Buah Naga Organik Banyuwangi Tembus Pasar Nasional

Banyuwangi Bagus on 20 January 2015 | 1:07 PM

Buah naga organik dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menembus pasar nasional dan memasok jaringan ritel besar di Jakarta dan sejumlah pasar di Pulau Jawa, bahkan mulai merambah Kalimantan dan Makasar.

Salah satu Kelompok Tani Berkah Naga di Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Masrifah mengatakan, kelompok taninya berhasil menembus jaringan ritel Carefour di Jakarta dan memasok sejumlah pasar buah di Surabaya.

"Setiap hari buah naga yang kami kirim minimal 4 ton ke beberapa pasar buah di Surabaya dan Jakarta," tuturnya di Banyuwangi, Senin (19/1).

Ia mengaku sudah enam tahun ini menanam buah naga dengan memakai pupuk kandang, bahkan telah mengantongi Sertifikasi Prima 3 dari otoritas kompeten keamanan pangan daerah Dinas Pertanian Jawa Timur sebagai produk pangan yang aman dikonsumsi.

Buah naga organik milik petani Desa Sambirejo tersebut banyak dicari dan hasil panennya dikirim ke sejumlah pasar modern seperti Ramayana, rumah buah Hoky, dan pasar induk Agrobis Puspa Agro untuk kualitas super, sedangkan buah ukuran kecil dikirim ke pasar-pasar tradisional Surabaya.

Meski tidak begitu luas, hasil buah naga yang dikelola Masrifah memang sangat menjanjikan dan dari lahan hanya setengah hektare mampu menghasilkan sebanyak 13 ton per tahun. Biasanya ia memetik buah naga satu minggu tiga kali dan hasilnya dijual rata-rata Rp8.000 per kilogram.

"Setahun, pendapatan saya bisa mencapai Rp104 juta dengan lahan setengah ha dan pengeluaran terbesar untuk pembelian pupuk organik yang setahunnya mencapai Rp12 juta," katanya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pihaknya terus mendorong petani buah naga di Banyuwangi mulai menggunakan pupuk organik karena tingginya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik.

"Kami terus support, agar petani memperluas pola tanam organik di sini. Dinas Pertanian sering melakukan temu usaha antara petani dan eksportir, agar petani memahami produk-produk apa saja yang laku di pasaran. Bukan hanya buah naga yang kami dorong organik, jeruk dan semangka pun juga sama," tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, pemkab juga telah membangun "packing house" (bangsal kemas) untuk petani buah naga karena selama ini petani tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan hasil panen, maka kami dirikan packing house di Bangorejo.

"Yang kami bantu tidak hanya petani buah naga, tetapi juga untuk jeruk, semangka yang memang potensinya besar di sini," katanya.

Produksi buah naga di Banyuwangi pada 2014 mencapai 28.819 ton dengan luas lahan 1.152 ha dan produksi itu meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 16.631 ton dengan luas lahan 678 ha.

Bangorejo sendiri menyumbang 39 persen dari total produksi buah naga di Banyuwangi atau setara 11.000 ribu ton per ha dengan luas lahan mencapai 449 ha.

"Potensi buah naga yang dimiliki Bangorejo akan kita sinergikan dengan program ekowisata yang tengah digalakkan pemkab dengan menghubungkan operator travel dengan petani buah naga. Misalnya, setelah dari Pulau Merah, wisatawan dapat dibawa ke sini untuk memetik langsung buah naga dan makan di sini, apalagi buah naga itu tidak mengenal musim," papar Anas.

Beritasatu.com

1:07 PM | 0 comments | Read More

Kemristekdikti Dukung Pengembangan Kampus Unair Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 18 January 2015 | 9:05 PM

Kampus Unair Banyuwangi
Saat kunjungan kerja di Banyuwangi, Minggu (18/1), Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti), Prof M Nasir, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pendidikan tinggi dan riset teknologi pertanian di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Terkait komitmen terhada pengembangan pendidikan tinggi, menristekdikti akan terus mendorong berbagai kampus yang ada di Banyuwangi, mulai dari kampus swasta hingga kampus negeri seperti Universitas Airlangga Kampus Banyuwangi dan Politeknik Negeri Banyuwangi. Saat ini, Unair Kampus Banyuwangi sudah beroperasi dengan empat program studi. Perkuliahan perdana dilakukan pada September 2014.

Jika dalam waktu lima tahun Unair Kampus Banyuwangi bisa berkembang baik, kata Nasir, Kemenristek-Dikti siap mengubah Program Studi di Luar Domisili (PDD) Unair atau Unair Kampus Banyuwangi menjadi Universitas Negeri Banyuwangi. Nasir menyatakan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan pendidikan tinggi yang ada di Banyuwangi.

"Di Banyuwangi sudah ada PDD Unair. Ke depan, jika perkembangannya baik, dalam waktu lima tahun bisa berubah menjadi Universitas Negeri Banyuwangi," ujarnya.

Nasir menambahkan, terealisasi atau tidaknya perubahan Unair Kampus Banyuwangi menjadi Universitas Negeri Banyuwangi tergantung komitmen semua pihak. Dengan kerja sama yang baik, dirinya yakin hal itu bisa diwujudkan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya berterima kasih atas dukungan dari Kemenristek-Dikti. "Semuanya akan disinergikan, pendidikan tinggi bisa berkembang bersama-sama di Banyuwangi," ujar Anas.

Saat ini, Unair Kampus Banyuwangi sedang bersiap membangun kampus baru yang lebih terintegrasi. "Bapak Menteri juga meminta Pemkab Banyuwangi mempersiapkan rumah sakit (RS) dengan baik. Jika RS sudah baik, beliau akan mendorong dibuka fakultas kedokteran di Banyuwangi," tutur Anas.

Adapun terkait riset teknologi pertanian, Nasir mengatakan, diarahkan untuk riset terapan yang akan sangat membantu pengembangan sektor pertanian. Sejumlah komoditas hortikultura unggulan di Banyuwangi, seperti buah naga, manggis, dan durian, memerlukan pendekatan teknologi melalui riset yang aplikatif.

"Akan kami dorong risetnya, sehingga bisa digunakan untuk membantu mengembangkan sektor hortikultura di Banyuwangi," ujar Nasir.


Beberapa komoditas hortikultura di Banyuwangi selama ini terus dikembangkan. Buah naga, misalnya, telah mengantongi Sertifikasi Prima 3 dari otoritas keamanan pangan. Buah naga organik di Banyuwangi juga telah menembus pasar nasional. Adapun manggis telah diekspor ke sejumlah negara. Sementara komoditas durian banyuwangi, terutama jenis durian merah, kini semakin berkembang dan dipasarkan secara nasional.

Beritasatu.com
9:05 PM | 0 comments | Read More

Bupati Banyuwangi Panen Buah Naga

Panen Buah naga di Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan petik perdana buah naga, pada panen raya di Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo. Di lahan setengah hektar ini, bupati bersama dengan Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan (Dispertahutbun) selain memetik buah juga mencicipi buah segar ini.

"Diakui buah naga dari Banyuwangi ini memang manis dan segar. Pantas saja banyak pesanan dari luar kota," kata Bupati Anas, Sabtu (17/1/2015).

‎Menurutnya, ‎menanam buah naga menjadi hal yang potensial. Sebab di wilayah ini lebih bagus ditanami jenis-jenis tanaman hortikultura. Banyak kelebihan buah naga ini, tidak gampang busuk dibandingkan tanaman lainnya.

"Banyak keunggulan buah naga ini. Selain tidak gampang busuk seperti cabai ini ‎lebih mudah dikirim keluar kota," ujarnya.

Saat ini, produksi buah naga di Banyuwangi semakin meningkat. Di tahun 2013, dari luasan lahan ‎tanaman buah naga di Banyuwangi hanya sekitar 678,8 hektar. Dan tahun 2014 meningkat menjadi 1.052,8 hektar.

"Sementara hasil panen juga meningkat tajam dari 16.631 ton tahun 2013, meningkat menjadi 28.819 ton," pungkas bupati dengan segudang prestasi ini.

Sementara itu, ‎Masrifah, salah satu petani dari kelompok Naga Berkah, mengaku untung besar dari menanam buah naga. Bahkan lahan bekas penggilingan padi seluas setengah hektar miliknya disulap menjadi kebun buah naga.

"Usia tanaman ini sudah 6 tahun. Per tahun bisa produksi sekitar 13 ton. Alhamdulillah untung banyak," ujarnya.


Saat ini di Banyuwangi memang panen raya buah naga. Diprediksikan, panen buah naga ini akan berlangsung hingga bulan Agustus nanti. Penyebaran tanaman buah naga di Banyuwangi meliputi Kecamatan Tegaldlimo, Bangorejo dan Pesanggaran.

Detik.com
8:54 PM | 0 comments | Read More

Harga Tiket Turun, 5 Kereta Api Ekonomi Daop Jember Dapat Subsidi

Banyuwangi Bagus on 09 January 2015 | 9:41 AM

Lima rangkaian kereta api kelas ekonomi di wilayah Daerah Operasi IX Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendapatkan subsidi dari pemerintah.

"Pemberian subsidi tersebut berdampak pada turunnya harga tiket kereta api kelas ekonomi jarak dekat, jarak sedang dan jarak jauh," kata Manajer Humas PT Kereta Api Daerah Operasi (Daop) IX Jember Sugeng Turnianto, Kamis.

Lima kereta yang mendapat subsidi yakni KA Logawa jurusan Jember-Purwokerto, KA Sritanjung jurusan Banyuwangi-Lempuyangan, KA Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang, KA Probowangi jurusan Banyuwangi-Surabaya, dan KA Pandanwangi jurusan Jember-Banyuwangi.

"Tarif KA bersubsidi mulai efektif per 1 Januari 2015 untuk kereta jarak pendek seperti KA Pandanwangi dengan tarif Rp4.000 dan KA Probowangi dengan tarif subsidi Rp18.000," tuturnya.

Untuk KA jarak jauh dan KA jarak sedang, tarif subsidi akan diberlakukan mulai 1 Maret 2015 yakni KA Logawa dan KA Sritanjung sebesar Rp50.000, serta KA Tawangalun sebesar Rp30.000.

"Bagi calon penumpang kereta api yang telah memesan atau membeli tiket untuk keberangkatan Januari 2015 dengan tarif nonsubsidi, maka selisih bea tiket akan dikembalikan di stasiun keberangkatan, kedatangan, dan stasiun lain yang melayani pengembalian biaya pembatalan paling lambat tiga hari setelah jadwal kedatangan KA,"paparnya.

Dalam rilisnya, pemberian subsidi dari pemerintah melalui Kementerian Perhubungan ditandai dengan penandatanganan Kontrak Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik (Public Service Obligation (PSO)) Perkeretaapian 2015 No. PL.102/A.1/DJKA/1/15 dan No. HK.221/I/1/kKA-2015 tanggal 2 Januari 2015 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik (PSO) Bidang Angkutan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi Tahun Anggaran 2015.

Penandatanganan kontrak dilakukan oleh Dirjenka, Kemenhub Hermanto Dwiatmoko dan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro di Ruang VIP, Stasiun Pasarsenen, Jakarta. Penandatanganan kontrak PSO ini juga dihadiri oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan.

Tahun 2015, subsidi penumpang KA kelas ekonomi yang diberikan pemerintah sebesar Rp1.523.737.021.893. Jumlah tersebut naik sekitar Rp240 miliar dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 1,224 triliun dan kenaikan itu disebabkan oleh inflasi, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Antaranews.com
9:41 AM | 0 comments | Read More

8 Ribu Wisman Tiongkok Siap Datang Ke Banyuwangi

Banyuwangi yang Memiliki destinasi wisata alam yang beragam berpotensi dikunjungi ribuan wisatawan dari Tiongkok. Hal ini disampaikan Direktur Exchange Centre Jawa Timur di Tianjin, Tiongkok, Jasper Ho, saat bertemu dengan Bupati Abdullah Azwar Anas di kantor bupati, Kamis (7/1/2015).

Jasper mengatakan, Banyuwangi memiliki beragam destinasi wisata ungggulan. Semisal, wisata gunung di Ijen, wisata Pantai di pulau Merah, G-land dan penangkaran penyu di Sukamade. Semua destinasi tersebut sangat unik dan jarang ditemukan ditempat lain. Selain itu gencarnya promosi wisata yang dilakukan daerah juga menunjukkan kalau Banyuwangi siap untuk menerima kedatangan wisatawan mancanegara.

"Saya melihat Banyuwangi bisa menjadi terobosan bagi datangnya banyak wisatawan Tiongkok di Jawa Timur. Kami menargetkan tak kurang 5 - 8 ribu wisatawan asal Tiongkok akan berkunjung ke Banyuwangi," kata Jasper.

Jasper melanjutkan peluang masuknya wisatawan Tiongkok ke Banyuwangi sangat besar karena negara rumpun bambu ini menjadi pengekspor wisatawan terbesar di dunia.
"Ada 100 juta warga Tiongkok yang berwisata keluar negeri tiap tahunnya. Negara tujuannya beragam, namun untuk di Indonesia mereka hanya mengenal Bali," kata Jasper.

Lokasi Banyuwangi yang dekat dengan Bali menambah poin lebih bagi Kabupaten The Sunrise of Java ini menggaet turis Tiongkok. Jasper pun mengatakan kalau dirinya telah bertemu dengan para pengusaha travel di Tiongkok yang bersedia membuka rute wisata Tiongkok-Bali-Banyuwangi. Bahkan Jasper mengusulkan adanya penerbangan langsung dari Tiongkok ke Banyuwangi.
"Saya yakin wisatawan Tianjin akan tertarik ke Banyuwangi, tapi kendalanya adalah infrastruktur," kata Jasper.
Syaratnya, kata Jasper, pesawat yang mendarat di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, minimal berkapasitas 400 kursi. Sementara landasan bandara di sini masih pendek.

Namun kendala ini segera teratasi karena bandara Banyuwangi akan diperpanjang sampai bisa dilandasi pesawat berkapasitas besar.

Sementara Bupati Abdullah Azwar Anas menyambut baik tawaran Jasper untuk mendatangkan turis Tiongkok ke Banyuwangi tersebut. Anas juga meminta pihak Tiongkok mendeskripsikan sejak awal karakteristik wisata di Banyuwangi kepada para turis yang akan datang. Karena karakter tiap wisatawan beragam.

"Wisata di Banyuwangi memang unik. Lebih menantang dan bernuansa alam. Karena itulah kami mengusung konsep wisata ekoturisme. Inilah yang harus disampaikan dengan benar agar wisatawan tidak salah pengertian dengan pariwisata yang ada Banyuwangi," kata Anas.

Dalam kunjungannya, Jasper datang bersama dengan Biro Administrasi Kerjasama, Biro Administrasi Perekonomian, dan Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kepala Biro Kerja Sama Perekonomian I Made Sukartha mengatakan Tianjin dipilih sebagai prioritas karena merupakan kota terbesar di Cina dengan pertumbuhan ekonomi paling maju.

Sedangkan Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Jawa Timur, Susariningsih, mengatakan wisatawan Cina menempati urutan ketiga di Jawa Timur setelah Malaysia dan Singapura.

Pada 2013, jumlah wisatawan Cina mencapai 18 ribu orang dari total 300.900 turis yang datang ke Jawa Timur. "Pada 2014, jumlah wisatawan Cina naik 12 persen," katanya.

Jawa Timur, kata Susariningsih, menjadi salah satu dari 19 pintu masuk turis ke Indonesia. Selain Banyuwangi, pemerintah Jawa Timur juga mempromosikan Malang dan Surabaya sebagai tujuan wisata alternatif kepada wisatawan Cina.

Detik.com, Tempo.co
9:29 AM | 0 comments | Read More