Banyuwangi Festival

Klik untuk memperbesar
Powered by Blogger.

Kampus Unair di Banyuwangi Diresmikan

Banyuwangi Bagus on 19 October 2014 | 5:46 PM

Kampus Unair di Banyuwangi.
Rektor Unair Prof Dr Fasichul Lisan meresmikan kampus Universitas Airlangga (Unair) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (19/10). Sebenarnya, proses perkuliahan Unair Banyuwangi sendiri sudah dimulai sejak awal September lalu. Kehadiran Unair melengkapi infrastruktur pendidikan yang telah ada sebelumnya di Banyuwangi, seperti Politeknik Negeri, Sekolah Pilot Negeri, dan berbagai kampus/sekolah tinggi yang lainnya.

Peresmian kampus Unair Banyuwangi ditandai dengan penekanan tombol pembuka selubung logo Unair Banyuwangi oleh Rektor Unair Prof Dr Fasichul Lisan bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan jajaran forum pimpinan daerah setempat.

Prof Fasichul Lisan mengatakan, kehadiran Unair di Banyuwangi ini untuk melengkapi instrumen pendidikan tinggi yang ada di Banyuwangi. Menurutnya, bersama-sama dengan perguruan tinggi lainnya yang telah ada di Banyuwangi, Unair ingin bersinergi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu berpikir global. “Ini merupakan kebijakan pemerintah pusat di mana Unair memang diajak untuk mempercepat penyuapan SDM guna menghadapi era global,” kata Fasich, sapaan akrab Rektor Unair.

Fasich mengatakan, Indonesia pada tahun 2030 akan mengalami bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif. "Bonus demografi adalah momentum emas. Generasi muda perlu dipersiapkan dengan landasan yang kokoh dan memiliki pijakan yang kuat. Kami hadir di Banyuwangi untuk memperkuat pijakan bersama-sama dengan perguruan tinggi lainnya. Kita bersama-sama menyelesaikan masalah bangsa dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kehadiran Unair Banyuwangi merupakan cita-cita lama dari rakyat Banyuwangi yang ingin memiliki perguruan tinggi negeri. Pemerintah daerah menyadari, untuk mendirikan universitas negeri baru membutuhkan proses yang panjang dan waktu lama. Jika nantinya Unair Banyuwangi ini akan menjadi universitas negeri sendiri, maka akan lebih cepat dan standarnya tidak akan jauh dari Unair yang telah ada di Surabaya.
“Ini adalah salah satu strategi pembangunan bidang pendidikan. Banyuwangi tidak hanya fokus pada pengembangan pariwisata dan pertanian, tetapi juga menyiapkan SDM yang berdaya saing,” ujar Anas.   

Saat ini, Unair Banyuwangi mempunyai empat program studi, yaitu akuntansi, budidaya perairan, kesehatan masyarakat, dan kedokteran hewan. Untuk tahun pertama ini, sebanyak 153 mahasiswa telah mengikuti perkuliahan. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Jambi, Lampung, Jakarta, Surabaya, Pontianak, Makassar, Bojonegoro, Kediri, Probolinggo, Jember, Cilacap, Flores, Kupang, Bali, sampai Papua.

"Ini melengkapi keberagaman Banyuwangi. Semoga ke depan budaya pendidikan kian terbentuk dan berdampak positif bagi pengembangan SDM lokal. Pengembangan SDM ini tidak boleh bergantung pada rezim. Siapa pun bupatinya, pengembangan SDM harus jalan terus. Melembagakannya dengan pendirian kampus menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan pengembangan SDM yang berkelanjutan," kata Anas.

Kehadiran Unair di Banyuwangi bisa menggerakkan ekonomi lokal. Ratusan mahasiswa menyewa pondokan, membelanjakan uang untuk kebutuhan sehari-hari, hingga berwisata di Banyuwangi. Pada tahun-tahun berikutnya jumlah mahasiswa akan semakin berlipat, sehingga pergerakan ekonomi kian besar. "Banyaknya mahasiswa dari luar kota berarti menarik uang dari luar untuk masuk ke Banyuwangi. Dalam beberapa tahun ke depan, dampak ekonominya akan cukup besar," tuturnya. 


Jpnn.com
5:46 PM | 0 comments | Read More

HUT Jatim, Banyuwangi Raih Empat Penghargaan

Banyuwangi Bagus on 15 October 2014 | 12:02 AM

Banyuwangi juara 1 penanaman satu miliar pohon se jatim.
Peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Jawa Timur menjadi kado tersendiri bagi Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini berhasil memboyong empat penghargaan sekaligus dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Keempat penghargaan tingkat regional itu adalah juara I Penanaman Satu Miliar pohon, Juara 3 tertib pemanfaatan jalan, perpustakaan inovatif, dan kabupaten sehat di Jawa Timur. Penghargaan itu diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat Puncak Peringatan HUT Provinsi Jatim yang digelar di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (12/10).

Mendapat banyak penghargaan Bupati Anas mengaku sangat senang. "Ini hasil kerja seluruh rakyat dan saya persembahkan untuk rakyat Banyuwangi. Selain itu menunjukkan bahwa sejumlah sektor pembangunan telah menjadi perhatian kami dengan seksama dan direspon positif oleh masyarakat. Mulai dari infrastruktur pemanfaatan jalan, bidang lingkungan, pendidikan dengan dukungan perpustakaannya, hingga kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar rakyat. Sekali lagi terima kasih kepada seluruh masyarakat Banyuwangi atas dukungannya,” kata Bupati Anas usai menerima penghargaan.

Secara khusus Anas menjelaskan keberhasilan menjadi jawara dalam penanaman satu miliar pohon karena adanya komitmen pemkab Banyuwangi yang ingin terus membangun dengan konsep Sustainable Development. Lewat Gerakan Sedekah Oksigen, pemkab dan masyarakat Banyuwangi bertekad menjadikan Banyuwangi yang lebih hijau, asri, dan nyaman sebagai tempat tinggal.

“Penghargaan di bidang lingkungan ini bukan tujuan akhir dari sebuah program pembangunan. Justru ini kami jadikan motivasi untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih hijau, sebuah daerah yang punya visi pembangunan berkelanjutan. Di antaranya melalui program inovasi kami Sedekah Oksigen, dan penanaman kembali sejumlah lahan kritis," kata Anas.

Sedekah Oksigen adalah gerakan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Pemkab Banyuwangi memulai dengan langkah yang paling mudah dan sederhana. Mulai dari setiap PNS minimal membawa satu tanaman di kantor, kalau naik pangkat wajib menyumbang dua pohon, orang bercerai harus sumbang tujuh pohon, hingga melibatkan para tokoh agama. Para tokoh lintas agama di Banyuwangi berkomitmen di setiap materi khutbahnya menyisipkan ayat-ayat dari kitab sucinya yang menganjurkan menjaga lingkungan sekitar.

Pembangunan taman dan ruang terbuka hijau pun dilakukan secara masif. Pengembang perumahan wajib menyediakan space untuk kawasan hijau minim 30 persen. Pemkab pun dalam membangun gedung mengedepankan konsep green building. “Kami bahkan tengah membangun green airportí, yang pertama di Indonesia,” ujar Anas.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan,dan Perkebunan Banyuwangi Ikhrori Hudanto mengatakan saat ini Banyuwangi telah menanam 24 juta pohon di seluruh kawasan. Mulai dari jenis pohon kehutanan seperti sengon, trembesi, mahoni, juga ada jenis hortikultura tanaman keras seperti durian, jeruk, hingga manggis.

"Itu semua ada yang dari swadaya masyarakat, juga ada yang CSR. Pemkab sendiri telah mengucurkan 40 ribu bibit di seluruh pedesaan. Kami juga secara kontinu menanami pinggir-pinggir sungai dan daerah mata air dengan tanaman,” jelas Ikhrori.

Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Banyuwangi sendiri tahun ini memperoleh predikat sebagai Perpustakaan Umum Inovatif Tahun 2014. Ini diperoleh lantaran inovasi lewat perpustakaan keliling roda duanya dianggap mampu meningkatkan minat baca masyarakat. Armada perpus mobile roda dua ini ada 32 motor yang tersebar di seluruh kecamatan Banyuwangi.

Sementara Gubernur Jawa Timur Soekarwo, memberikan apreasi yang setinggi-tingginya kepada Banyuwangi yang terus berbenah. Apa yang dicapai Banyuwangi bisa dijadikan contoh kabupaten-kabupaten lainnya,"kata Pakde Karwo.

HUT Jatim yang ke - 69 yang digelar pagi itu berlangsung marak. Sejumlah atraksi kesenian dari beberapa daearah di Jatim ditampilkan. Di akhir gelaran, Bupati Anas sempat surprise saat lagu Ulan Andhung-andung dilantunkan merdu oleh paduan suara.


Gatra.com
12:02 AM | 0 comments | Read More

Tata Ruang Banyuwangi Masuk 5 Terbaik Di Indonesia

Banyuwangi Bagus on 07 October 2014 | 9:48 PM

Kabupaten Banyuwangi masuk nominator 5 besar tata ruang terbaik di Indonesia.
Kabupaten Banyuwangi menjadi nominator pemenang penataan ruang terbaik di Indonesia berdasarkan penilaian dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu telah masuk lima besar Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD) Bidang Penataan Ruang versi Kementerian PU.

Banyuwangi masuk lima besar bersama empat kabupaten lainnya, yaitu Bangka (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung), Jepara (Jawa Tengah), Maros (Sulawesi Selatan), dan Sumbawa, NTB. Saat ini kelima kabupaten tersebut memasuki tahap penjurian untuk menentukan peringkat satu sampai lima. Peluang Banyuwangi untuk menjadi pemenang cukup besar mengingat sebelumnya pernah meraih penghargaan sejenis, yaitu Anugerah Pangripta Nusantara Utama 2014 dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai kabupaten/kota dengan perencanaan pembangunan terbaik,

Tahap penjurian ini diikuti dengan verifikasi di lapangan secara langsung. Tim Kementerian PU telah datang ke Banyuwangi belum lama ini dengan sejumlah juri, antara lain, pakar perencanaan dan tata ruang wilayah dari IPB Dr Ir Ernan Rustiadi; ahli pemberdayaan masyarakat yang merupakan Presiden Combine Resource Institution, Dodo Juliman; dan pakar perumahan dan permukiman yang merupakan dosen dan peneliti di Kelompok Keahlian Perumahan dan Permukiman dan Program Studi Arsitektur ITB Moh Jehansyah Siregar.

Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD) Bidang Penataan Ruang merupakan  penghargaan yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah sebagai upaya untuk mendorong pemerintah daerah meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam penyelenggaraan penataan ruang. Sejumlah kriteria penilaian antara lain soal rencana detail tata ruang, peraturan zonasi, serta perizinan pemanfaatan ruang.

Salah seorang dewan juri Ernan Rustadi mengatakan, Banyuwangi memiliki banyak kejutan yang berhasil mencuri perhatian tim juri. Meski menjadi  daerah paling ujung timur di Pulau Jawa ini, Banyuwangi dinilai mampu dan terus berupaya mewujudkan penataan ruang yang baik. ”Ada perhatian terhadap hal-hal detail. Terlihat kalau Banyuwangi  memiliki tata kelola yang baik dengan  standar yang cukup bagus,” kata Ernan.

Dia menjelaskan, tata kelola yang baik itu tecermin dari kemampuan memanfaatkan ruang publik dan jalur publik. Di antaranya kemampuan mempertahankan ruang publik dan menata PKL.
Sekretaris Kabupaten Banyuwangi Slamet Kariyono berterima kasih atas penilaian dari Kementerian PU. Banyuwangi memang menaruh perhatian serius dalam melakukan penataan ruang. Setiap wilayah memiliki zonasi yang jelas.

Di wilayah utara, misalnya, yang merupakan kawasan perhotelan, bangunan tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa. ”Dalam penataan ruang kita juga memperhatikan  keseimbangan lingkungan,” ujar Slamet.

Banyuwangi juga terus menambah ruang-ruang publik berupa ruang terbuka hijau (RTH) yang dilengkapi dengan taman memadai, fasilitas wifi, taman bermain anak, arena olahraga, food court, dan panggung kesenian.


Jpnn.com
9:48 PM | 0 comments | Read More

4 Tahun Beroperasi, Bandara Blimbingsari Naik Kelas III

Banyuwangi Bagus on 05 October 2014 | 10:20 PM

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, naik status. Dalam tempo sekitar 4 tahun, bandara yang menjadi kebanggaan warga Bumi Blambangan itu naik kelas dua strip langsung dari kelas V menjadi kelas III.

Menurut Kepala Bandara Blimbingsari Andy Hendra Suryaka, berdasar Permenhub Nomor PM 40 Tahun 2014 tentang organisasi dan tata kerja kantor unit penyelenggara bandar udara tanggal 12 September 2014, kelas Bandara Blimbingsari naik dua tingkat dari semula kelas V menjadi kelas III.

"Ini adalah bentuk apresiasi pemerintah pusat, dalam hal ini Kemenhub, terhadap perkembangan Bandara Blimbingsari yang begitu pesat," ujarnya, Sabtu (4/10).

Selain perkembangan jumlah maskapai dan penumpang, kata Andy, pembangunan sarana dan prasarana penunjang berperan terhadap peningkatan kelas bandara tersebut. Saat ini Pemkab Banyuwangi tengah membangun terminal baru Bandara Blimbingsari. Pembangunan tahap pertama terminal yang mengusung konsep green airport tersebut direncanakan rampung akhir tahun ini.

Andy menyatakan, peningkatan kelas Bandara Blimbingsari tergolong sangat cepat. Hanya dalam tempo sekitar tiga tahun. Dia menyebutkan, suatu bandara biasanya baru bisa naik status dari kelas V (bandara baru beroperasi) menjadi kelas IV dan naik menjadi kelas III setelah 20–25 tahun beroperasi.

"(Naiknya kelas) ini berkat dukungan dan kepercayaan masyarakat yang memanfaatkan jasa penerbangan melalui bandara kebanggaan kita bersama ini,’’ jelasnya.

Bandara Blimbingsari mulai dibuka untuk penerbangan komersial pada Desember 2010. Awalnya, pesawat yang melayani penerbangan adalah Grand Garavan. Kapasitas kursi penumpang pesawat yang dioperasikan PT Sky Aviation itu hanya sembilan seat, lalu ditingkatkan dengan pesawat Fokker-50 berkapasitas 48 seat. Sky Aviation melayani rute Denpasar–Banyuwangi pergi pulang (pp) dan Banyuwangi–Surabaya pp.

Pada 24 Agustus 2011, giliran maskapai Merpati Airlines yang membuka rute Banyuwangi–Surabaya dengan pesawat jenis MA-60 berkapasitas 60 seat. Sejak 20 September 2012, Wings Air menerbangi Banyuwangi dengan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas 70 seat. Belakangan Garuda Indonesia menerbangi Banyuwangi mulai 1 Mei 2014.

Jpnn.com

10:20 PM | 0 comments | Read More

Tradisi Tumpeng Sewu, Merawat Kearifan Lokal Banyuwangi

Banyuwangi Bagus on 26 September 2014 | 12:35 AM

Tradisi Tumpeng Sewu desa Kemiren, Banyuwangi.Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (25/9) menggelar tradisi Tumpeng Sewu. Tumpeng Sewu adalah ritual adat selamatan massal yang digelar di Desa Kemiren, salah satu basis Osing, masyarakat asli Banyuwangi. Tujuannya, bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahanan yang mereka terima.

Tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala (menghindarkan dari segala bencana dan sumber penyakit). “Kalau ritual itu ditinggalkan, maka akan berdampak buruk kepada masyarakat Desa Kemiren, sehingga warga Osing menjaga tradisi itu hingga turun temurun,” kata sesepuh adat Desa Kemiren, Juhadi Timbul.

Ritual tumpeng sewu ini ditandai dengan kegiatan di mana setiap rumah membuat nasi dalam bentuk kerucut dengan lauk pauk khas Osing, yakni pecel pithik (ayam panggang dicampur kelapa). Makanan itu lantas ditaruh di depan rumah.

Bentuk mengerucut ini memiliki makna khusus, yakni petunjuk untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, di samping kewajiban untuk menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sementara pecel pithik mengandung pesan moral yang bagus, yakni "ngucel-ucel barang sithik". Dapat juga diartikan mengajak orang berhemat dan senantiasa bersyukur.

Dengan diterangi oncor ajug-ajug (obor bambu berkaki empat), Tumpeng Sewu ini menjadi sebuah ritual yang khas dan tetap sakral. Sebelum makan bersama, warga Desa Kemiren mengawalinya salat maghrib berjamaah dan doa bersama. Usai makan bersama, warga membaca Lontar Yusuf (Surat Yusuf) hingga tengah malam di rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Lontar Yusuf yang merupakan rangkaian dari ritual ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf.

Melengkapi tradisi Tumpeng Sewu, pada siang hari, warga desa melakukan ritual menjemur kasur (mepe kasur) secara masal. Uniknya, semua kasur yang dijemur berwarna hitam dan merah. Warga Suku Osing beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur, sehingga mereka menjemur kasur di halaman rumah masing-masing agar terhindar dari segala jenis penyakit. Penjemuran kasur ini bisa ditemui di sepanjang jalan Desa Kemiren, mulai pagi hingga sore. "Juga akan digelar selamatan desa di makam Buyut Cili, leluhur desa," kata dia.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, tradisi Tumpeng Sewu ini bagian dari upaya merawat tradisi. "Kearifan lokal yang harus terus dirawat. Kearifan lokal sejatinya menyangga dan mendukung jalannya kehidupan ini," kata Azwar Anas.
Gatra.com
12:35 AM | 0 comments | Read More