup bidang perhotelan, F&B dan vila, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), melalui PT. Mitra Banyuwangi Selaras (MBS), menggelar peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Hotel Dialoog Banyuwangi, Rabu (8/4). Peresmian ini, sekaligus juga menandai dimulainya peluncuran Dialoog, merek terbaru dari BUVA.

Direktur BUVA, Hendry Utomo mengatakan, kehadiran Dialoog dapat mengikuti kisah sukses merek terdahulunya, yaitu Alila. "Produk ini dimaksudkan untuk menjaring pangsa pasar yang menyukai desain Alila namun pada harga yang lebih terjangkau, yang saat ini berkembang dengan sangat pesat di Indonesia," ujar Hendry dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (8/4).

Saat ini, BUVA memiliki 2 Hotel Resor yang beroperasi dengan menawarkan 133 unit hunian eksklusif yang terdiri dari 65 villa di Uluwatu, ditambah dengan 56 kamar dan 12 villa di Ubud. Ditahun 2014, pendapatan lini bisnis hotel BUVA mengalami pertumbuhan sebesar 17,8 persen (YoY) menjadi Rp 188 miliar dengan kontribusi terhadap total pendapatan sebesar 73 persen.
"Tahun ini, BUVA menargetkan penambahan 240 kamar dan tingkat rasio occupancy rata-rata semua hotelnya mencapai 75 persen," jelas Hendry.

Direktur Utama MBS, Winarti Indrajaya mengatakan, Dialoog merupakan konsep hotel yang diciptakan untuk mengakomodasi pertumbuhan yang sangat pesat di segmen kelas menengah Indonesia.

"Menggunakan DNA desain dari Hotel Alila, Dialoog menyajikan suatu konsep inovasi desain yang fokus pada kenyamanan tamu serta kecepatan dan kemudahan layanan melalui teknologi yang mutakhir untuk menghasilkan harga yang terjangkau," ujar Winarti.

Menyoal pemilihan lokasi Dialoog di Kabupaten Banyuwangi, dia menyatakan, hal itu berdasarkan potensi alam yang beragam, dari dataran rendah hingga pegunungan, pantai, dan taman nasional. Banyuwangi yang berjuluk The Sunrise of Java, memiliki berbagai tempat wisata alam yang bagus seperti Kawah ijen, G-Land, Pantai Plengkung, Pantai Sukamade dengan konservasi penyunya, Taman Nasional Meru Betiri dan Alas Purwo, serta Pulau Merah.

"Selain itu, Banyuwangi juga menyajikan berbagai acara dan seni budaya sepanjang tahun, antara lain Banyuwangi Ethno Carnival, festival batik, tari Gandrung. Kombinasi ini menjadikan Banyuwangi tujuan pilihan para wisatawan," tambah dia.

Dibawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, kata Winarti, Banyuwangi telah berkembang dengan sangat pesat, baik dari segi ekonomi maupun budaya. Hal inilah yang kemudian menarik perhatian para pengusaha, untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, khususnya industri pariwisata di wilayah ini.

"Dalam 2014, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Banyuwangi mencapai 30.000 orang, dengan rata-rata tinggal selama 2,5 hari, serta pengeluaran sebesar US$ 240 per orang. Dengan banyaknya tujuan wisata, tentunya Banyuwangi memerlukan fasilitas pendukung wisata seperti akomodasi yang memadai," jelasnya.

Lebih lanjut Winarti mengatakan, kehadiran Dialoog dipastikan bakal menyemarakkan pasar branded hotel di Indonesia. Langkah itu diawali dengan pembangunan hotel Dialoog di Banyuwangi dan Cirebon, dimana keduanya dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2017.

"Setelah itu, Dialoog akan membangun sebanyak 15-25 hotel dalam 5 tahun mendatang, di kota-kota di seluruh Indonesia," tambah Winarti.


Beritasatu.com
11:40 AM | 0 comments | Read More