Gunung Raung Berstatus Siaga

Banyuwangi Bagus on 01 July 2015 | 11:35 AM

Gunung Raung Banyuwangi berstatus Siaga.
Menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Raung di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso dan Jember di Provinsi Jawa Timur dalam beberapa waktu belakangan ini, akhirnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Raung dari level Waspada menjadi level Siaga sejak Senin 29 Juni 2016 pukul 09.00 WIB. Status Siaga ini artinya menandakan adanya peningkatan intensif aktivitas seismik dan vulkanik Gunung Raung yang dapat dilihat secara visual maupun secara instrumental.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kenaikan status tersebut didasarkan pada pengamatan visual, yaitu adanya strombolian semakin intensif,  suara gemuruh, kepulan abu vulkanik setinggi 300 meter, dan suara dentuman keras yang terdengar kira-kira sampai 20 kilometer sejak Minggu 28 Juni 2015 pukul 20.00 WIB.

"Gunung Raung juga mengeluarkan semburan api yang terlihat dengan jelas dari pusat pengamatan Gunung Api Senggon di Kabupaten Banyuwangi," kata Sutopo.

Menurut Sutopo, seismisitas gunung juga mengalami peningkatan dengan tremor makin tinggi dengan amplitudo rata-rata 21 milimeter dari sebelumnya hanya 10 milimeter. "Kepala PVMBG telah melaporkan peningkatan status Siaga tersebut kepada Kepala BNPB untuk mengambil langkah-langkah antisipasinya," tutur Sutopo.

Menyikapi peningkatan status tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Jawa Timur terus melakukan koordinasi dengan pemerintah terkait di tiga kabupaten, yaitu Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso, di kantor Pemkab Banyuwangi, Selasa (30/6/2015).
Salah satu pembahasannya adalah memetakan daerah terdampak yang telah disusun sejak aktivitas vulkanik bergejolak pada 2012 silam.

"Dalam rapat ini kita up date peta kontijensinya di tiga kabupaten, Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. Seluruh pemangku kepentingan akan disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing," kata Kepala BNPB Provinsi Jatim, Sudarmawan.

Dari tiga kabupaten tersebut, Sudarmawan menyebut yang bakal paling besar terdampak jika Gunung Raung erupsi adalah Kabupaten Banyuwangi.
Sudarmawan menjelaskan, berdasarkan data pemetaan daerah tahun 2012, di Kabupaten Banyuwangi terdapat 6 kecamatan yang akan terdampak. Sedangkan di Kabupaten Bondowoso terdata 2 kecamatan dan Kabupaten Jember 1 kecamatan."Dalam rapat koordinasi ini kita akan klarifikasi lagi. Kawasan Rawan Bencana (KRB) kita petakan mulai dari Ring 1, Ring 2, dan Ring 3," paparnya.

BNPB Provinsi Jatim, lanjut Sudarmawan, hanya melanjutkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menganjurkan pengamanan di radius 3 kilometer.

Namun BPBD Jatim menetapkan jarak aman dampak letusan gunung raung sejauh 10 kilometer dari puncak kawah.

"PVMBG mengusulkan tiga kilometer, tapi kami tetapkan 10 kilometer dari puncak gunung sebagai jarak paling aman. Ini untuk antisipasi saja," jelas Sudarmawan.

Sebanyak 33 titik evakuasi atau shelter di tiga daerah tersebut sudah disiapkan sebagai antisipasi untuk menampung pengungsi jika Gunung Raung meletus.
Ke 33 jalur evakuasi tersebut, sudah mencakup seluruh desa yang ada di kaki raung yang kemungkinan berpotensi terkena dampak erupsi Gunung Raung diantaranya di Kabupaten Banyuwangi yang meliputi 18 Desa dan tersebar di 5 Kecamatan.

Kemudian Kabupaten Bondowoso di 4 Desa di 2 kecamatan; lantas Kabupaten Jember di tiga desa yang berada di 1 Kecamatan.

BPBD juga telah memetakan sedikitnya ada 139.382 jiwa warga saat ini sudah disiagakan untuk mengungsi jika sewaktu-waktu ada peningkatan status Gunung Raung.

"Yang terbanyak merupakan warga Banyuwangi mencapai 115.878 Jiwa kemudian Bondowoso sebanyak 1.836 Jiwa dan Jember sebanyak 21.668 Jiwa," kata dia.

Proses evakuasi warga baru akan dilakukan jika ada peningkatan status Gunung Raung dari Siaga menjadi Awas.

26 DESA DI BANYUWANGI MASUK ZONA BAHAYA
Jika terjadi erupsi Gunung Raung, ada  26 desa yang tersebar di enam kecamatan di wilayah Kabupaten Banyuwangi masuk dalam zona bahaya. Hal ini diungkapkan Eka Muharam, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (30/6/2015).

"Daerah tersebut di wilayah Desa Sumberarum Kecamatan Songgon, Desa Jambewangi Kecamatan Sempu, dan desa-desa lain yang tersebar di Kecamatan Sempu, Kecamatan Glenmore, dan Kecamatan Kalibaru," kata Eka.

Petugas di BPBD Kabupaten Banyuwangi juga telah menyiapkan evakuasi sejak aktivitas Gunung Raung dinyatakan meningkat.

"Kendaraan untuk evakuasi, makanan siap saji, dan tenda sudah kami siapkan," kata dia. Sementara itu, jalur evakuasi sudah disiapkan sejak tahun 2014 lalu ketika status Gunung Raung meningkat dari Normal menjadi Waspada. "Kami sudah membentuk desa tangguh di wilayah Songgon yang sudah dibekali informasi dan keterampilan untuk menyelamatkan diri," kata dia.

"Terus kita pantau aktivitas Gunung Raung dan menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui relawan," ujarnya.

Eka juga mengimbau agar masyarakat tidak terpancing isu, kecuali informasi resmi langsung dari BPBD dan instansi pemerintahan. Eka menyampaikan, setidaknya ada 200.000 orang di wilayah Kabupaten Banyuwangi yang harus dievakuasi dari zona merah dampak erupsi Gunung Raung. Jumlah ini jauh lebih besar dari peristiwa tahun 2012.

Saat Gunung Raung ditingkatkan statusnya ke level siaga akhir tahun 2012 lalu, dari 5 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi diperkirakan jumlah penduduk terdampak erupsi Raung sekitar 83.182 jiwa. Saat itu, setidaknya harus dipersiapkan sebanyak 100 ribu masker jika hujan abu vulkanik menyebar seiring terjadinya erupsi.

Dengan komposisi dasar jumlah penduduk yang mesti diselamatkan sebanyak itu pada Desember 2012 lalu, BPBD Banyuwangi memperhitungkan standar layanan korban bencana atas beberapa keperluan di lokasi pengungsian, seperti mandi cuci kakus (MCK) sebanyak 2.362 unit, air bersih sebanyak 5.926.600 liter/hari, makanan sebanyak 333.303 paket/hari, genset sebesar 5000 watt sebanyak 40 unit, dan pos kesehatan sebanyak 20 pos.

Selain itu, dibutuhkan tenda peleton sebanyak 3.943 buah, dapur umum sebanyak 227 lokasi, gudang penyimpanan barang sebanyak 20 buah, dan bilik mesra sebanyak 2.447 buah.

Di Banyuwangi, wilayah yang diperkirakan menerima dampak terparah akibat erupsi Raung adalah di Kecamatan Kalibaru dan Songgon. Di wilayah Kecamatan Kalibaru, evakuasi dari dusun terdekat yakni Dusun Curah Leduk yang berjarak 13 kilometer dari Gunung Raung akan diarahkan menuju Lapangan Kalibaru Manis. Sedang di Kecamatan Songgon, evakuasi warga akan diarahkan menuju lapangan Desa Songgon.

JALUR PENDAKIAN DIPERKETAT
Menyusul penetapan status Siaga, pengawasan jalur pendakian Gunung Raung diperketat. Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam, BPBD bekerja sama dengan kepolisian dan TNI Angkatan Darat menjaga jalur dari Desa Wonorejo, Kecamatan Kalibaru. Sebab jalur inilah yang biasa ramai dipakai para pendaki menuju gunung setinggi 3.332 meter di atas permukaan laut itu.

Untuk diketahui, gejolak aktivitas vulkanik Gunung Raung terpantau telah berganti-ganti status sejak 18 Oktober 2012 lalu dari Waspada ke Siaga hingga normal kembali dan selalu begitu seterusnya hingga kini dinyatakan berstatus siaga.

Dalam sejarahnya, Gunung Raung pernah meletus pada tahun 1939, 1941, 1943, 1945, 1953, 1956, 1961, 1973, 1989, dan 2012. Pada 13-19 Februari tahun 1956, Gunung Raung pernah meletus dengan tinggi asap hingga 12 kilometer dan suara dentuman berlangsung sekitar 4 jam terdengar hingga ke Surabaya. Saat itu, hujan abu menyebar hingga Bali dan Surabaya.

Di kawasan Gunung Raung, sehari-hari angin bertiup sangat kencang dan seperti meraung-raung di pendengaran. Karena itu, gunung ini dinamakan Gunung Raung. Suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita ke dasar jurang yang terjal.

Sumber: Lensaindonesia.com,  Kompas.com, Beritajatim.com, Tempo.co.
11:35 AM | 0 komentar | Read More

Gelar Pameran Potensi Desa, Menteri Desa Sanjung Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 26 June 2015 | 10:07 AM

Pameran potensi desa Banyuwangi.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT) berencana road show ke beberapa daerah untuk menggelar pameran potensi desa.
Menurut Menteri DPDTT  Marwan Jafar, pameran akan digelar demi mengangkat  potensi desa yang seringkali tidak tergarap secara maksimal, karena kurangnya instrumen untuk mempromosikan potensi yang ada.

"Pameran potensi desa insyaallah akan dimulai bulan Agustus 2015. Banyuwangi dipilih sebagai kabupaten pertama  dalam menggelar pameran potensi desa, karena perkembangan  Banyuwangi selama ini cukup pesat," ujar Marwan, Kamis (25/6).

Menurut Marwan, kabupaten yang dijuluki sebagai The Sunrise of Java itu selama ini banyak melakukan sejumlah terobosan untuk menggenjot sektor pariwisata.

"Banyuwangi kaya akan potensi sumber daya alam sebagai tujuan wisata. Seperti Kawah Ijen dengan fenomena blue fire-nya, Pantai Plengkung (G-Land) sebagai surganya peselancar, dan berbagai seni budaya lokal," ujar Marwan.

Selain itu, Marwan melihat Banyuwangi juga banyak mengembangkan potensi desa wisata sebagai destinasi baru bagi turis mancanegara.

Desa Wisata mengintegrasikan konsep wisata di suatu wilayah. Di mana sejumlah kelebihan yang ada dipadukan menjadi satu. Baik itu potensi berupa produk seni, budaya, keindahan alam, akomodasi maupun  fasilitas pendukung lainnya.

"Salah satu potensi desa wisata yang terletak di Kemiren, Kecamatan Glagah, yang diberi nama Desa Wisata Osing. Penduduk di Desa Kemiren ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adat istiadat dan budaya khas sebagai Suku Osing," ujar Marwan.

Selain mempunyai potensi desa yang luar biasa, Banyuwangi sebagai kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini juga sudah mulai dikenal di dunia internansional.

"International Tour De Banyuwangi Ijen 2015, salah satu event internasional yang sudah meng-internasional. Ini bagus untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat Banyuwangi," ujarnya.

Setelah mengadakan pameran potensi desa di Kabupaten Banyuwangi 6-9 Agustus 2015, pameran akan dilanjutkan di Kabupaten Banyuasin 23-30 Agustus 2015. Kemudian kabupaten Maros 10-13 September 2015, Pangandaran 1-4 Oktober 2015,  Rembang 22-25 Oktober 2015, dan Kabupaten Tanah Bumbu 5-8 November 2015. 

Jpnn.com


10:07 AM | 0 komentar | Read More

Arema Cronus Siap Tampil di Sunrise of Java Cup 2015

Banyuwangi Bagus on 22 June 2015 | 11:16 PM

Arema Cronus akhirnya memastikan keikutsertaan mereka di ajang Sunrise of Java Cup pada 30 Juni-5 Juli mendatang di Bayuwangi. Kepastian itu diputuskan per Senin (22/6) pagi tadi.

Menurut Media officer Arema Cronus, Sudarmadji, pihaknya telah menghubungi panitia dan mengiyakan undangan yang diberikan.

Arena Cronus siap tampil di turnamen Sunrise of Java Cup 2015
"Manajemen kami sudah konfirmasi ke panpel. Mereka senang karena kedatangan Arema ternyata juga ditunggu-tunggu masyarakat Banyuwangi," katanya, Senin (22/6).

Selain Arema Cronus, ada Garuda All Star yang merupakan pemain Timnas U-23 plus, ada juga Bali United Pusam dan Persewangi Banyuwangi sebagai tuan rumah yang akan saling bertemu dalam enam hari gelaran piala itu.

Arema akan menjalani laga perdana dengan menghadapi Bali United Pusam pada 1 Juli. Keeseokan harinya (2/7), Arema akan berjumpa Garuda All Stars. Singo Edan akan menutup kiprahnya di Sunrise of Java Cup dengan menghadapi tuan rumah Persewangi pada 5 Juli.

Jadwal Pertandingan Sunrise of Java Cup 2015
30 Juni 2015 : Persewangi Banyuwangi vs Garuda All Star
01 Juli 2015 : Arema Cronus vs Bali United Pusam
02 Juli 2015 : Garuda All Star vs Arema Cronus
03 Juli 2015 : Persewangi Banyuwangi vs Bali United Pusam
04 Juli 2015 : Bali United Pusam vs Garuda All Star
05 Juli 2015 : Persewangi Banyuwangi vs Arema Cronus

Jpnn.com
11:16 PM | 0 komentar | Read More

Promosikan Banyuwangi, Telkomsel Luncurkan Banyuwangi in Your Hand

Banyuwangi Bagus on 06 June 2015 | 8:46 AM

Aplikasi Banyuwangi In Yourt Hand
Dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah Banyuwangi sedang berusaha untuk memperkenalkan Banyuwangi sebagai salah satu tujuan wisata. Selain itu, mereka juga ingin menjadikan Banyuwangi sebagai Smart Kampung. Diantara semua penyedia layanan internet, tampaknya sebagian besar masyarakat Banyuwangi percaya pada Telkomsel. Hal ini terbukti karena di Banyuwangi, Telkomsel berhasil meraih pangsa pasar sebesar 65 persen.

Diantara 740 ribu pelanggan Telkomsel yang ada di Banyuwangi, 45 persen diantaranya, atau sekitar 330 ribu pelanggan, merupakan pelanggan data. Selain itu, Telkomsel juga melihat bahwa penggunaan paket data di Banyuwangi mengalami peningkatan sebanyak 35 persen jika dibandingkan dengan penggunaan data di tahun lalu.

Karena itulah, untuk mendorong ekosistem digital, yang terdiri dari device, network dan application, Telkomsel meluncurkan sebuah aplikasi augmented reality yang bernama Banyuwangi in Your Hand. Selain untuk meningkatkan jumlah pengguna data, aplikasi ini juga dapat membantu pemerintah Banyuwangi untuk memperkenalkan Banyuwangi sebagai tujuan wisata.

Aplikasi Banyuwangi in Your Hand berguna untuk memberikan penggunanya informasi mengenai berbagai tujuan wisata dan industri kreatif yang ada di Banyuwangi. Untuk mendapatkan informasi mengenai obyek wisata tertentu, pengguna dapat menggunakan fitur search yang ada pada aplikasi ini.

Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi mengatakan bahwa dengan adanya aplikasi ini, dia berharap Banyuwangi akan menjadi lebih dikenal sebagai tempat tujuan wisata, tidak hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga oleh masyarakat internasional.

Sementara Sukardi Silalahi, Direktur Network Telkomsel, berharap bahwa dengan diluncurkan aplikasi ini, maka Telkomsel dapat membantu pemerintah Banyuwangi untuk menjadikan Banyuwangi sebagai Smart Kampung."Aplikasi dengan konten lokal adalah salah satu faktor pendukung untuk menerapkan Smart City. Dengan aplikasi Banyuwangi in Your Hand ini, kami harap kami dapat membantu pemerintah Banyuwangi untuk merealisasikan konsep Smart Kampung mereka," kata Sukardi Silalahi, Direktur Network Telkomsel.

Saat di tanya mengapa Telkomsel membuat aplikasi pariwisata untuk Banyuwangi terlebih dulu dan bukannya Bali, yang merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia, Sukardi menjawab bahwa di Bali, telah terdapat terlalu banyak obyek pariwisata, yang justru akan membuat konten aplikasi menjadi terlalu banyak dan justru membuat aplikasi menjadi membingungkan.

Saat ini, aplikasi ini baru dapat digunakan oleh pengguna gadget berbasis Android. Walau versi untuk iOS disebutkan akan segera muncul. Sayangnya, kapan tepatnya aplikasi ini tersedia di App Store masih belum diketahui. Sebelumnya Pemkab Banyuwangi telah meluncurkan aplikasi serupa yang diberi nama Banyuwangi Tourism.

Metrotvnews.com
8:46 AM | 0 komentar | Read More

Banyuwangi Buat Terjemahan Alquran Berbahasa Osing

Banyuwangi Bagus on 31 May 2015 | 7:40 PM

Pemkab Banyuwangi tengah menyiapkan pembuatan terjemahan Alquran khusus berbahasa Osing (bahasa daerah Banyuwangi). Proses pembuatan kitab terjemahan ini, sudah berjalan 1,5 tahun dan ditargetkan selesai tahun ini (2015).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ditemui wartawan mengatakan, saat ini penerjemahan Alquran yang melibatkan sejumlah pihak masih proses penggarapan.
"Ini masih proses penggarapan (sejak) sekitar enam bulan lalu. Diharapkan tahun ini bisa selesai," tuturnya, Sabtu (30/5/2015).

Menurut Anas, pembuatan kitab terjemahan berbahasa Osing itu, merupakan salah satu program Pemkab Banyuwangi, untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat lokal dalam memahami isi atau kandungan ayat-ayat Alquran.

Azwar mengungkapkan, proses penggarapan harus sangat hati-hati, sebab menyangkut terjemahan kitab suci umat Islam. Salah sedikit saja, terang dia, bisa menimbulkan persoalan yang bermacam-macam. Oleh karena itu, dalam penggarapan ini dilibatkan juga Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan sejumlah kiai di Kabupaten Banyuwangi.

"Setelah selesai diterjemahkan, ada tim sendiri yang melakukan Tashih Alquran terjemahan tersebut. Sehingga, tidak menyimpang dari aslinya," jelas dia.

Azwar mengatakan, Seluruh pihak yang ikut proyek terjemahan Alquran ke bahasa osing tidak takut kalau langkah ini akan menimbulkan kontroversi seperti pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara saat peringatan Isra Mikraj beberapa waktu lalu.

"Karena yang kita buat terjemahannya, bukan langgamnya. Ayat-ayat Alqurannya tetap. Cara membacanya juga tetap. Yang kita ubah terjemahannya dari Bahasa Indonesia menjadi bahasa lokal, Bahasa Osing," dalihnya diplomatis.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur ini berpendapat, bahasa osing adalah bahasa Banyuwangi. Jadi, menerjemahkan Alquran ke bahasa lokal boleh dilakukan. Sebab, memudahkan masyarakat setempat untuk memahami isi dan kandungan makna yang ada di Alquran.
Azwar menambahkan, setelah semua proses pengerjaan selesai, Alquran terjemahan bahasa osing ini bisa dicetak massal dan disebarkan untuk masyarakat Banyuwangi. Baik yang ada di dalam, maupun di luar Banyuwangi.

"Dengan bahasa osing, itu menjadi ciri khas Banyuwangi," pungkasnya. 

Okezone.com, Merdeka.com
7:40 PM | 0 komentar | Read More

3 Tahun Berurutan Laporan Keuangan Banyuwangi Raih Opini WTP Dari BPK

Banyuwangi Bagus on 30 May 2015 | 9:18 AM

Laporan keuangan Banyuwangi 2015 raih opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK
Kabupaten Banyuwangi berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2014. Ini berarti daerah paling ujung timur Pulau Jawa itu sudah tiga tahun berturut-turut memperoleh opini WTP dari BPK.

Padahal, sebelum 2010 Banyuwangi pernah mendapat opini disclaimer (tidak menyatakan pendapat) dari BPK. “Tadi, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) LKPD Banyuwangi 2014 sudah diserahkan Kepala BPK Perwakilan Jatim kepada Bupati Banyuwangi. Alhamdulillah Banyuwangi kembali mendapat opini WTP dari BPK,” kata Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Banyuwangi Djajat Sudrajat dalam siaran persnya Jumat (29/5).

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, opini dari BPK ini menunjukkan pengelolaan keuangan Banyuwangi yang semakin baik. “Penting bagi kami, Banyuwangi tidak hanya sukses dalam program pembangunan tapi juga sukses dalam pertanggungjawaban,” ujar Anas.

Anas berharap kinerja ini bisa dipertahankan pada tahun-tahun mendatang. Untuk anggaran-anggaran program pembangunan yang besar, Pemkab Banyuwangi bahkan mengundang BPK secara khusus untuk melakukan audit tertentu untuk memastikan tidak ada permasalahan dan penyimpangan. “Kami mengundang BPK untuk melakukan audit tertentu, tertutama pada program-program besar seperti pembangunan bandara dan stadion,” kata Anas.

Selain mampu meraih opini WTP, Banyuwangi juga mendapat apresiasi dari BPK karena telah menerapkan laporan akuntansi berbasis akrual. Banyuwangi sudah menerapkan laporan keuangan berbasis akrual setahun lebih cepat dari ketentuan, yaitu 2014.

Sesuai Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010, seluruh entitas pemerintahan di Indonesia harus menerapkan basis akrual selambat-lambatnya untuk penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2015. Sebelumnya, LKPD menggunakan basis kas. Banyuwangi tercatat sebagai satu-satunya daerah di Jatim yang telah menerapkan laporan berbasis akrual.

Anas mengatakan, laporan berbasis akrual pada dasarnya lebih informatif dibandingkan sekedar informasi saldo dan keluar masuknya uang di kas daerah. “Embrio penerapan basis akrual kami lakukan sejak 2012 dengan melakukan beberapa persiapan mendasar, yaitu perubahan pada sistem dan kebijakan akuntansi yang digunakan sebagai dasar penyusunan LKPD, yang kemudian diikuti oleh perubahan signifikan pada lingkungan sistem pengelolaan keuangan daerah secara lebih luas termasuk mempersiapkan SDM,” ujarnya.

Anas mengatakan, dengan laporan berbasis akrual, kepercayaan publik akan semakin tinggi. Pasalnya, implementasi laporan keuangan berbasis akrual perlu didukung sistem pengelolaan yang kuat untuk membentuk sistem pengendalian intern (SPI) yang kuat. “Sehingga bisa saling check and balances,” kata Anas.

Jawapos.com
9:18 AM | 0 komentar | Read More