DISAHKAN, PERDA TENTANG CAGAR BUDAYA BANYUWANGI

Written By Banyuwangi Bagus on 23 April 2014 | 07.35

DPRD Banyuwangi mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Cagar Budaya. Dalam Perda Cagar Budaya ini mengatur bahwa benda, bangunan, lingkungan yang memiliki nilai sejarah serta menunjukkan identitas keaslian Banyuwangi dilindungi oleh Pemda Banyuwangi.

Selain ada sanksi hukum bagi siapapun yang dengan sengaja melakukan jual beli barang cagar budaya Banyuwangi, Perda ini juga jadi landasan transformasi Banyuwangi dalam Pariwisata dan Budaya di tengah industri pariwasata.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan, Banyuwangi miliki segudang warisan budaya dan situs sejarah yang miliki nilai historis. Dan saat ini perda cagar budaya menjadi suatu kebutuhan mendesak bagi Kabupaten Banyuwangi, supaya situs sejarah Banyuwangi seperti Situs Macan Putih yang banyak diperjualbelikan keluar Banyuwangi bisa dihadang dan dilindungi.

Selain perlindungan situs sejarah, Perda Cagar Budaya ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan nilai cagar budaya saat gencarnya pengembangan industri pariwisata di Banyuwangi.

"Banyak aset Banyuwangi yang memiliki nilai sejarah dan ciri asli, sehingga perlu ada perlidungan. Saya tidak ingin pintu sejarah masa lalu dari Banyuwangi hilang tanpa jejak. Semoga ini bisa bertransformasi dengan program industri pariwisata dan tetap menggaris bawahi, melindungi aset sejarah Banyuwangi." ujar Bupati Anas usai rapat Paripurna di DPRD Banyuwangi, Selasa (22/4/2014).

Perda ini, sambung Bupati Anas, merupakan produk hukum tertinggi dalam daerah yang bukan hanya berdampak jangka pendek tapi juga melindungi kepentingan pembangunan dan historis Banyuwangi dalam tantangan kedepan yang semakin kompleks.

Dalam waktu dekat, Perda Cagar Budaya ini akan dikirim ke Gubernur Jawa Timur agar segera diklarifikasi dan hasilnya bisa dapat diterapkan. Meski begitu Bupati Anas menegaskan bahwa aplikasi perda ini bisa sukses diterapkan jika semua lini aparatur pemerintahan dan masyarakat saling memiliki kesadaran tentang arti pemeliharaan kebutuhan sejarah.

Diharapkan dukungan dan dorongan terhadap Perda Cagar Budaya ini kedepan tidak ada lagi aset cagar budaya Banyuwangi yang diperjual belikan. Bupati Anas juga meminta untuk menindak tegas oknum yang terlibat dengan kegiatan tersebut.

Perda Cagar Budaya ini dibuat dengan mengacu Peraturan yang berlandaskan pasal 30 ayat 1 UUD 1945 tentang hak masyarakat dalam memelihara dan melindungi nilai-nilai budayanya. Maknanya pelestarian budaya leluhur akan membentuk jati diri dan martabat bangsa serta meningkatkan rasa persatuan.
Selain dari pasal tersebut, UU No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya juga mewajibkan pemerintah daerah melaksanakan kebijakan untuk memajukan kebudayaan daerah. Diamanatkan juga pemerintah daerah memberi ruang partisipasi masyarakat dalam mengelola kebudayaan daerah dengan manajemen perlindungan, pengembangan dan pelestarian cagar budaya sebagai warisan budaya leluhur bangsa.
"Jika ada oknum yang menjual segera dilaporkan dan diproses sesuai hukum," tutupnya.

Detik.com









07.35 | 0 komentar | Read More

MENIKMATI IKAN BAKAR DI PANTAI BLIMBINGSARI, MAK NYUS...

Written By Banyuwangi Bagus on 21 April 2014 | 00.35

Menikmati ikan bakar dipinggir pantai pasti enak. Apalagi ikan yang dibakar masih segar dan baru dibawa nelayan dari melaut.

Banyuwangi yang memiliki panjang pantai 175 Kilometer, pantas saja memiliki sentra kuliner khusus ikan bakar dan masakan laut. Dengan pendapatan ikan yang melimpah menjadikan surga bagi para penikmat ikan bakar dan masakan berbahan hasil laut.

Terletak 10 Kilometer dari pusat kota Banyuwangi, Pantai Blimbingsari , Kecamatan Rogojampi terkenal sebagai sentra makanan khas berbahan ikan. Atau jika dari Bandara Blimbingsari, hanya sekitar 5 menit. Lokasinya yang dipinggir pantai ini, memudahkan penjual mendapatkan ikan. Dan untuk penikmat ikan bakar, mereka mendapatkan sensasi makan di pinggir pantai sambil ditemani angin laut.

Pada libur weekend, kebanyakan warung lesehan tersebut dipadati wisatawan dari luar kota, seperti Surabaya, Jember dan Bali.

"Disini ada sekitar 15 warung lesehan. Semuanya jual ikan bakar dan masakan sea food lainny," ujar Misri (49) salah satu pemilik lesehan di Blimbingsari, Minggu (19/4/2014).

Misri mengaku, dirinya bisa menghabiskan 10 sampai 11 kilogram ikan segar perhari. Namun jika weekend dan hari libur, warung lesehannya bisa menjual hingga 70 kilogram perhari.

"Paling laris ikan Kerapu, Tambak Moncong, Kakap Merah Putihan. Kebanyakan dibakar. Lainnya mungkin di asam manis. Selain ikan, ada juga cumi dan kepiting, tapi musiman," tambah Misri.

Tidak sulit bagi Misri mendapatkan ikan segar. Dirinya sudah memiliki langganan nelayan yang mencukupi stoknya. Ikan-ikan segar itu diambilnya dari nelayan di Blimbingsari, Muncar dan Grajagan.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku adanya sentra ikan bakar di pantai Blimbingsari Banyuwangi ini bisa menumbuhkan ekonomi rakyat warga sekitar. Dulu, pantai Blimbingsari hanyalah tempat parkir parahu nelayan. Namun lambat laun pantai dengan pemandangan pulau bali ini menjadi sentra ikan bakar. Baru setelah itu, Pemkab Banyuwangi membangun infrastruktur penunjang adanya sentra tersebut.

"Kita bangun jalan menuju pantai Blimbingsari dan pagar agar pantai tidak tergerus ombak. Ini merupakan salah satu andalan wisata kuliner Banyuwangi," ujar pria yang memiliki segudang prestasi ini.

Detik.com
00.35 | 0 komentar | Read More

PEMKAB CIAMIS BELAJAR TATA KELOLA PEMERINTAHAN KECAMATAN DI BANYUWANGI

Written By Banyuwangi Bagus on 20 April 2014 | 20.37

Pemerintah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, melakukan kunjungan kerja sekaligus mempelajari tata cara penyelenggaraan pemerintahan kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dinilai cukup berhasil dengan berbagai terobosannya.

Dalam kunjungan yang dipimpin Asisten Administrasi Pemerintahan Kabupaten Ciamis Endang Supriatna pada beberapa hari lalu, turut serta sebanyak 18 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan 26 camat se-Kabupaten Ciamis.

"Tujuan kami membawa pejabat di Ciamis ke Banyuwangi untuk belajar dan meniru dalam hal menjalankan penyelenggaraan pemerintahan di kecamatan," kata Endang Supriatna, seperti dikutip dari Humas Pemkab Banyuwangi, Minggu.

Di Kabupaten Ciamis, katanya, terdapat 26 kecamatan dengan luas wilayah 2.556,75 kilometer persegi. Melihat kondisi di Banyuwangi yang hampir sama jumlah kecamatannya, Pemkab Ciamis ingin bertukar informasi dalam menyelenggarakan pemerintahan kecamatan sesuai PP Nomor 19 Tahun 2008.

Mulai dari pelayanan publik hingga bagaimana mendapatkan untung yang bisa menjadi pendapatan daerah. Selain juga bagaimana membangun infrastruktur di kecamatan.

"Selain itu, kami juga bertukar informasi apapun untuk memajukan Kabupaten Ciamis, karena kami sering mendengar bahwa Banyuwangi banyak diperbincangkan di mana-mana dan ternyata benar. Banyuwangi kotanya bersih, banyak ruang terbuka hijau dan udaranya sangat segar," ujar Endang Supriatna.

Menanggapi hal itu, Asisten Administrasi Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi Choliril Ustadi dan Asisten Administrasi Umum, Pembangunan dan Kesra Drs Sulihtiyono mengatakan selain berpijak pada PP Nomor 19 Tahun 2008, secara umum penyelenggaraan sistem pemerintahan di kecamatan menggunakan sistem pagu indikatif dan pelayanan kepada masyarakat secara online.

"Artinya, di Banyuwangi dalam memberikan layanan kepada publik sudah memanfaatkan tekonologi informasi dengan istilah 'one stop service', misalnya dalam surat menyurat dan macam-macam pelayanan administrasi kependudukan," katanya.

Menurut ia, sistem pelayanan berbasis IT juga sudah diterapkan di kelurahan-kelurahan yang langsung terhubung dengan kecamatan.

Pada kesempatan itu, rombongan dari Pemkab Ciamis diajak meninjau sejumlah kantor kecamatan untuk melihat langsung kondisi di lapangan.

Selain itu, Ustadi juga menunjukkan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai di Banyuwangi, mulai infrastruktur jalan, bandara hingga pemberian TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) kepada PNS di luar gaji yang diterima setiap bulan.

"Pemberian TPP ini sebagai penghargaan bagi PNS atas kinerjanya, selain juga untuk memotivasi PNS agar bekerja lebih giat sesuai kompetensinya. Ini kebijakan masing-masing
daerah dan mungkin bisa diberlakukan di Kabupaten Ciamis," kata Ustadi.

Antarajatim.com
20.37 | 0 komentar | Read More

BANYUWANGI MENYIMPAN POTENSI BUDIDAYA KERANG MUTIARA

Budidaya kerang mutiara di Banyuwangi
Banyuwangi ternyata menyimpan potensi kelautan bidang budidaya kerang mutiara di perairan Teluk Banyu Biru, Kecamatan Tegaldlimo, yang cukup menjanjikan. Dalam setahun, lebih dari 120 kilogram (kg) mutiara budidaya asal Banyuwangi diekspor ke perusahaan perhiasan di Australia.

Direktur PT. Disthi Mutiara Suci, Taufik Dwi Komara menjelaskan, lahan perairan seluas 400 hektar di Teluk Banyu Biru itu kini dihuni lebih dari 140 ribu kerang mutiara yang siap dipanen secara bertahap. Biasanya panen dilakukan 2 kali dalam setahun. Dalam sekali panen bisa dihasilkan sekitar 60 kg mutiara.

Untuk pemasaran hasil budidaya, Taufik tak perlu bingung, sebab sejak setahun lalu salah satu perusahaan produsen perhiasan asal Negeri Kanguru sudah siap menampung berapa pun hasil mutiara yang dihasilkan. Pada perusahaan itu, pihaknya menjual dengan harga khusus, per gram mutiara dibandrol dengan harga Rp 150 ribu. Tak heran jika keuntungan dari bisnis budidaya kerang mutiara ini begitu menggiurkan.

"Per gram mutiara, biasanya kami bisa menjual seharga Rp 150 ribu. Pertahun keuntungan sekitar Rp 2 miliar lah," jelas Taufik pada detikFinance saat berbincang di perairan Teluk Banyu Biru, Minggu (20/04/2014).
Budidaya kerang mutiara ramah lingkungan tentu sangat di dukung oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya pada Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Banyuwangi, Suryono Bintang menuturkan, sebelum ada budidaya kerang mutiara hampir semua terumbu karang di lokasi tersebut mati akibat pengeboman ikan dan penangkapan ikan dengan potasium. Namun kini, keberadaan budidaya kerang mutiara sangat membantu para nelayan karena bisa mengembalikan ekosistem ikan yang sudah mulai habis di perairan tersebut.

"Dengan adanya budidaya kerang mutiara daerah sini otomatis terjaga, terumbu karang tumbuh, dan ikan ikan pun kembali banyak lagi," jelasnya.

Sementara itu, ditemui terpisah Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menambahkan, saat ini Teluk Banyu Biru merupakan lokasi satu-satunya pengembangan budidaya kerang mutiara. Masih ada beberapa lokasi perairan di Banyuwangi yang berpotensi untuk pengembangan investasi serupa.

Seperti di Teluk Kayu Aking, Setupen, Teluk Kremisan, Rajegwesi dan beberapa spot perairan di Pesanggaran. Untuk meningkatkan potensi kelautan sekaligus merehabilitasi biota laut, tentu Pemda akan mengijinkan investor masuk, asalkan para investor mau mengikuti rules yang berlaku di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

"Spot kita mutiara masih banyak tapi investornya masih belum banyak. Dengan potensi air yang masih baik dan jernih, pasti ini akan jadi nilai ekonomis yang bermanfaat. Dan yang pasti berbasis masyarakat," pungkas Anas.


 Detik.com
20.30 | 0 komentar | Read More

MR SLAMET, PENARIK BECAK SPESIALIS TURIS BULE

Written By Banyuwangi Bagus on 19 April 2014 | 07.42

Hiruk pikuk Pasar Banyuwangi ramai seperti biasanya. Namun di sudut pasar itu, sekumpulan tukang becak sedang menyimak perbincangan dua orang dengan bahasa Inggris.
Ya, mereka sedang belajar bahasa Inggris. Dari beberapa tukang becak, terlihat seorang tukang becak yang aktif melafalkan kata demi kata dalam bahasa Inggris.

Dia adalah Slamet atau biasa dipanggil Mister Slamet. Pria 53 tahun ini sangat aktif mengikuti pelajaran tersebut.
"My name mister Slamet, do you want to see Banyuwangi with my becak, madam?" ujar Slamet di depan tutor dan para tukang becak lainnya.

Slamet sangat aktif menjawab ataupun menirukan kalimat-kalimat sapaan dan dialog bahasa Inggris ini. Tak jarang gelak tawa muncul ketika mereka salah mengucap kalimat itu.
"Can I help you? Ayo dicoba," ujar Aekanu, guru bahasa Inggris yang mengajar para tukang becak ini. Lantas mereka serentak mengikutinya.

Namun Slamet dengan lantangnya mengatakan "Can I Love You?". Sontak saja membuat tertawa orang-orang di sekitar yang kebetulan mendengarnya.

Mister Slamet sudah 3 tahun ini menjadi tukang becak setelah memilih banting setir dari tukang ojek. Lantaran menjadi tukang becak lebih menjanjikan pendapatan lebih, dirinya meninggalkan profesi tukang ojeknya.

Apalagi saat ini, dirinya menjadi spesialis pengangkut turis yang ingin "city tour" dengan menggunakan becaknya. Namun sekali-kali dirinya juga menarik ojek untuk wisatawan "backpacker" ke Kawah Ijen dengan tarif Rp 300 ribu perhari.

"Kalau janjian dengan turis mas, kita harus tepat waktu. Turisnya minta jam 7 ya kita datang jam setengah 7," ujar pria beranak 3 ini.

Dari segi pendapatan, Slamet mengaku dirinya mendapatkan lebih menjadi tukang becak untuk turis ini. Rata-rata untuk turis dirinya mematok harga Rp 30 ribu rupiah, untuk keliling Pasar Banyuwangi - Taman Blambangan - Klenteng kuno Hoo Tong Bio dan Taman Sritanjung.

"Ibaratkan turis itu tambang mas, jika kita ramah dan baik dengan turis, pasti kita dapat uang dari mereka," ujarnya sambil membenahi roda becaknya.

Diakui Slamet, dirinya baru sekali mendapatkan pelatihan tukang becak sadar wisata dan tahun 2013 lalu. Selama 2 hari Slamet digembleng ilmu bahasa Inggris dan obyek wisata alam di Banyuwangi.
Pelatihan itu difasilitasi Pemkab Banyuwangi supaya masyarakat penyokong daerah wisata, juga bisa menjadi promotor wisata terutama bagi wisatawan asing.

"Yang saya hapal pertama adalah kata tips dan how much. Saya baru pertama diajak kursus. Saya berharap ada lagi biar saya tambah pinter bahasa Inggris," tandas pria kurus ini.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengakui bahwa keberadaan tukang becak di daerahnya patut juga diperhatikan untuk menunjang pariwisata yang sedang menggeliat.

"Mereka perlu diberikan bekal agar bisa melayani wisatawan dengan ramah dan baik. Tidak boleh aji mumpung, terus memahalkan tarif. Begitu pula bekal bahasa juga kita berikan secara bertahap, ini bagian dari proses," kata Bupati Anas, Kamis (17/4/2014).
Detik.com













07.42 | 0 komentar | Read More