BANYUWANGI USULKAN JEMBATAN SELAT BALI

Banyuwangi Bagus on 06 July 2012 | 10:14 PM

Jembatan Suramadu
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengusulkan kepada pemerintah pusat agar segera membangun Jembatan Selat Bali yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali. Jembatan ini nantinya akan seperti Jembatan Suramadu di Selat Madura yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banyuwangi, Mujiono, mengatakan jembatan tersebut perlu segera dibangun. Pasalnya, tingkat kepadatan kendaraan yang akan menyeberang ke Bali maupun sebaliknya semakin meningkat.

Alasan lainnya, dalam tiga tahun terakhir lalu lintas kapal yang melayani penyeberangan melalui Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk juga sudah sangat padat. Sementara jumlah dermaga terbatas. "Jika sebelumnya jarak tempuh penyeberangan hanya 30 menit, sekarang sudah 1 jam," kata Mujiono di Banyuwangi, Kamis, 5 Juli 2012.

Menurut dia, tidak adanya alternatif jalur transportasi selain laut mengakibatkan sering terjadinya antrean panjang kendaraan di pelabuhan. Apalagi saat pelabuhan terpaksa ditutup akibat cuaca buruk. Hal ini, kata dia, mengakibatkan sektor ekonomi terhambat.

Sejak Selasa-Rabu, kemarin, Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk ditutup hampir 10 jam karena cuaca buruk. Akibatnya ribuan kendaraan di Ketapang mengular hingga mencapai 6 kilometer.

Ketua Komisi Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyuwangi, Zaenal Arifin Salam, mendukung usulan pemerintah kabupaten membangun jembatan Selat Bali. Menurut dia, jembatan tersebut nantinya akan mendongkrak sektor ekonomi dan pariwisata. "Dari segi keamanan juga lebih aman memakai jembatan ketimbang laut," kata dia.

Menurut Zaenal, DPRD secara kelembagaan akan ikut mendesakkan pembangunan jembatan ini kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

Sumber : Tempo.co 

MENINGKATKAN PEREKONOMIAN 5%

Antrean pengendara motor menyeberang di 
Pelabuhan Ketapang menuju ke Bali






Dua pakar yang membidangi perekonomian mendesak, agar pemerintah mempercepat rencana pembangunan Jembatan Jabal (Jawa-Bali) yaitu di Selat Bali. Jembatan yang bakal menghubungkan akses Jawa Timur dan Pulau Bali tersebut merupakan sesuatu yang memiliki urgenitas tinggi.

Achmad Solihin, Pakar Ekonomi Pembangunan dai Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, dengan adanya jembatan Jabal maka distribusi perekonomian tersebut akan menjulang hingga kisaran 5 persen. Namun, hitungan kasar tersebut tetap harus mendapat dukungan daya infrastruktur yang memadahi.“Karena biaya yang dikeluarkan untuk membangun jembatan Jabal jauh lebih mahal dibanding jembatan Suramadu. Jadi, untuk awalan saya prediksi ekonomi bisa meningkat pada kisaran 2-3%,” ulas Solihin, Sabtu (7/7).
 Pembangunan jembatan Selat Bali diperkirakan membutuhkan dana Rp 10 triliun

Ditambahkan, jembatan Jabal akan bisa mengurai kepadatan arus barang dan orang yang akan menuju dua wilayah terpisah. Sebab, hingga saat ini arus distribusi barang yang selalu menumpuk dengan jadwal tunggu, bisa langsung terakomodir dengan terbangunnya jembatan Jabal.

Pendapat hampir sama juga disampaikan oleh pakar Ekonomi Pembangunan, Tjuk Sukiadi. “Ya, karena jembatan itu tidak hanya akan menghubungkan akses Jawa Timur dengan Bali saja, melainkan sampai wilayah Flores,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, dengan terbangunnya jembatan tersebut semakin memaksimalkan ekonomi yang menggeliat di kawasan Banyuwangi. Selama ini, potensi yang memberikan pasokan bagi kegiatan di masyarakat pusat ekonomi regional belum tergarap maksimal. “Tapi, sebelum rencana itu dilakukan, yang harus dipikirkan adalah akses menuju jembatan,” ingat Tjuk.

“Jembatan Jabal akan semakin menjadikan Jawa Timur sebagai pusat perdagangan Indonesia Timur yang tersingkronisasi dengan kegiatan yang terjadi di pula Bali, Lombok dan akses Indonesia Timur. Biaya bisa sampai Rp 10 triliun,” sambung Tjuk.

Kisaran anggaran pembangunan jembatan Jabal itu tampaknya sesuai dengan kondisi geografis dan alam di laut Bali. Pasalnya, untuk membangun jembatan Jabal butuh tiang pancang yang lebih kuat dengan konstruksi beban yang sebanding dengan ombak di Selat Bali.
“Itu biaya kisaran yang dipadankan dengan kondisi alam dan laut di Selat Bali. Tapi, maaf, itu masalah teknis, dan ini hanya kisaran saja. Karena saya tidak membidangi masalah teknik,” katanya.

Selain itu, perlu adanya konsep matang sebelum memancang tiang pembangunan jembatan Jabal. Pasalnya, jembatan Jabal jauh berbeda dengan jembatan Suramadu yang saat ini menghubungkan Surabaya dengan Madura. “Cakupannya lebih luas dan lebih memadahi untuk perekonomian secara makro dan lokal,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan jembatan di Selat Bali sangat mendesak. Desakan itu muncul akibat ‘tradisi’ antrean di Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi)-Gilimanuk (Jembrana) kala cuaca buruk terutama gelombang tinggi menghentikan penyeberangan. Seperti yang terjadi dalam dua hari terakhir, kala ombak 5 meter menghadang, kendaraan macet hingga 10 kilometer (km).

Bahkan dalam kondisi cuaca normal, dalam tiga tahun terakhir lalu lintas kapal sudah sangat padat dan jumlah dermaga terbatas. "Jika sebelumnya jarak tempuh penyeberangan hanya 30 menit sekarang sudah 1 jam," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banyuwangi, Mujiono.
Menurut dia, tidak adanya alternatif jalur transportasi selain laut mengakibatkan sering terjadinya antrean panjang kendaraan di pelabuhan. Apalagi saat pelabuhan terpaksa ditutup akibat cuaca buruk. Hal ini, kata dia, mengakibatkan sektor ekonomi terhambat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf juga turut mendukung usulan Pemerintah Kota Banyuwangi kepada Kementrian Pekerjaan umum untuk  merealisasikan pembangunan jembatan yang menghubungkan Jawa Timur dengan Bali tersebut. “Sepanjang memungkinkan, secara teknis dan politis itu (pembangunan jembatan Jabal) sangat bagus,” ujarnya.


 Sumber : Surabayapost

Terima kasih telah membaca artikel: BANYUWANGI USULKAN JEMBATAN SELAT BALI

Artikel Terkait:



0 comments:

Post a Comment