BANYUWANGI BAGUS Info Banyuwangi Terbaru

BUS BANDARA BLIMBINGSARI DIOPERASIKAN

Written By Banyuwangi Bagus on 23 Mei 2013 | 23.36


Bandara Blimbingsari di Banyuwangi, kini dilengkapi dengan pelayanan bus Damri. Pengoperasian dua bus bandara tersebut diresmikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Soeroyo Ali Moeso, Rabu, 22 Mei 2013. Bus tersebut akan menjadi penghubung antara bandara, pelabuhan, dan stasiun di Banyuwangi.

Bus tersebut dibeli melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2013 dengan anggaran Rp 1,2 miliar. Bus bandara hadir dengan Hino tipe Dutro tahun pembuatan 2012. Setiap bus berkapasitas 17 tempat duduk, dilengkapi fasilitas reclining seat, AC, Audio/Video, serta Wi-Fi.

Bus bandara ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Perhubungan, Perum Damri, dan PT Telkom Indonesia Tbk. Peluncuran bus bandara itu dihadiri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Soeroyo Ali Moeso dan Dirut PT Telkom Tbk Arief Yahya.

Soeroyo mengatakan, konektivitas sangat penting untuk meningkatkan kinerja sektor transportasi sebagai penyangga utama sistem logistik nasional. Konektivitas yang bagus akan mengefisienkan ekonomi.

"Jika konektivitas bagus, tidak ada bottleneck di antara sentra arus barang dan orang seperti bandara, pelabuhan, maupun stasiun. Ini meningkatkan daya dorong sektor transportasi untuk menggerakkan perekonomian," kata Soeroyo. Penyeberangan dari Ketapang akan terintegrasi dan mandiri, serta menjadi sistem utuh. "Ke depannya, jumlah bus akan ditambah menyesuaikan banyaknya jam penerbangan di Banyuwangi," tambah Soeroyo.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Banyuwangi Nur Agus Suharto mengatakan, bus bandara ini adalah fasilitas penunjang moda transportasi bandara. "Selama ini calon penumpang pesawat masih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke bandara. Bus ini diharapkan sebagai solusi transportasi ke bandara," kataAgus.

Pemberangkatan bus ini, kata Agus, menyesuaikan jadwal penerbangan Surabaya-Banyuwangi. Untuk saat ini, setiap bus berangkat mulai pukul 07.00 WIB, sesuai jadwal penerbangan maskapai Lion Air yang berangkat pada 10.00 WIB. "Tarifnya Rp 20 ribu per orang," kata Agus.

Ada dua rute yang disediakan, yakni rute ke arah utara, menuju Terminal Sritanjung-Stasiun Ketapang-Penyeberangan Ketapang -Terminal Brawijaya-dan bandara. Sedangkan rute untuk jalur selatan adalah Terminal Genteng-Jajag-Srono-bandara.

Sementara itu, Bupati Anas menyatakan, bus bandara ini bentuk komitmen membangun insfrastruktur awal pendirian terminal terpadu di Banyuwangi. Terminal terpadu tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 5 hektar yang akan berfungsi sebagai penghubung antarmoda transportasi, yaitu transportasi darat, laut, dan udara.

Lokasinya direncanakan di sekitar Stasiun Ketapang. Saat ini pendirian terminal terpadu sudah memasuki tahapan pembuatan masterplan setelah kajian kelayakannya selesai. "Pembangunannya akan memakai dana APBN. Akan mulai dikerjakan 2014," kata Anas. Kehadiran terminal terpadu tersebut juga untuk menunjang keberadaan kawasan industri di Banyuwangi. 

sumber : Tempo, Antarajatim
23.36 | 0 komentar | Read More

PEMKAB BANYUWANGI ANGGARKAN BEASISWA 500 JUTA


Kabar baik bagi para siswa lulusan SMA Banyuwangi yang berprestasi namun berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka bisa mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tahun ini pemda menyediakan beasiswa Rp 500 juta untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.

Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono, Selasa (21/5/2013) mengatakan, ada dua kategori beasiswa yang diberikan pemkab, yakni beasiswa penuh sampai akhir masa studi dan beasiswa masuk perguruan tinggi.

Beasiswa penuh termasuk SPP dan uang saku diberikan kepada siswa yang tak mampu namun berprestasi.

Adapun beasiswa masuk perguruan tinggi diberikan untuk siswa berprestasi. Tetapi untuk sementara waktu, beasiswa penuh baru diberikan kepada siswa yang lolos ujian masuk di Universitas Jember dan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri Jember .

"Syaratnya mereka harus lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan disaring. Kalau ternyata kuotanya lebih dari 50 siswa yang memenuhi syarat, kami bisa mengajukan tambahan dana beasiswa dari APBD lagi," kata Sulihtiyono.

Khusus untuk beasiswa penuh, para siswa akan mendapatkan dana Rp 12 juta setahun. Selanjutnya para penerima beasiswa itu harus konsisten menunjukkan prestasinya dengan capaian nilai IPK minimal 3,5 untuk sosial dan 3,0 untuk eksakta.

22.44 | 0 komentar | Read More

TIGA DIRUT BUMN JADI GURU SEHARI DI BANYUWANGI

Written By Banyuwangi Bagus on 20 Mei 2013 | 20.56


Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, tiga direktur utama badan usaha milik negara menjadi guru sehari di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka menjadi guru tamu di SMA almamaternya masing-masing.

Tiga direktur utama tersebut adalah Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Arief Yahya, Direktur Utama PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) Agus Dwitarto, dan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X Subiyono.

Arief Yahya menjadi guru di SMA Negeri 1 Glagah pada pukul 07.00 WIB. Di hadapan ratusan siswa, Arief bercerita tentang riwayat hidupnya hingga mampu menduduki jabatan tertinggi di PT Telkom. "Dulu saya satu-satunya lulusan Banyuwangi yang diterima di Institut Teknologi Bandung," kata Arief, Senin, 20 Mei 2013.

Adapun Agus Dwitarto menjadi guru di SMA Negeri 1 Genteng. Agus menjadi guru sekaligus pembina upacara Hari Kebangkitan Nasional di lapangan sekolah tersebut pada pukul 07.00 WIB. "Jangan pernah menepuk dada sendiri karena keberhasilan kita juga berkat bantuan orang lain," pesan Agus kepada para siswa.

Sedangkan Subiyono menjadi guru di SMA Katolik Hikmah Mandala pada pukul 11.00 WIB. Para siswa yang seharusnya libur, datang untuk menyambut Direktur BUMN yang memproduksi gula terbesar di Indonesia ini.

Bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, Subiyono, sepanjang 1 jam menceritakan lagi masa kecilnya saat menuntut ilmu.

"Dulu saya ngekos, karena jauh di desa. Ujian pun harus ujian negeri pula. Tapi itu tak menyurutkan semangat saya belajar, sampai seperti ini," katanya.

Gerakan Direksi Mengajar ini merupakan instruksi Menteri Negara BUMN terkait dengan Hari Kebangkitan Nasional. Direksi melakukan gerakan mengajar di sekolah tempat dahulu menuntut ilmu untuk menginspirasi siswa melalui berbagai cerita tentang kesuksesan karier mereka.

sumber : Tempo,  Kompas
20.56 | 0 komentar | Read More

PEMKAB BANYUWANGI SIAPKAN 120 MILIAR UNTUK PERBAIKAN JALAN RUSAK


Pada tahun 2013 ini, Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Banyuwangi akan membangun dan memperbaiki jalan yang rusak sepanjang 300 kilometer dengan anggaran sebesar Rp120 miliar.

"Selain itu, Pemkab juga menyiapkan 3.000 drum aspal untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan desa yang rusak ringan," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Banyuwangi Mudjiono, Minggu.

Menurutnya,  aspal tersebut akan diberikan kepada kelompok masyarakat yang membuat proposal untuk perbaikan jalan seperti jalan desa, jalan antar desa, jalan kecamatan dan jalan antar kecamatan.

"Ini merupakan stimulan untuk mendorong masyarakat melakukan swadaya perbaikan jalan dengan bantuan aspal dari pemerintah. Secara teknis masyarakat yang menutup lubang jalan yang rusak dan kami akan mengaspal jalan itu," tuturnya.

Sejumlah proposal yang diajukan ke Dinas PU Bina Marga dan Cipta Marga, lanjut dia, akan dicek ke lokasi dan diukur kebutuhanya aspalnya, dengan catatan jalan tersebut kondisinya rusak ringan.
"Tahun lalu, kami mendistribusikan sebanyak 1.000 drum aspal untuk pemeliharaan jalan sepanjang 22 km yang tersebar di lima desa yakni Desa Sumbergondo, Temborejo, Sumbersewu, Gombengsari, dan Sumberagung," ujarnya.

Ia menjelaskan infrastruktur merupakan salah satu sarana pendukung masuknya gerbang investasi atau aksesibilitas dalam memperlancar aktivitas perekonomian di daerah, sehingga pemkab terus meningkatkan anggaran pemeliharaan atau pembangunan jalan poros di seluruh wilayah kabupaten setempat.

"Selama dua tahun terakhir ini Pemkab Banyuwangi terus membangun dan memelihara Infrakstruktur jalan sebagai alat yang utama pembuka aksesbilitas ke segala sektor," katanya.

Untuk akses pariwisata, Dinas PU juga telah merencanakan pelebaran jalan menuju objek wisata bagi peselancar di Plengkung (G-Land) dari Tegaldlimo - Dambuntung Kalipahit, serta arah ke Rowobayu di Kecamatan Songgon.

20.24 | 0 komentar | Read More

MUSIK BANYUWANGIAN, ANTARA GAIRAH INDUSTRI REKAMAN DAN GELIAT BINTANG LOKAL

Written By Banyuwangi Bagus on 19 Mei 2013 | 00.31


Jujur sun akoni ati ingsun seng lilo/ jujur sun akoni welas iki yo mung kanggo riko…// (jujur ku akui hatiku tak rela/ jujur ku akui sayang ini hanya untuk dirimu…) //

Penggalan lagu cinta berjudul ”Sun Akoni” itu mengalun ceria. Penyanyi aslinya adalah Demi Ganden. Namun, pada Sabtu (2/3), Dewa Arya (25) menyanyikan lagu itu layaknya seorang artis betulan.

Pemuda itu berkaraoke di Sinar FM, stasiun radio komunitas di Desa Pengantigan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Siarannya bisa didengar hingga radius 5 kilometer. Pendengar radio pun heboh. Arimbi, sang disc jockey radio komunitas Sinar FM, kebanjiran pesan singkat (SMS) yang isinya meminta lagu itu dinyanyikan ulang.

”Ayo Mas, diputer maneh tembange... marai kelingan sing lawas yoo... (Ayo Mas, diputar lagi lagunya... bikin ingat yang lama, ya),” ujarnya.

Di perkampungan, lagu itu pun ditirukan Ardi (33), penjual rujak soto di Rogojampi, Banyuwangi. Suaranya yang mengalun membawakan lagu banyuwangian itu dalam nada yang mendayu-dayu. Di lapak-lapak penjual CD, lagu yang dinyanyikan Demi itu pun diputar berkali-kali tanpa henti.

Selain ”Sun Akoni”, lagu lain yang sedang melejit adalah ”Layang Sworo” yang dinyanyikan artis lokal Ratna Antika. Lagu ini juga dibuat dalam beberapa versi musik, mulai dari slow, tradisional, hingga koplo, tetapi tetap dengan bahasa Using (banyuwangian) dan Jawa.

Tidak hanya di radio komunitas, radio komersial-profesional pun ikut keranjingan lagu banyuwangian. Sebut, misalnya, radio Blambangan FM. Radio ini punya blocking time khusus untuk tembang banyuwangian, mulai dari musik banyuwangian terbaru hingga klasik seperti kendang kempul atau patrol.

Bagi warga Banyuwangi, lagu banyuwangian memang menarik karena lebih asyik dan lebih sering cocok mengena di hati seperti perkataan kisah sehari-hari. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Jember Ayu Sutarto mengatakan, lagu banyuwangian merupakan cermin semangat identitas warga Banyuwangi.

”Sejak dulu masyarakat Banyuwangi merasa bukan Bali atau Jawa. Maka, identitas Using ini ditonjolkan dan akan terus bertahan,” kata Ayu.

Musik banyuwangian memang menjadi tuan rumah di tempat sendiri. Daerah ini tak pernah sepi dari karya seni musik. Andang CY, seniman sekaligus pencipta lagu, mengatakan, awalnya musik banyuwangian berasal dari alat tradisional seperti gamelan, angklung bambu, hingga patrol, atau musik klotekan dalam istilah Jawa. ”Dulu orang membawa alat musik bambu saat jaga keliling kampung. Mereka memainkan dengan harmoni, dan muncullah tradisi patrol sampai saat ini,” kata Andang.

Musik angklung pun terdorong dari budaya agraris masyarakat Banyuwangi. Purwadi (50) atau Mang Pur, sesepuh desa adat Using Kemiren di Banyuwangi, mengatakan, masyarakat Using punya kebiasaan bermain angklung paglak untuk mengusir lelah seusai bekerja di sawah. Mereka bermain rumah bambu di atas pohon sambil menikmati semilir angin dan memandang hamparan sawah. ”Banyuwangi merupakan daerah subur. Tidak perlu susah mengolah tanah. Jadi, waktu tak banyak tersita untuk bekerja. Petani pun ada waktu luang untuk bermusik. Dari situlah karya kesenian itu tumbuh,” katanya.

Saat masih remaja, Mang Pur aktif memainkan angklung paglak di sela bertani. Kepiawaiannya memainkan angklung kemudian membuat dia sering dipanggil warga yang punya hajatan. Biasanya, jika ada pesta perkawinan atau pesta panen, Mang Pur tampil menghibur warga di atas panggung bersama rekan-rekannya. Kini Mang Pur tidak lagi manggung, tergantikan oleh mereka yang lebih muda, tetapi ia tetap aktif mengajari anak-anak di Desa Kemiren bermain angklung.

Pada awal 1980-an, musik banyuwangian yang dulu dimainkan para petani ini berkembang menjadi kendang kempul, yakni paduan musik tradisional dengan dangdut dengan instrumen utama kendang dan kempul. Tahun 1998-2000, seniman Banyuwangi, Catur Arum, mengawali genre musik hibrid banyuwangian. Disebut hibrid karena musik yang digunakan masih bernuansa tradisional, yakni mengusung patrol tetapi diwarnai nuansa blues, reggae, pop, hingga rock dengan lirik yang tetap banyuwangian.

Belakangan, saat industri musik ramai dengan musik jedug-jedug ala disko, kreativitas masyarakat Using juga tak berhenti. Music koplo masuk dan berakulturasi dengan budaya Banyuwangi menjadi koplo banyuwangian. Alat musiknya modern, tetapi tetap menggunakan bahasa Using.

Industri musik pun terus tumbuh dan bertahan di Banyuwangi. Tak peduli Industri musik nasional atau internasional sedang lesu atau bergairah, seniman Banyuwangi tetap mendapatkan pasarnya di kawasan ini. Studio musik rumahan, artis-artis baru, hingga lagu-lagu anyar bermunculan tiap bulan.

Joni Laro’s, pemilik studio rekaman Laro’s, mengatakan, dalam sebulan bisa 4-5 artis baru muncul untuk rekaman. Di pasaran yang wilayahnya tergolong sempit seperti Banyuwangi, setiap bulan hampir selalu ada 10 album baru kompilasi yang beredar.

Bagi musikus, langgengnya musik lokal membawa kegairahan ekonomi. Di Banyuwangi, artis baru biasanya dibayar Rp 1 juta-Rp 2 juta untuk menyanyikan satu lagu di album kompilasi. Adapun artis senior bisa memproduksi album sendiri dan bayarannya bisa Rp 40 juta.

Penghasilan para penyanyi tak hanya dari rekaman. Artis biasa mendapat tanggapan di berbagai acara mulai dari hajatan sampai bisnis hiburan dengan bayaran yang bervariasi Rp 2 juta-Rp 20 juta. Mema Saskia (23), artis muda dari Banyuwangi, bisa dibilang laris manis menerima undangan menyanyi. Dalam satu bulan, ia bisa menerima tawaran manggung lebih dari 20 kali, termasuk saat musim panen, musim hajatan pernikahan, dan musim liburan.

Candra Bayu, penyanyi papan atas Banyuwangi, bahkan benar-benar bisa mengandalkan hidup dari bernyanyi. Mulai menyanyi sejak 2006, Candra sudah bisa membeli rumah, mobil baru, dan menghidupi keluarganya dengan layak.

Rezeki juga mengalir ke para pemusik, pencipta lagu, hingga pemilik studio rekaman. Pencipta lagu seperti Andang CY bisa menerima royalti berkali-kali dari lagunya yang sukses. Lagu ”Umbul-umbul Belambangan” yang sudah menjadi maskot lagu daerah Banyuwangi bahkan sudah lebih dari 10 kali direkam ulang. Andang, yang dulunya guru SD, mengakui, pencipta lagu berbeda dengan penyanyi. Lagu ciptaannya biasanya hanya dinilai di bawah Rp 1 juta. Jika lagunya populer, ia bisa berkali-kali menerima royalti.

Contoh lainnya, Adistya Mayasari.  Album Kangen, hasil kolaborasinya dengan Rogojampi Orkestra Lare Asli Banyuwangi (Rollas), yang diluncurkan pada 2006, meledak di pasar. Album yang diproduksi Sandi Record, Banyuwangi, itu terjual lebih dari 100 ribu kopi.

Berkat prestasi itu , nama penyanyi berkulit kuning langsat ini kian berkibar. Pamornya naik dan membawanya menjadi penyanyi papan atas Banyuwangi. Sejak itu Adis, begitu sapaan akrabnya, kebanjiran undangan pentas dari berbagai tempat. "Dalam satu bulan jadwal selalu penuh,” ujarnya.

Selain sebagai penyanyi, 10 lagu dalam album itu adalah hasil ciptaannya. Bersama sang suami, Eko BC, lagu-lagu berbahasa Using (bahasa daerah Banyuwangi) itu dia buat selama hampir setahun. Selain sebagai penyanyi, Adis kini semakin mantap menjadi seorang pencipta lagu.

Meskipun penjualan albumnya meledak, Adis tak menikmati royalti dari keberhasilannya itu selain honor rekaman dan mencipta lagu. Belum adanya sistem royalti di industri rekaman Banyuwangi, diakuinya sangat merugikan posisi penyanyi dan pencipta lagu. "Anggap saja rejeki si produser," katanya santai.

Perempuan kelahiran Banyuwangi 26 tahun silam ini, sedari kecil memang hobi menyanyi. Kisahnya masuk dapur rekaman dimulai sekitar tahun 2001. Saat itu Adis, yang masih duduk di kelas satu SMA, mengikuti salah satu lomba menyanyi lagu daerah tingkat kabupaten dan menyabet juara dua. Ternyata event itu dihadiri sejumlah produser lokal.

Setelah event itu, produser Aneka Safari Record meminangnya mengisi album bertajuk Angger-angger. Proses rekaman masih dilakukan di Surabaya. Setahun berikutnya, Adis diajak berkolaborasi dengan grup Patrol Orkestra Banyuwangi (POB), sebuah grup musik yang memadukan musik tradisional patrol dengan elektrik. Melalui lagunya Semebyar dalam album itu nama Adis mulai meramaikan musik Banyuwangi.

Kini, setelah 10 tahun berkarir, Adis sudah memiliki 6 album. Lima puluhan lagu hasil ciptaannya juga telah laku di pasaran. Perempuan setinggi 160 centimeter ini mengenang, dulunya proses masuk dapur rekaman tidak semudah sekarang. Dia harus menjalani sekian seleksi untuk bisa lolos menyanyikan sebuah lagu.

Di tengah gempuran aliran musik modern dan munculnya penyanyi-penyanyi baru, Adis memang dikenal sebagai penyanyi yang kukuh mempertahankan musik etnik tradisional yang cenderung mellow (melankolis). “Pasar sudah terlanjur membentuk image saya sebagai penyanyi mellow. Saya ingin mempertahankan jatidiri itu," kata lulusan fakultas ilmu sosial dan politik dari sebuah universitas di Banyuwangi ini.

Konsekuensinya, undangan pentas bagi Adis tak lagi seramai dulu. Untuk mensiasati sepinya pasar itu, kini dia lebih banyak menjual master ke produser. Master ini dia produksi sendiri, mulai penciptaan lagu hingga aransemen musik. "Biaya produksinya tidak terlalu banyak, karena saya sendiri yang menciptakan dan menyanyi," cerita anak pertama pasangan Asmawi dan Sumiati ini.

Sayangnya dia tak mau blakblakan soal honor. Dia hanya menyebut, honor rekaman awalnya hanya Rp 800 ribu kemudian terus bergerak hingga angka di atas Rp 1,5 juta per lagu. "Dari honor nyanyi alhamdulilah bisa beli beberapa tanah," katanya malu-malu.

Namun, industri musik lokal bukan tanpa persoalan. Sejatinya, musik lokal tertumpu pada kualitas dan orisinalitas, bukan pasar semata. Faktanya, sebagian pemusik cenderung berkarya minimalis, larut dalam selera pasar.

sumber : kompas, Tempo

00.31 | 0 komentar | Read More